English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 23 September 2017

Menerawang Anak dalam Kandungan pada Lukisan Puisi Melia

Menerawang Anak dalam Kandungan pada Lukisan Puisi Melia

Melia Tri Pamungkas dengan hasil lukisannya (Foto: Trasmara)
Share






09 April 2015

Yogyakarta, Jogjatrip.com – Menuangkan puisi dalam lagu itu sudah biasa. Tapi mengekspresikan puisi dalam lukisan perlu kerja keras. Bagi Melia Tri Pamungkas membuat lukisan dari makna puisi hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam di hadapan para mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (8/4) malam. Gadis kelahiran Purbalingga 12 Mei 1994 ini tampil dalam lukis puisi di Forum Apresiasi Sastra (FAS) yang ke 45 diselenggarakan oleh LSBO (Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga) PP Muhammadiyah.

“Saya melukis sejak SD. Sekarang ini saya banyak membuat sket wajah atas permintaan pemesan. Sementara melukis bebas biasa dilakukan sebulan sekali,” kata Melia Tri Pamungkas ketika ditemui Jogjatrip usai melukis.

Tema yang diambil Melia adalah puisi yang bernuansa perempuan. Ia mengambil puisi ‘Catatan Seorang Ibu’ karya Evi Idawati. Melalui dua kanvas ukuran masing-masing 60 X 60 cm, di kanan-kiri kanvas tersebar koran yang ditempel di dinding. Dengan menggunakan cat pilok berwarna-warni dan cat minyak, Melia menebarkan cat pilok di sisi kanan kiri kanvas. Kadang-kadang menggunakan tangan untuk menempelkan cat.

Melia menjelaskan dua kanvas melukiskan seperti kehidupan manusia yang hidup berpasangan. Dua kanvas yang dilukis itu jika ditempelkan bersambung akan menjadi kesatuan lukisan bercorak abstrak. Siapapun yang memiliki lukisan itu harus merawatnya dengan hati-hati dan tak bisa dipisahkan. “Di bagian kanvas bawah itu merupakan anak dalam kandungan dengan torehan cat warna merah dan hitam,” ucapnya.

Lukisan puisi yang bahan materialnya dari panitia FAS, rencananya akan dipajang di Kantor LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) UAD. Sebelum menjelaskan makna lukisan, Melia membacakan puisi ‘Catatan Seorang Ibu’. Tangannya yang penuh cat itu kemudian menjelaskan garis-garis dan warna yang dibuatnya.

Melukis di kehidupan Melia sekarang sudah menjadi kebutuhan hidup. Artinya, disamping harus menyelesaikan studi di Fakultas Bahasa UAD semester VI ini, melukis kapanpun harus dilakukan. “Saya biasanya melukis di kamar jarang di outdoor,” tandas Melia. *** (Teguh R Asmara)


Dibaca : 218

OBYEK WISATA