English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 23 September 2017

Monolog ‘Dua Perempuan di Bibir Vas Bunga’ dari Dhenok

Monolog ‘Dua Perempuan di Bibir Vas Bunga’ dari Dhenok

Dhenok Kristianti (Foto: Trasmara)
Share






01 April 2015

Bantul, Jogjatrip.com – Monolog ‘Dua Perempuan di Bibir Vas Bunga’ karya Dhenok Kristianti akan dimainkan oleh Dhenok dan Naning Pranoto di Rumah Budaya Tembi, Jumat (3/4) malam. Dua penyair wanita asal Jakarta ini meramaikan Sastra Bulan Purnama (SBP) yang kebetulan melaunching antologi puisi ‘Mozaik’ karya Lies Wijayanti. “Puisi Lies akan diubah lagu oleh kelompok musik Dua Doa,” kata Ons Untoro, Koordinator SBP pada Jogjatrip, Selasa (31/3).

Monolog ini mengisahkan tentang konflik antara dua perempuan kakak beradik sepeninggal ayah-ibu mereka. Persoalan utamanya tentang sikap mereka terhadap warisan yang ditinggalkan orang tua, berupa lukisan foto wajah ayah-ibu yang merupakan goresan tangan seorang pelukis tersohor, stick golf dengan gagang berlapis emas, dan vas bunga peninggalan Dinasti Ming yang terbuat dari batu mulia. Carut-marut konflik atas benda-benda warisan itu, menjadi lebih berbelit karena sifat materialistis dan kemunafikan salah satu perempuan paruh baya tersebut. Dengan bumbu kisah cinta segitiga di antara dua perempuan kakak beradik dan satu lelaki, alur cerita ini dibuat memiliki sisi-sisi misteri yang mengejutkan di akhir cerita.

Lies Wijayanti (56 th), menulis puisi sejak masih kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk memberi keseimbangan dari belajar secara akademik. Karena Lies tahu, IPB memiliki peraturan yang ketat, dan tidak segan men-DO-kan mahasiswa. “Impian untuk turut memberikan kontribusi di dunia sastra melalui penciptaan puisi sejak lama menghantui karena sejak remaja saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, utamanya mengarang, kendati banyak karya yang ditulis sejak remaja raib ditelan zaman,” ujar Lies Wijayanti pada Ons Untoro.

Mudji Sutrisno SJ, rohaniwan sekaligus budayawan mengatakan, kumpulan puisi Lies Wijayanti ini tetaplah bernama ‘Mozaik’ lantaran ruh kehidupan tampil dalam irisan-irisan mozaik berjiwa yang intinya mau mengajak sesama saudara-saudara untuk merajutnya menjadi kidung kehidupan.

Dipaparkan Ons Untoro, Lies Wijayanti adalah salah satu penyair  dari sejumlah penyair, yang pernah melaunching antologi puisi di SBP. Karena, dalam acara ini, beberapa kali telah memberi ruang bagi penyair yang menerbitkan antologi puisi untuk dilaunching. “Puisi Lies ditulis dengan semangat seorang ilmuwan yang tidak  menanggalkan estetika dalam karya sastra,” ujar Ons Untoro.

Untuk mengawali acara launching antologi puisi ini, diselenggarakan lomba baca puisi karya-karya Lies Wijayanti yang diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama, hanya saja waktu lomba dimulai pkl 18.00-19.30 dan peserta dibatasi paling banyak 35 orang. (Teguh R Asmara)


Dibaca : 304

OBYEK WISATA