English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 21 Juni 2018

Kampung Batik Laweyan Solo

Kampung Batik Laweyan Solo - Photo by Aris Arif Mundayat

Rating : 1.7 ( 11 pemilih )

KAMPUNG BATIK LAWEYAN SOLO

Alamat : Desa Lawiyan atau Laweyan, Kecamatan Lawiyan, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

Koordinat GPS : -7 33' 8.71", +110 47' 34.39"

Share




A. Selayang Pandang

Kampung Batik Laweyan adalah salah satu sentra kerajinan batik yang cukup terkenal di daerah Solo, Jawa Tengah. Di kampung yang sudah berusia lebih kurang 350 tahun ini terdapat ratusan pembatik yang memproduksi batik dengan beragam motif secara turun-temurun. Para pembatik di kampung ini merupakan generasi ketiga dari pendirinya. Kampung Laweyan memang bukan sekadar sentra kerajinan batik, tetapi kampung ini memiliki sejarah yang panjang dan telah mengalami pasang-surut perkembangan hingga sekarang menjadi sentra kerajinan batik yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Menurut sejarahnya, Kampung Laweyan sudah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Pajang pada abad ke-15 M. Pada masa itu, kampung ini dikenal sebagai penghasil bahan baku kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi industri tenun dan pakaian. Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian dalam bahasa Jawa disebut dengan lawe. Oleh sebab itu, kampung sentra kerajinan batik ini dinamakan Kampung Laweyan.

Dalam perkembangannya, Kampung Laweyan yang pada awalnya hanya memproduksi kain tenun dan bahan pakaian kemudian berubah menjadi produsen batik. Cikal-bakal Kampung ini menjadi kampung batik bermula dari kedatangan seorang keturunan Raja Brawijaya V yang bernama Kiai Ageng Henis, yang bermukim di kampung ini pada tahun 1546 M. Kiai Ageng Henis pada mulanya beragama Hindu dan kemudian diislamkan oleh Sunan Kalijaga yang kebetulan singgah di Kampung Laweyan dalam perjalanan menuju Kerajaan Pajang. Setelah itu, selain menyebarkan agama Islam bersama Sunan Kalijaga, Kiai Ageng Henis juga mengajarkan teknik membuat batik cap dan batik tulis kepada penduduk Laweyan.

Kehadiran industri batik ini menjadikan Kampung Laweyan sebagai kota perdagangan yang maju di daerah Solo sehingga bermunculan juragan-juragan batik yang kaya. Selain itu, Kampung Laweyan juga memiliki peranan penting dalam kehidupan politik di Indonesia, terutama pada masa pertumbuhan pergerakan nasional. Pada tahun 1911, di kampung ini berdiri organisasi Serikat Dagang Islam (SDI) yang diprakrasai oleh K.H. Samanhudi. Tujuan asosiasi dagang pertama ini didirikan adalah untuk menentang penjajah Belanda yang semakin kuat pengaruhnya di dalam Keraton Surakarta. Pada tahun 1935, para saudagar batik di kampung ini juga merintis sebuah pergerakan koperasi yang dikenal dengan “Persatoean Peroesahaan Batik Boemi Putera Soerakarta”. Kampung Laweyan sebagai sentra industri batik kemudian mengalami masa kejayaan pada periode tahun 1990 hingga akhir 1970-an.

Namun, ketika memasuki era Orde Baru, industri batik di Kampung Laweyan mengalami masa-masa kritis dengan masuknya teknologi printing yang mampu memproduksi ratusan kodi kain batik setiap hari. Keadaan ini semakin diperparah ketika pihak keraton mengambil alih dan menggunakan batik sebagai simbol legitimasi kekuasaan, yaitu dengan munculnya motif-motif batik tertentu, seperti motif Kawung dan Parang yang hanya boleh dikenakan oleh raja, dan motif Wahyu Tumurun, Sidodadi, Sidoluhur untuk para bangsawan. Sejak itulah, esksistensi pengusaha batik tulis dan cap mulai surut. Hampir tidak ada lagi generasi muda Laweyan yang melanjutkan usaha batik milik keluarganya. Mereka memilih menempuh studi hingga jenjang yang tinggi, merantau, dan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta atau instansi pemerintah.

Para pembatik Laweyan mulai bangkit kembali sekitar tahun 2000-an. Mereka mengajak beberapa pihak terkait, baik dari pemerintah maupun tokoh-tokoh masyarakat untuk mengembalikan Kampung Laweyan sebagai industri batik dan upaya tersebut rupanya membawa hasil. Pada tanggal 25 September 2004, terbentuklah sebuah forum yang dikenal dengan Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL), yang bertujuan untuk mengoptimalkan seluruh potensi masyarakat Laweyan dalam menyongsong sekaligus mengantisipasi pasar global. Para anggota maupun pengurus yang tergabung di dalam forum ini tidak hanya terbatas pada komunitas batik, tetapi seluruh masyarakat Laweyan dari berbagai latar belakang profesi, seperti pengusaha batik, mahasiswa, dan wirausaha muda.

Pembentukan forum ini pun mendapat dukungan serius dari Pemerintah Kota Solo. Terbukti ketika Kampung Laweyan dicanangkan sebagai “Kampung Wisata Batik” pada tahun 2004. Selain itu, pemerintah Kota Solo juga memberikan payung hukum terhadap karya cipta batik produksi Laweyan yang hingga saat ini sudah ada sekitar 215 jenis motif batik yang sudah dipatenkan melalui Keputusan Dirjen Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan Hak Asazi Manusia Nomor M.01-HC 03.01/1987/tertanggal 24 November 2004.

Selain pemerintah, FPKBL ini juga bersinergi dengan berbagai pihak terkait seperti LSM, NGO, dan badan swasta. Bahkan hingga saat ini, beberapa pemerintah sudah mulai mengadakan berbagai program pembangunan fisik maupun non-fisik di Kampung Laweyan. Sebagai langkah awal, dilakukan revitalisasi Kampung Batik Laweyan Tahap I (pertama) berupa pembangunan berbagai fasilitas seperti shelter, ornamen, lampu hias, papan informasi, dan pagar panaman di berbagai penjuru Laweyan. Berkat bantuan dari pemerintah Jerman, dibangun pula Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) yang berfungsi untuk mengolah air limbah industri sehingga layak untuk dialirkan kembali ke sungai tanpa polutan. Di samping itu, sekitar 30 rumah kuno sebagai ciri Kampung Laweyan juga telah direnovasi berkat bantuan dari pemerintah pusat. Adapun program non-fisik yang telah dilakukan yaitu kegiatan pelatihan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti pelatihan kewirausahaan, webdesign, ekspor-impor, perpajakan, desain grafis, handycraft, batik warna alam, dan sebagainya.

Berbagai upaya yang telah dilakukan selama lebih kurang empat tahun tersebut, akhirnya FPKBL mendapatkan apresiasi dari pemerintah RI berupa penghargaan UPAKARTI untuk Kategori Kawasan Industri Kecil. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Ketua FPKBL Ir. Alpha Febela Priyatmono MT di Istana Merdeka pada tanggal 7 Januari 2009. Hingga saat ini, rumah-rumah industri maupun showroom batik di Kampung Laweyan semakin menjamur. Pengelolaan kampung ini memang ditujukan untuk menciptakan suasana wisata dengan konsep “Rumahku adalah Galeriku”, yang artinya rumah memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai showroom sekaligus rumah produksi. Tidak hanya melalui kain batik atau baju, industri batik di kampung ini juga berkembang menjadi industri handicraft dan suvenir.

B. Keistimewaan

Ada banyak keuntungan yang dapat wisatawan peroleh ketika berkunjung ke sentra kerajinan Batik Kampung Laweyan. Di kampung ini, wisatawan bisa membeli batik dengan beragam motif sesuai dengan selera. Dari sekian banyak motif, motif khas batik Laweyan yang paling terkenal dan banyak diminati oleh wisatawan adalah motif Tirto Tejo dan motif Truntun. Batik Laweyan ini memiliki cara pengelolaan yang khas, yaitu pada ruang bebas warna cenderung diisi warna kecoklatan (sogan). Berbeda dari gaya batik daerah lainnya yang ruang bebas warna cenderung diisi dengan warna yang lebih cerah, batik khas Laweyan juga cenderung gelap mengikuti kencenderungan batik pedalaman. Selain kaya dengan motif, jenis-jenis batik yang diproduksi dan dijual di Kampung Laweyan ini juga beragam. Tidak hanya berupa sehelai kain bahan, tetapi juga bahan batik yang sudah jadi seperti badcover, seprei, baju, tas, dan bahkan beragam jenis handycraft dan suvenir khas Solo.

Berkunjung ke Kampung Laweyan, wisatawan juga dapat menyaksikan langsung bagaimana proses pembuatan motif batik, mulai dari pewarnaan, pencelupan, hingga pengeringan. Aktivitas ini dilakukan oleh pembatik mulai dari pagi hari hingga tengah hari. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk datang lebih pagi jika ingin menyaksikan seluruh rangkaian proses pembuatan batik di kampung ini.

Daya tarik lain yang dapat Anda nikmati di Kampung Laweyan adalah ciri khas bentuk rumah penduduk yang bergaya perpaduan arsitektur Eropa-Jawa-Islam. Di antara bangunan penduduk tersebut terdapat sebuah bangunan bergaya kolonial yang dikenal dengan nDalem Tjokrosoemarto. Bangunan rumah seluas 1800 m2 ini merupakan peninggalan Tjokrosoemarto, salah satu perintis dan eksportir Indonesia di Solo. Sejak tahun 1990, Tjokrosoemarto telah membuat batik untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia dan diekspor keluar negeri. Ia juga banyak berkonstribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti di bidang pendanaan ke pemerintahan Indonesia dan mempertahankan kurs uang ORI terhadap uang Nica. Pasca kemerdekaan, Tjokrosoemarto juga berhasil membangun kekuatan ekonomi dan membentuk sentra-sentra kerajinan batik di daerah lain seperti Sragen, Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Cirebon.

Sejak tahun 1997, rumah yang dibangun tahun 1915 ini telah ditetapkan oleh Menteri Pariwisata Joop Ave sebagai Monumen Batik Indonesia sekaligus tempat penyelenggaraan berbagai acara kebudayaan dan periwisata, baik di tingkat nasional maupun internasional. Rumah bersejarah ini juga menyediakan paket makan siang dan makan malam (minimal 30 pax). Paket wisata kuliner ini cukup menarik karena wisatawan dapat menikmati masakan tradisional khas Solo dengan suasana asli tempo dulu. Selain itu, paket wisata tambahan lain yang dapat dinikmati di nDalem Tjokrosoemarto ini di antaranya aneka hiburan (seperti tarian, gamelan, siteran), Tour De Laweyan, keliling Kampung Batik Laweyan dengan menggunakan becak, serta berbelanja dan melihat proses pembuatan batik dengan durasi kurang lebih 3 jam dengan penambahan biaya becak.

C. Lokasi

Kampung Laweyan berada di wilayah Desa Lawiyan atau Laweyan, Kecamatan Lawiyan, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Tiket

Memasuki kawasan sentra kerajinan batik Kampung Laweyan, pengunjung tidak dipungut biaya tiket sepeser pun.

D. Akses

Kampung Laweyan cukup mudah dijangkau karena lokasinya tidak begitu jauh dari Kota Solo. Untuk menuju ke lokasi, wisatawan dapat menggunakan moda transportasi umum seperti bus atau taksi yang banyak tersedia di Kota Solo maupun kendaraan pribadi. Perjalanan dari Kota Solo menuju ke lokasi dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30-45 menit.

E. Akomodasi dan Fasilitas

Letak Kampung Laweyan yang tidak jauh dari pusat Kota Solo tentu saja dapat memudahkan para wisatawan mengakses berbagai fasilitas umum yang tersedia di kampung ini dan sekitarnya. Fasilitas tersebut di antaranya masjid/langgar, pusat pelayanan dan pelatihan batik Laweyan, pusat pelatihan budaya Jawa di bidang tari dan bahasa, pasar tradisional, makam bersejarah, hotel melati maupun hotel berbintang, restaurant/café, gedung pertemuan dan lain sebagainya.


Teks: Samsuni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(
Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 19490 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 3.071
     Hari ini: 15.906
     Kemarin : 17.338
     Minggu lalu : 103.084
     Bulan lalu : 212.641
     Total : 14.194.019
    Sejak 20 Mei 2010