English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 16 Desember 2017

Makam Bupati Pontjodirdjo

Makam Bupati Pontjodirdjo - Photo by Fajar Kliwon

Rating : 2.5 ( 4 pemilih )

MAKAM BUPATI PONTJODIRDJO

Alamat :

Koordinat GPS :

Share




A. Selayang Pandang

Makam Bupati Pontjodirdjo berada di Dusun Pati, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Ditilik dari sisi sejarah, makam Bupati Pontjodirdjo ini menyimpan banyak nilai. Pertama, Pontjodirdjo merupakan bupati pertama di Kabupaten Gunungkidul. Kedua, status tanah yang menjadi daerah kekuasaan Pontjodirdjo selama menjabat sebagai bupati didapatkan sebagai hadiah dari Kerajaan Mataram, setelah melalui peperangan antara keluarga Ki Suromedjo, ayah Pontjodirdjo, yang notabene adalah pelarian dari Kerajaan Majapahit dengan penguasa Mataram, Sultan Amangkurat Amral. Dan ketiga, makam ini merupakan satu-satunya saksi bisu sejarah awal berdirinya Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1831.

Berkunjung ke makam Bupati Pontjodirdjo, kita akan disuguhkan pada kenyataan bahwa sejarah awal Kabupaten Gunungkidul tak lepas dari peranan para pelarian dari Kerajaan Majapahit. Salah satu pelarian tersebut bernama Ki Suromedjo, ayah dari Mas Tumenggung Pontjodirdjo yang merupakan bupati pertama Kabupaten Gunungkidul, sebelum pusat pemerintahan daerah (ibukota) pindah dari Kecamatan Ponjong ke Kecamatan Wonosari di era kepemimpinan Bupati Tumenggung Prawirosetiko. Perpindahan tersebut terjadi ketika wilayah Kabupaten Gunungkidul dimasukkan ke dalam daerah kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, setelah sebelumnya termasuk ke dalam wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat (pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755).

Dirunut dari sejarahnya, Ki Suromedjo dan keluarganya merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai pendiri (cikal bakal) terbentuknya daerah yang kini dikenal dengan nama Karangmojo. Selain Ki Suromedjo, dalam pelarian tersebut juga terdapat 4 orang anaknya, yaitu Ki Potjosadewo, Ki Mintowijoyo, Ki Pontjobenawi, dan Ki Pontjodirdjo. Ketika Kerajaan Majapahit sampai pada masa keruntuhan, Ki Suromedjo melarikan diri dan sampai di sebuah desa yang bernama Ponggangan. Dari Ponggangan, Ki Suromedjo pindah ke daerah yang banyak ditumbuhi pohon maja sehingga daerah tersebut dinamakan Karangmojo. Di tempat ini, Ki Suromedjo mendirikan permukiman yang lambat laun bertambah ramai oleh beberapa pendatang. Keramaian permukiman akhirnya sampai pula di telinga Sultan Amangkurat Amral, penguasa Kerajaan Mataram yang kala itu masih berkedudukan di Kartasura.

Sultan Amangkurat Amral kemudian mengirimkan utusan bernama Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso untuk menemui Ki Suromedjo. Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso memberitahukan bahwa sebaiknya Ki Suromedjo meminta izin pendirian permukiman kepada Sultan Amangkurat Amral karena daerah tersebut termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Akan tetapi, permintaan Sultan Amangkurat Amral ditolak oleh Ki Suromedjo. Terjadilah perang yang dimenangkan oleh pasukan dari Sultan Amangkurat Amral. Dalam perang tersebut Ki Suromedjo tewas bersama dengan ketiga anaknya, yaitu Ki Potjosadewo, Ki Mintowijoyo, dan Ki Pontjobenawi, sedangkan seorang anaknya masih hidup. Anak ini bernama Pontjodirdjo.

Status daerah Karangmojo pada khususnya dan Gunungkidul pada umumnya yang telah takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram kemudian diserahkan kepada Pontjodirdjo untuk dipimpin. Mulailah Pontjodirdjo memimpin daerah Gunungkidul sebagai bupati yang bergelar Mas Tumenggung Pontjodirdjo.

Bupati Pontjodirdjo memimpin Gunungkidul hingga tahun 1831 karena terjadi pengalihan daerah kekuasaan dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang kala itu dipimpin oleh Mangkunagara II kepada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (dikurangi daerah Ngawen). Jabatan bupati Gunungkidul yang sebelumnya dipegang oleh Pontjodirdjo beralih kepada Mas Tumenggung Prawirosetiko. Sebagai langkah awal kebijakan Bupati Prawirosetiko, maka pusat pemerintahan (ibukota) Kabupaten Gunungkidul dipindahkan dari Kecamatan Ponjong ke Kecamatan Wonosari.

Selama masa kepemimpinannya, Pontjodirdjo telah memunculkan wacana dialog antara penguasa dan rakyat yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Maka tidak heran jika nama Pontjodirdjo tetap dihormati oleh masyarakat Gunungkidul hingga sekarang. Pasca kepemimpinannya, Pontjodirdjo tetap tinggal di Gunungkidul hingga wafat dan dimakamkan di Dusun Pati, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong. Makam inilah yang hingga kini dikenal sebagai Makam Bupati Pontjodirdjo.

Sampai dengan tahun 2008, makam Bupati Pontjodirdjo telah mengalami dua kali renovasi. Makam yang dibangun pada periode Islam ini cukup diistimewakan oleh penduduk sekitar yang menganggap bahwa Pontjodirdjo merupakan orang yang turut mengukir sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul.

Makam Bupati Pontjodirdjo ditulisi dengan suryo sengkolo “Nyoto wignyo manggalaning noto” yang berarti tahun 1831. Selain suryo sengkolo, pada batu nisan di makam ini juga diukir condro sengkolo “Hanyipto tumataning swaprojo” yang berarti tahun Jawa 1758 yang dimaksudkan sebagai pertanda bahwa Pontjodirdjo adalah bupati pertama Gunungkidul.

B. Keistimewaan

Makam Bupati Pontjodirdjo merupakan satu-satunya peninggalan yang tersisa dari masa awal sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul. Menurut Mr. Raden Mas Suryodiningrat dalam tulisannya yang berjudul “Paprentahan Praja Kejawen”, Kabupaten Gunungkidul berdiri pada tahun 1831. Meskipun mulai terlupakan, tetapi bisa dikatakan bahwa pada setiap perayaan hari jadi Kabupaten Gunungkidul, maka jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul bersama Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) setempat senantiasa menyempatkan diri untuk ziarah ke permakaman bupati pertama Kabupaten Gunungkidul tersebut.

Dilihat dari segi fisik, di makam Bupati Pontjodirdjo terdapat perpaduan atau lebih tepatnya pergeseran kebudayaan, dari kebudayaan Hindu ke kebudayaan Islam. Pergeseran kebudayaan tersebut merujuk pada status Pontjodirdjo sebagai bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang menganut ajaran agama Hindu, tetapi dilihat dari segi makamnya jelas menandaskan bahwa bentuk makam bupati ini bercorak Islam. Pergeseran ini kemungkinan disebabkan karena jabatan bupati yang diberikan kepada Pontjodirdjo merupakan hadiah dari Kerajaan Mataram yang telah memakai agama Islam sebagai agama kerajaan, sehingga berdampak pula terhadap Pontjodirdjo sebagai kepanjangan tangan dari Kerajaan Mataram.

C. Lokasi

Permakaman Bupati Pontjodirdjo berada di Dusun Pati, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

D. Akses

Lokasi makam Bupati Pontjodirdjo bisa diakses dengan kendaraan pribadi, baik roda dua (2) maupun empat (4). Selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa memanfaatkan sarana angkutan umum. Pengunjung bisa naik bus jurusan Yogyakarta-Wonosari dari Terminal Giwangan, Yogyakarta dan turun di Terminal Wonosari. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan naik colt berwarna hijau dengan jurusan Kecamatan Ponjong. Selain naik colt, pengunjung juga bisa memanfaatkan fasilitas ojek yang banyak terdapat di Terminal Wonosari.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang akan singgah di makam Bupati Pontjodirdjo tidak dikenakan biaya apa pun. Pengunjung hanya dihimbau untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk diberikan kepada juru makam sebagai biaya perawatan kebersihan lokasi permakaman.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Sebagaimana permakaman pada umumnya, di makam Bupati Pontjodirdjo ini juga terdapat juru kunci makam. Juru kunci ini bisa dijadikan sebagai pemandu (guide) untuk menerangkan tentang sejarah makam, khususnya tentang peran Bupati Pontjodirdjo ketika beliau masih hidup. Selain juru kunci, masih di dalam satu kawasan (satu desa) dengan lokasi permakaman terdapat beberapa sentra kerajinan tradisional, yaitu industri rumah tangga berupa makanan ringan, misalnya emping jagung dan kerajinan ornamen atau mozaik.


Teks: Tunggul Tauladan
Foto
: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 7008 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya