English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Selasa, 25 Juli 2017

Lakon ‘Kembang Watu’ Hidupkan Kethoprak Pendapan

Lakon ‘Kembang Watu’ Hidupkan Kethoprak Pendapan

Ari Purnomo (Foto: Trasmara)
Share






15 Mei 2015

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Dari berbagai macam kethoprak yang berkembang saat ini, kethoprak pendapan mendapat perhatian khusus dari Dinas Kebudayaan DIY. Untuk itu, kethoprak pendapan yang memiliki kaidah-kaidah tertentu, akan digelar oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan lakon ‘Kembang Watu’ di Pendapa Dinas Kebudayaan DIY, Jl. Cendana 11 Yogyakarta pada Jumat (15/5) malam. “Naskah asli dari Pak Widayat dengan judul Retno Dumilah ini saya ubah menjadi Kembang Watu,” kata Ari Purnomo sutradara Kembang Watu, Selasa (12/5) di Dinas Kebudayaan DIY.

Dijelaskan oleh sutradara, untuk menggarap kethoprak pendapan yang didukung oleh para pemain kethoprak senior dan generasi muda dari empat kabupaten dan satu kota, akan  dilakukan konvensional dan garapan. “Saya akan menggunakan lesung sebagai instrumental untuk menandai konvensional dan  garapan menggunakan gending slendro dan pelog,” ucap Ari.

Untuk main kethoprak pendapan, para pemain harus dituntut bisa jadi perhatian tiga penjuru karena merupakan pertunjukan arena. Pendapa akan digunakan semaksimal mungkin untuk area pentas. Tapi Ari Purnomo cukup hati-hati untuk menangani kethoprak pendapan. Ada kaidah-kaidah tertentu yakni harus main di pendapa, menggunakan bahasa Jawa, tidak menggunakan backdrop, gendingnya klasik dan konvensional, kostum cenderung meniru wayang orang.

Pagelaran ini dimaksudkan untuk pengenalan nilai-nilai luhur budaya tradisi bagi generasi muda serta memberi ruang apresiasi dan ekspresi khususnya seniman kethoprak di DIY. Para pemain ‘Kembang Watu’ antara lain Sarjono, Tuminten, Yunanto, Brury, Purwoto, Sugeng Surono , Irwin dan puluhan pemain muda yang berjumlah 30 orang.

Pertunjukan berdurasi 1,5 jam ini bercerita tentang P. Senopati menyerang Madiun. Di Madiun itu P. Senopati bertemu dengan Retno Dumilah. Dalam beberapa peperangan akhirnya P. Senopati bisa mengalahkan Madiun.

Menurut Bondan Nusantara, pemerhati kethoprak, embrio kelahiran kethoprak pada tahun 1887 di Bantul. Kemudian dibawa ke Solo dan dipentaskan di pendopo tapi dilarang oleh Belanda tahun 1921 karena Belanda menilai kethoprak sebagai alat propaganda. Tahun 1925 kethoprak dipentaskan lagi di Pasar Demangan Yogyakarta. “Kethoprak pendapan memang mengalami pasang surut, dan kini digalakan lagi,” ujar Bondan. *** (Teguh R Asmara)

 


Dibaca : 109

OBYEK WISATA