English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 20 Oktober 2014

Gua Maria Tritis

Gua Maria Tritis - Photo by Fajar Kliwon

Rating : 2.7 ( 9 pemilih )

GUA MARIA TRITIS

Alamat :

Koordinat GPS :

Share



A. Selayang Pandang

Setiap merayakan Bulan Maria yang jatuh pada bulan Mei dan Oktober, biasanya umat Katholik akan melakukan ziarah ke sebuah gua di Kabupaten Gunungkidul. Tempat peziarahan di Gunungkidul yang selalu ramai dikunjungi peziarah itu adalah Gua Maria Tritis. Berbentuk gua alami dengan stalagtit dan stalagmit yang selalu meneteskan air, Gua Maria Tritis yang terletak di rongga perut bumi perbukitan kapur ini menawarkan keheningan dan kesederhanaan yang berbalutkan suasana yang alami.

Sebelum diresmikan menjadi tempat peziarahan, gua alam ini pada mulanya bernama Gua Tritis Singkil dan terkenal dengan keangkerannya. Wajar saja, sebab gua tersebut terletak jauh dari permukiman penduduk, serta dipenuhi dengan rumput liar dan tanaman perdu. Oleh karena itu, Gua Tritis Singkil menjadi tempat favorit para pertapa dalam mencari wangsit. Konon, beberapa pangeran dari Kerajaan Mataram juga pernah bertapa di gua ini.

Pada tahun 1974, Pastur Paroki Wonosari, Hardjo Sudarmo SJ mulai mengenalkan Gua Tritis kepada umat Katolik yang tinggal di sekitar gua. Kemudian, gua tersebut diberkati oleh Uskup Agung Kardinal Darmojuwono SJ. Selanjutnya, ditandai dengan peletakan patung Bunda Maria yang sedang berdoa, Gua Tritis diresmikan sebagai tempat doa dan tempat ziarah bagi umat Katolik. Setelah menjadi tempat peziarahan, gua ini kemudian dikenal dengan nama Gua Maria Tritis. Kata tritis sendiri berasal dari bunyi tetesan air yang dihasilkan oleh stalaktit dan stalagmit yang ada di gua tersebut.

Meski saat ini Gua Maria Tritis telah menjadi destinasi ziarah utama bagi umat Katolik yang berkunjung ke Gunungkidul, kondisi Gua Maria Tritis tetap dipertahankan sebagaimana aslinya. Tidak ada pembangunan atau perubahan fisik yang signifikan sehingga menyebabkan perubahan bentuk asli gua. Bahkan ornamen gua pun masih tetap dibiarkan seperti semula. Hal ini dilakukan untuk mengingatkan kepada peziarah dan siapapun yang mengunjungi gua tersebut, akan konsep kesederhanaan, yakni bahwa manusia harus menghargai dan mesyukuri setiap hal yang telah Tuhan berikan kepada mereka.

B. Keistimewaan

Gua alami dengan ornamen utama stalaktit dan stalagmit menjadi daya pikat tersendiri bagi Gua Maria Tritis. Saat mengunjungi tempat ini Anda akan benar-benar berada di dalam gua dalam artian yang sesungguhnya. Di gua ini, Anda dapat berdevosi di bawah patung Maria yang juga sedang dalam posisi berdoa. Lokasi gua yang terletak di tengah hutan dan jauh dari permukiman penduduk akan ini, menjadi pendukung utama dalam Anda berkonsentrasi. Di tempat ini yang ada hanyalah keheningan yang mendalam, serta sesekali terdengar bunyi tetesan air dari stalagtit.

Meski Gua Maria Tritis tidak memiliki sendang seperti Gua Maria pada umumnya, namun peziarah yang datang berkunjung tetap dapat membawa pulang air berkat yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit. Air tersebut diperoleh dari tetesan stalagtit yang merupakan karya agung Sang Pencipta. Tetesan air stalaktit ini, melambangkan berkat Sang Pencipta yang turun kepada umatnya. Air menjadi simbol kehidupan dan pemberian Tuhan yang harus diterima apa adanya. Selain memberikan kesejukan spiritual bagi para pengunjung, air ini juga menjadi berkat tersendiri bagi warga sekitar, yakni dapat digunakan sebagai air minum.

Kesederhanaan dan kealamian lain yang muncul di Gua Maria ini terlihat pada altar perjamuan kudus yang terletak di samping patung Maria. Altar ini terbuat dari batu alam yang diambil dari dalam gua. Tempat duduk yang biasa digunakan oleh umat untuk melakukan misa ataupun berdoa hanya berupa hamparan karpet yang sudah mulai usang. Namun, itu semua tidak akan mengurangi kedalaman makna berziarah Anda.

Sebagai tempat ziarah, Gua Maria Tritis juga dilengkapi dengan rute jalan salib sejauh 1,5 km dengan 14 stasi atau pemberhentian. Di setiap stasi terdapat diorama kesengsaraan Yesus. Bahkan, di stasi ke-12 Anda akan menemukan tiga buah salib besar yang menggambarkan saat Yesus di salib bersama dua orang penjahat. Saat melewati rute jalan salib ini, Anda serasa dibawa ke Bukit Golgota yang sesungguhnya, di mana Anda harus melalui jalan yang berbatu, terjal dan berliku di atas bukit yang tandus dan kering. Keletihan yang Anda rasakan tidak akan pernah sebanding dengan keindahan dan sensasi spiritual jalan salib yang akan Anda dapatkan.

C. Lokasi

Gua Maria Tritis terletak sekitar 50 km dari pusat Kota Yogyakarta, atau sekitar 28 km dari pertigaan Gading Wonosari. Secara administratif Gua Maria Tritis berlokasi di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

D. Akses

Ada beberapa jalur utama yang dapat ditempuh wisatawan untuk sampai di Gua Maria Tritis. Jalur yang pertama merupakan jalur utama wisatawan masuk ke daerah Gunung Kidul, yakni dengan melewati Jalan Wonosari, Piyungan dan Bukit Patuk. Dari Bukit Patuk Anda dapat terus menyusuri jalan utama ke arah Wonosari. Sesampainya di Pertigaan Gading, silahkan Anda ambil jalan ke kanan ke arah Kecamatan Playen. Dari Playen Anda dapat meneruskan perjalanan melewati rute Paliyan–Pasar Trowono–Singkil. Rute ini merupakan rute umum yang biasa dilalui para peziarah.

Sedangkan jalur alternatif lain yang dapat dilewati peziarah adalah jalur Yogyakarta–Imogiri–Panggang–Paliyan–Pasar Trowono–Singkil. Jalan menuju Gua Maria Tritis berupa jalan aspal yang kondisinya bagus. Namun, kendaraan Anda hanya bisa sampai di tempat parkir. Setelah itu, Anda harus berjalan kaki dengan jalan batu yang terjal dan berliku untuk sampai di depan Gua Maria Tritis.

E. Harga Tiket

Peziarah yang ingin mengunjungi Gua Maria Tritis tidak perlu membayar tiket masuk. Hanya saja bagi peziarah yang ingin menyumbang untuk pengembangan Gua Maria Tritis dapat memberikan donasinya dengan cara menghubungi pihak pengelola.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Meski terletak jauh dari permukiman penduduk, di Gua Maria Tritis telah ada beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh peziarah. Salah satu dari fasilitas yang dibuat untuk memudahkan peziarah adalah lintasan jalan salib sejauh 1,5 km berupa jalan bersusun layaknya terasering perbukitan dengan 14 stasi atau pemberhentian. Bagi peziarah yang tidak membawa buku panduan doa, Anda tidak perlu khawatir. Di dalam gua terdapat buku Madah Bakti, Kidung Adi, Padupan Kencana, dan Rosario yang dapat digunakan oleh peziarah.

Tidak hanya fasilitas di dalam gua, di luar gua pun terdapat fasilitas seperti kios suvenir dan kios makanan. Selain itu, ada masyarakat yang menawarkan diri untuk memayungi peziarah selama melakukan perjalanan ke gua. Sebagai imbalan atas jasa mereka, Anda dapat memberikan uang ala kadarnya. Peziarah yang berusia lanjut dan tidak kuat untuk berjalan kaki melewati jalan yang sulit dan berliku pun dapat menyewa jasa pengangkut tandu. Dengan membayar Rp 100.000,00, peziarah akan diusung menggunakan tandu pulang pergi, dari parkiran menuju gua dan kembali lagi ke tempat parkir.

Teks: Elisabeth Murni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 10699 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Gambiran No. 85 Yogyakarta 55161 - Indonesia.
Telp. 0274 8373005/ 0274 414233
Email : maharatu@maharatu.com - maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 281
     Hari ini: 1.060
     Kemarin : 7.657
     Minggu lalu : 56.601
     Bulan lalu : 201.211
     Total : 8.156.106
    Sejak 20 Mei 2010