English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Selasa, 25 Juli 2017

Gatot

Gatot - Photo by Aris Arif Mundayat

Rating : 2 ( 2 pemilih )

GATOT

Alamat : Jalan Pramuka, Wonosari, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.9634,110.609395

Share




A. Selayang Pandang

Selama ini kebanyakan orang mengenal Gunungkidul sebagai daerah yang gersang dan tandus. Namun, tidak banyak orang yang mengetahui bahwa di balik kegersangannya, kabupaten yang terletak di sebelah selatan Kota Yogyakarta ini kaya dengan wisata kulinernya. Salah satunya adalah gatot atau orang Jawa menyebutnya gathot. Makanan khas masyarakat Gunungkidul ini dapat dikatakan “saudara kembar” dari tiwul karena bahannya sama-sama dari gaplek (ketela pohon atau singkong yang dikupas kulitnya lalu dijemur untuk dikeringkan). Seperti halnya tiwul, gatot pada awalnya juga merupakan makanan pokok masyarakat Gunungkidul sebagai pengganti nasi. Hanya memang, tiwul lebih banyak dijadikan sebagai makanan pokok dibandingkan dengan gatot. Namun, tak jarang pula masyarakat memilih gatot sebagai makanan pokok sebagai pengganti nasi atau pun tiwul sendiri.

Secara topografis, daerah ini memiliki kondisi tanah yang kurang subur, cenderung kering, dan berdaya dukung rendah untuk ditanami karena terdiri dari bebatuan yang mudah terdegradasi. Kondisi topografis inilah yang memaksa penduduk setempat bermata pencaharian sebagai petani lahan kering yang hanya bisa menanam singkong, jagung, dan kacang-kacangan. Singkong inilah yang diolah menjadi tiwul atau gatot sebagai makanan pokok.

Dilihat dari sejarahnya, tiwul memang lebih dulu menjadi makanan pokok masyarakat Gunungkidul dibandingkan dengan gatot. Pada awalnya, gaplek hanya untuk dibuat tiwul. Gaplek yang baik untuk dibuat tiwul adalah gaplek yang berwarna putih. Namun, proses pembuatan geplek tidak selamanya akan menghasilkan warna putih, tetapi terkadang juga berwarna hitam karena proses pengeringannya kurang bagus akibat terkena air hujan. Daripada dibuang, warga Gunungkidul mencoba memasak atau mengukus gaplek yang berwarna hitam ini menjadi gatot. Belum ditemukan data yang menjelaskan tentang mengapa makanan ini dinamakan gatot.

Cara mengolah singkong menjadi gatot cukup mudah. Pertama-tama, singkong yang sudah menjadi gaplek direndam dengan ari kapur sirih selama 12 jam (semalam). Setelah dicuci hingga bersih, gaplek di potong-potong kecil kemudian dikukus selama 2 jam. Setalah matang, gaplek yang sudah berubah menjadi gatot disimpan pada wadah yang lebar agar cepat dingin. Untuk membuat gatot yang berkualitas, gaplek yang digunakan adalah gaplek yang sudah dihujankan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan warna hitam sebagai warna khas gatot.

Seiring dengan perkembangan zaman, menurut sebuah sumber, sejak tahun 1966 pola konsumsi makanan pokok penduduk Gunungkidul dari tiwul atau gatot beralih ke nasi. Hal ini disebabkan oleh sebagian masyarakat yang melakukan urbanisasi mendapat pengaruh dari pola konsumsi masyarakat kota yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Sejak itulah, masyarakat Gunungkidul mulai mengomsusi tiwul atau gatot sebagai makanan camilan. Gatot biasanya disantap bersama parutan kelapa setengah tua untuk menemani acara minum teh atau kopi. Jika Anda ingin mendapatkan rasa manis atau asin, cukup menambahkan gula pasir atau serutan gula merah pada parutan kelapa, lalu ditaburkan di atas gatot.

B. Keistimewaan

Perpaduan rasa gurih dengan sedikit rasa manis atau pun asin merupakan ciri khas dari gatot. Di samping itu, teksturnya yang kenyal ditambah dengan sedikit kasar parutan kelapa menambah eksotisme tersendiri saat Anda mengunyah makanan khas Gunungkidul ini. Seperti halnya tiwul yang berbahan dasar ketela pohon atau singkong, gatot dipercaya dapat mencegah penyakit mag. Selain itu, mengonsumsi gatot membuat rasa kenyang Anda dapat bertahan lebih lama atau dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah awet wareg karena secara medis alat pencernaan butuh waktu lebih lama untuk mengolahnya.

Jika dulu gatot dibuat untuk konsumsi pribadi dan untuk menjamu tamu yang datang berkunjung, kini bagi Anda pecinta kuliner tidak perlu khawatir karena makanan yang sering dicap sebagai makanan orang desa ini sudah diproduksi dan diperjualbelikan dengan bentuk instan. Anda cukup menyeduh gatot instan ini dengan air panas dan siap untuk disantap. Gatot dalam bentuk instan ini, selain cara penyajiannya cukup mudah, juga dapat bertahan lebih lama.

C. Lokasi

Gatot dapat Anda jumpai di pasar-pasar tradisional atau pun pusat oleh-oleh di daerah Gunungkidul. Salah satu kedai yang cukup terkenal menjual makanan khas Gunungkidul ini terdapat di Jl. Pramuka Wonosari. No. 36. Di kedai ini juga tersedia gatot dengan kemasan besek (kardus dari anyaman bambu). Satu besek cukup dimakan untuk 5 orang. Sementara itu, gatot yang dijajakan di pasar-pasar tradisional biasanya dibungkus dengan daun pisang.

D. Harga

Harga gatot cukup bervariasi, bergantung pada bentuk kemasannya. Gatot dalam bentuk kemasan besek dijual seharga Rp 5.000,00-Rp 15.000,00 sedangkan gatot instant yang dikemas ke dalam plastik dijual seharga Rp 5000.00/pak. Sementara itu, gatot yang dijual di pasar-pasar tradisional dijual sekitar Rp 1000,00-Rp 2.000,00/bungkus (Tahun 2010).


Teks: Samsuni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com

(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 10236 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 2.626
     Hari ini: 12.322
     Kemarin : 11.965
     Minggu lalu : 14.046
     Bulan lalu : 0
     Total : 10.304.674
    Sejak 20 Mei 2010