English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Rabu, 22 November 2017

HUT Yogyakarta dan Mimpi yang Tertunda

HUT Yogyakarta dan Mimpi yang Tertunda
07 Oktober 2011


Oleh: Yusuf Efendi *

Kota Yogyakarta kini telah genap berusia 255 tahun, umur yang cukup lama bagi sebuah kota yang memiliki sejarah dan peradaban yang teramat panjang. Selama melakoni peran sebagai Kota Budaya dan Kota Pendidikan, Yogyakarta telah mengalami banyak kemajuan. Dalam rangka perayaan hari jadi Kota Yogyakarta, digelarlah berbagai acara keramaian di sejumlah lokasi.

Acara yang paling menjadi perhatian adalah pawai mozaik yang digelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta yang diikuti oleh beberapa elemen masyarakat, termasuk anggota TNI dan Kepolisian, para lurah dan camat, pedagang pasar, dan komunitas sepeda. Selain itu, dihelat juga atraksi dari para personil TNI, seperti pergelaran kendaraan tempur dan atraksi terjun payung. Kehadiran personil prajurit TNI itu sekaligus untuk merayakan hari ulang tahun TNI yang diperingati setiap tanggal 5 Oktober.

Ibarat pepatah “tak ada gading yang tak retak”, di usianya yang sudah terbilang mapan, Kota Yogyakarta masih menyisakan berbagai persoalan yang harus segera dibenahi demi menjaga citra kota yang sangat berperan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia ini. Salah satu pekerjaan rumah yang menjadi tugas para pemangku pemerintahan kota dan seluruh elemen masyarakat Yogyakarta adalah mengenai tata kota dan tata cara pemasangan reklame di banyak tempat di Kota Yogyakarta. Hingga hari ini, papan iklan dan reklame yang tidak teratur, bahkan merusak pepohonan yang dijaga keberadaannya, masih bisa dengan mudah ditemui.

Imajinasi Kota Hijau

Selain menyandang predikat sebagai Kota Budaya dan Kota Pendidikan, Kota Yogyakarta mulai berbenah untuk menjadi kota hijau. Demi terwujudnya tujuan ini, sejumlah program telah dijalankan, antara lain program menanam pohon di sepanjang jalan kota, membuat jalur khusus untuk sepeda, menjadikan sepeda sebagai kendaraan untuk bekerja (Sego Segawe), serta menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

Selain bertujuan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota hijau, program ini menjadi aksi nyata untuk menentang pemanasan global. Di sisi lain, program ini merupakan upaya untuk mengurangi dampak polusi udara yang semakin parah melanda kota-kota besar, termasuk Yogyakarta. Lahan untuk menanam pohon kian sempit karena digunakan sebagai ruang usaha demi pertimbangan materi semata. Polusi udara adalah ancaman bagi kehidupan yang harus segera ditindaklanjuti solusinya. Bagi Kota Yogyakarta, pencapaian sebagai kota hijau masih menjadi mimpi yang tertunda.

Ancaman bagi kehidupan sebenarnya justru muncul dari manusia sendiri. Banyak orang yang abai dengan upaya penghijauan dengan memperlakukan pepohonan yang ditanam di pinggir jalan dengan semaunya. Banyak pepohonan yang dijadikan sebagai ruang beriklan dengan tidak memikirkan kelestariannya. Orang-orang yang tidak bertanggungjawab memperlakukan pohon dengan sembarangan. Mereka menancapkan paku atau kawat yang tajam untuk memasang papan iklan. Bahkan, kita bisa menemukan puluhan paku atau kawat yang ditancapkan di satu batang pohon.

Hal ini tentunya akan mengancam kehidupan pohon tersebut, bahkan bisa mengakibatkan pohon yang telah ditanam dengan susah payah itu mati. Tidak hanya pohon, rambu-rambu lalu lintas dan tiang-tiang besi yang ada di sepanjang jalan juga tidak luput dari aksi kotor itu. Di hampir seluruh ruas jalan besar di Kota Yogyakarta, rambu-rambu lalu lintas ditempeli dengan beragam iklan yang merusak pandangan mata.

Kontrol Masyarakat dan Pemerintah

Bisakah perilaku merusak lingkungan hidup itu dicegah? Tentu saja bisa. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan partisipasi masyarakat untuk melarang pemasangan iklan di pepohonan di tepi jalan. Semangat untuk hidup bersama di Yogyakarta yang hijau harus ditanamkan di hati setiap anggota masyarakat.

Namun, demi mewujudkannya, tentu saja juga diperlukan perhatian dan ketegasan pemerintah kota untuk membuat peraturan yang efektif dan tepat sasaran. Antara masyarakat dengan pemerintah perlu bekerjasama dan tidak saling lempar tanggungjawab. Kerjasama antara masyarakat dan pemerintah ini sangat penting karena lingkungan yang nyaman adalah kebutuhan bersama. Demi membangun masyarakat yang sadar lingkungan, tindakan tegas namun tetap mendidik dirasa perlu untuk diterapkan.

Di tengah kemajuan yang diperoleh Kota Yogyakarta selama ini, kesadaran lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Oleh karena itu, pada peringatan HUT Kota Yogyakarta yang ke-257 ini, kami segenap kru www.jogjatrip.com sebagai salah satu elemen yang turut berkehidupan di kota tercinta ini mengucapkan selamat dan sukses sekaligus memberikan dorongan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta agar terus menggalakkan program kesadaran lingkungan yang selama ini sudah berjalan. Dirgahayu Kota Yogyakarta!

 
* Redaktur www.jogjtrip.com


Dibaca : 2443


Share




Opini lainnya


OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.373
     Hari ini: 9.913
     Kemarin : 10.578
     Minggu lalu : 65.955
     Bulan lalu : 320.012
     Total : 11.659.273
    Sejak 20 Mei 2010