English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 28 Juli 2014

Pentas Kuda Lumping, Seni Pinggiran yang Membawa Misi Lingkungan

Pentas Kuda Lumping, Seni Pinggiran yang Membawa Misi Lingkungan

Pentas Kuda Lumping di Nitiprayan
Share





03 Oktober 2010

Bantul, Jogjatrip.com  - Hujan baru saja turun dan cuaca malam itu berubah menjadi cerah, dari kejauhan sayup terdengar suara alunan musik gending yang ramai. Ada suasana berbeda di Kampung Nitiprayan, Ngestiharjo, Bantul, Sabtu malam (2/10). Tidak seperti biasanya, masyarakat sekitar mendapat hiburan gratis di malam Minggu berupa pentas kuda lumping yang menjadi salah satu hiburan tradisi yang mampu menyedot perhatian masyarakat pada malam itu. Tidak hanya itu, musik tradisional Gejog Lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu pun membuat suasana semakin ramai dan hangat.

Pentas Kuda Lumping yang merupakan seni pinggiran dari Ponorogo Jawa Timur ini memang sangat jarang ditampilkan di kampung-kampung. Kali ini pelaku seni di kawasan Nitiprayan mencoba memperkenalkan dan mempertunjukkan kesenian yang merupakan sempalan dari Reog Ponorogo ini di tengah masyarakat Ngestiharjo, Bantul. “Kesenian ini ibaratnya sebuah sempalan dari reog, dan ini hidup di kampung-kampung yang masih sangat tradisi. Bedanya kalau reog lengkap dengan merak, tetapi kalau ini kan hanya sempalannya, “ kata Ong Hari Wahyu, penyelenggara pentas Kuda Lumping ini.

Pentas Kuda Lumping yang dimainkan Kelompok Seni Jaranan Thik Ponorogo ini ditampilkan melalui fragmen dengan alur ceritanya yang mengambil lakon “Telogo Ngebel” yaitu cerita tentang telaga dan isu sampah plastik. Menurut Ong, kesenian kuda lumping ini merupakan kesenian kontemporer yang sudah mengambil isu kekinian seperti saat ini yang mengambil tema sampah plastik yang dijadikan topik.

Mengapa kesenian ini ditampilkan di Yogyakarta khususnya di Nitiprayan, kata Ong Hari Wahyu, seorang yang ketamon, karena ada trans cultural antara Jogja dengan Ponorogo, budaya Jawa Tengah dengan Jawa Timur. “Kami hanya ingin menunjukkan bahwa ada kesenian dari Jawa Timur, yang patut dilestarikan dan kesenian tradisi ini sangat sadar untuk mengkomunikasikan,dan mengkampanyekan ekologi seperti sampah plastik,” ujarnya kepada Jogjatrip.com disela-sela acara.

Pertunjukkan seni yang seringkali digelar di Yogyakarta termasuk seni tradisi, kata Ong, sampai saat ini masih sebatas tradisi yang belum berani menggandeng isu kontemporer. “Kalau di Jogja saya melihat seni tradisi masih sebatas tradisi belum sampai pada isu kontemporer,” ungkapnya.

Pentas Kuda Lumping Jaranan Thik ini sendiri membawa  misi ekologi atau lingkungan, bahkan kuda lumping yang digunakan pun membawa plastik-plastik bekas limbah yang tidak bisa hancur. Kelompok Kesenian asli Ponorogo yang sebagian besar adalah petani ini mengajak masyarakat untuk sadar lingkungan dan Kelompok Seni Jaranan Thik ini berusaha untuk mengkomunikasikan bahwa plastik itu jahat.**(Eko Wahyu)


Dibaca : 1002

OBYEK WISATA