English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Selasa, 25 Juli 2017

Penonton Histeris Saksikan Jatilan ‘Ndadi’

Penonton Histeris Saksikan Jatilan ‘Ndadi’

Pemain jatilan Sri Mudha Budaya mulai kesurupan (Foto: Trasmara)
Share






20 April 2015

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Biasanya jatilan kalau kesurupan atau ‘ndadi’ memakan beling dan buah kelapa. Namun, berbeda untuk jatilan Sri Mudha Budaya dari Krebet Sendangsari, Pajangan, Bantul, ketika kesurupan, bukan saja memakan sayur-sayuran, tetapi juga memakan ayam kecil yang masih hidup yang dipotong-potong oleh para pemain. Tentu saja adegan itu membuat para wanita terutama ibu-ibu yang melihatnya menjerit dan miris. Ini terjadi pada pentas atraksi kesenian tradisional di Alun-alun Sewandanan Puro Pakualaman, Minggu (19/4) siang.

“Adegan sadis itu seharusnya tidak perlu terjadi di pentas kesenian tradisi dan harus dihentikan,” ujar Puntung CM Pudjadi, sutradara teater dan pemerhati kesenian tradisional ketika dimintai pendapat.

Jatilan Sri Mudha Budaya yang lahir tahun 1970, tampil dua babak. Babak pertama, menampilkan 10 pemain laki-laki berusia di atas 50 tahun. Sementara babak kedua, menampilkan jatilan para remaja dalam formasi garapan. “Jatilan Sri Mudha Budaya merupakan jatilan klasik yang jarang ditemui. Mereka pentas di sini setelah direkomendasi oleh sebuah tim dari Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Kebudayaan DIY,” kata RM. Donny Surya Megananda, Penanggung Jawab Pentas Kesenian Tradisi yang ditemui Jogjatrip.

Pentas kesenian tradisional yang didukung oleh Dinas Pariwisata DIY itu digelar dua kali dalam sebulan, yakni pada hari Minggu pagi sampai sore. Kesenian yang ditampilkan adalah berbagai macam kesenian tradisi dari DIY. “Hari ini tampil dua grup jatilan dari Krebet dan jatilan Sido Dadi dari Kulon Progo,” tandas Donny yang juga Pimpinan Museum Wayang Kekayon.

Untuk menyembuhkan para pemain jatilan yang kesurupan ada 4 pawang yang bertugas menyembuhkan. Namun, seorang pemain yang makan ayam hidup-hidup itu sangat sulit disembuhkan.  Setelah semua pawang turun tangan, pemain itu baru tersadar. Yulianto yang juga perajin kayu batik di Krebet mengakui adegan makan ayam hidup itu bisa diganti dengan benda lain. “Lain kali saya perintahkan tidak diulang,” tandasnya.

Selama ini jatilan Sri Mudha Budaya pentas di daerah Bantul. Kalau di Krebet sendiri biasanya untuk menyambut para wisatawan yang mengunjungi Desa Batik Kayu. Untuk mengembangkan jatilan itu, Sri Mudha Budaya tahun 2014 meregenerasi pemain muda. Pemainnya ada yang siswa SMP dan SMA. ***(Teguh R Asmara)

 


Dibaca : 184

OBYEK WISATA