English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 23 September 2017

Oedipus Karya Sophocles Pentas dalam Kethoprak

Oedipus Karya Sophocles Pentas dalam Kethoprak

Wahyana Giri sedang latih para pemain Sang Nata. (Foto: Trasmara)
Share






02 Mei 2015

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Mata Sang Nata berdarah. Raja dari Bondronegoro ini mencukil matanya sendiri dan berlari di tengah rakyatnya. “Saya akan lengser keprabon dan pilihlah raja sesuka kalian.” Itu kata-kata penutup dari pentas kethoprak garapan Dewan Kesenian Yogyakarta yang berjudul ‘Sang Nata’. Naskah karya Bakdi Sumanto ini merupakan adapsi dari lakon Oedipus karya Sophocles yang akan dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 4-5 Mei 2015. “Naskah ini memiliki karakter yang beruba-ubah terutama pada peran Sang Nata. Kadang lembut, romantis tapi juga penuh kesombongan dan congkak,” kata Wahyana Giri MC, sutradara Sang Nata ketika ditemui Jogjatrip, Jumat (30/4) menjelang latihan di TBY.

Tidak aneh jika Giri selalu ekstra dalam melatih Zordi yang memerankan Sang Nata. Peran ini sangat berat dan perlu ketelitian. Untuk mewujudkan Sang Nata yang digarap searah kethoprak ini, Giri juga menemui kendala lain yaitu harus ada tembang. “Latihan hampir dua bulan sejak Maret 2015 ini memang menguras tenaga dan melibatkan puluhan pemain dari generasi muda,” ujar Giri.

Sang sutradara Giri dibantu Asisten Sutradara Udik Suprianta dengan penata musik Ki Edi Indartono, penata artistik Agus Fatwa dan supervisor Puntung CM Pudjadi. Sementara itu, pemain yang terlibat adalah: Zordi, Watik Wibowo, Daru Maheldaswara, Daning, Bambang KSR, Anes Prabu Sajarwo, Septin Lovenia, Zibung, Pardiman Djoyonegoro, Rabies dan Retno Astiwi. Acara kesenian ini dapat disaksikan untuk umum dan gratis.

‘Sang Nata’ menceritakan raja dari Bondonegoro yang memiliki putera bernama Denmas Jenthu yang diramal oleh ahli nujum, kelak akan membunuh ayahnya sendiri. Anak itu diminta untuk dibunuh. Namun, oleh pengawalnya bernama Harimurti, Denmas Jenthu hanya dibuang di daerah tanah Pasundan. Anak itu diberikan pada Dewi Anggraeni dan seterusnya diberikan pada Ratu Mespati di kerajaan Tirto Kandangan.

Denmas Jenthu melarikan diri karena ramalan Ny. Kebroh bahwa ia akan membawa petaka. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan rombongan berkereta. Denmas Jenthu dicabuk karena menghalangi jalan. Karena marah, Denmas Jenthu membunuh rombongan tersebut. Ternyata yang dibunuh itu ayahnya. Demikian juga Dewi Astra, istri yang dipersunting ternyata ibunya. Karena mata tidak bisa melihat kebenaran dan telinga tidak bisa mendengar kebaikan, maka Sang Nata mencukil matanya sendiri dengan keris. ***  (Teguh R Asmara)

 


Dibaca : 227

OBYEK WISATA