English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Selasa, 25 Juli 2017

‘Sang Tetuko’ Jagonya Para Dewa Melawan Angkaramurka

‘Sang Tetuko’ Jagonya Para Dewa Melawan Angkaramurka

Suasana latihan Sang Tetuko di Gambirsawit (Foto: Trasmara)
Share






26 Mei 2015

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Meski masih bayi, Sang Tetuko tak mudah ditaklukan oleh prajurit dari Gilingwesi. Bahkan Sang Tetuko menjadi besar dan mengobrak-abrik prajurit yang dipimpin Sekipu. Raja Gilingwesi Nogo Pracono yang menginginkan putri dari kayangan itu tewas oleh Sang Tetuko yang kemudian beralih nama dengan Gatotkaca. “Ini merupakan gambaran masa kini dimana para generasi muda yang benar-benar belajar dan penuh semangat bisa menghasilkan karya yang dibanggakan dalam memecahkan masalah,” kata Tukiran, sutradara dan penulis lakon ‘Sang Tetuko’ yang ditemui Jogjatrip, Senin (25/5) di tempat latihan di Sanggar Gambirsawit, Joyonegaran.

‘Sang Tetuko’ kisah heroik ini akan dipentaskan oleh wayang orang Panca Budaya dan akan digelar di Balai Desa Widomartani, Ngemplak, Sleman pada Kamis (28/5) malam. Pagelaran berdurasi 2,5 jam ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY dan para seniman wayang orang dari empat kabupaten dan kota di DIY. “Ini program rutin tiap bulan Panca Budaya mengenalkan seni tradisi supaya tidak punah,” ujar Agus Setiawan, Pimpinan Panca Budaya.

Untuk mendukung lakon Sang Tetuko dipilih para pemain handal dari berbagai daerah seperti Rahmad Santoda, Sarjiwo, Yestriono, Samiaji, Widodo Kustantiyo, Slamet, Yoyok, Stefanus Dalijo, Anter Asmaratejo, Damarwulan Herida, Rini Widyastuti, Teofani, Isti Sri Rahayu, Paryati, Dewo Dewi, Barbara, Hartatik, Lestari, Ganggas (pemain cilik), Sunardi dan Tejo Badut. “Untuk pentas ini latihan dilakukan enam kali disini,” kata Tukiran yang biasa didapuk jadi Kresna.

‘Sang Tetuko’ dimulai dari keinginan Prabu Naga Pracono dari negara Gilingwesi yang berniat memperistri putri dari kayangan. Tentu saja Batara Guru tidak mengizinkan, maka terjadilah peperangan dan para dewa kalah. Prajurit dari Gilingwesi yang dipimpin Sekipu menunggu di pintu kayangan. Semantara itu para dewa mencari jago untuk mengalahkan angkara murka. Kebetulan sekali Dewi Arimbi, istri Werkudoro melahirkan tapi pusernya tak bisa dipotong. Senjata yang bisa memotong adalah Kunto Wijoyodanu milik Suryatmojo. Untuk meminjam senjata ini Permadi dan Suryamojo harus mengadu kesaktian. Permadi hanya mendapatkan kerangka senjata Kunto, tapi itu sudah bisa memotong pusar bayi yang diberi nama Sang Tetuko.

Lewat gemblengan para dewa, Sang Tetuko yang dimasukan dalam kawah Candradimuka menjadi sakti dan bisa mengalahkan Naga Pracono sampai tewas. Atas kemenangan itu, Werkudoro ayahnya, memberi nama Gatotkaca, sedangkan Prabu Kresna memberi nama Kacanegoro dan Batara Narodo memberi nama Krincing Wesi. *** (Teguh R Asmara)


Dibaca : 119

OBYEK WISATA