English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Jumat, 19 Desember 2014

Rasulan

Photo by harianjogja.com

Rating : 2.3 ( 12 pemilih )

RASULAN

Alamat :

Koordinat GPS :

Share



A. Selayang Pandang

Rasulan adalah suatu tradisi atau ritual tahunan yang sudah lama diselenggarakan oleh masyarakat Gunungkidul. Kata rasulan sendiri tidak selalu dikaitkan dengan suatu kegiatan yang erat hubungannya dengan peringatan terhadap suatu momen hidup Nabi Muhammad SAW, seperti Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj. Namun, Rasulan bagi masyarakat Gunungkidul merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh para petani setelah masa panen tiba. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada semua warga serta untuk menghormati Dwi Sri atau Dewi Padi dan dhanyang (roh-roh halus) penunggu tempat-tempat keramat.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, setiap dusun mempunyai suatu tempat khusus yang diyakini sebagai tempat persemayaman dhanyang. Tempat-tempat tersebut biasanya berupa pohon resan (seperti pohon beringin, ipik, randu alas dan sebagainya), atau watu dukun (batu akik). Untuk itulah, warga dusun membuat tumpengan dan sesajen untuk dipersembahkan kepada dhanyang sebagai penolak bala sehingga mereka tidak mengganggu warga.

Masyarakat Gunungkidul memaknai Rasulan sebagai hari raya ketiga selain Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, even budaya ini mirip dengan tradisi lebaran, di mana seseorang datang ke tempat kerabatnya untuk bersilaturrahmi dan menikmati hindangan spesial yang disediakan oleh tuan rumah. Oleh karena itu, pada hari “H” pelaksanaan Rasulan ini, setiap keluarga biasanya membuat makanan spesial untuk tamu-tamu mereka. Dengan demikian, keberadaan tradisi Rasulan ini menjadi salah satu wadah bagi masyarakat Gunungkidul untuk memupuk semangat kekeluargaan dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.

Belum ada catatan resmi mengenai sejak kapan Rasulan ini dilaksanakan. Namun, yang pasti bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Gunungkidul. Tradisi yang diselenggarakan setahun sekali ini biasanya berlangsung beberapa hari dengan diawali kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar dusun seperti memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, membersihkan makam dan tempat persemayaman dhanyang. Karena itu, tradisi Rasulan ini biasa juga disebut dengan istilah merti deso atau bersih dusun.

Dewasa ini, tradisi Rasulan menjadi semakin marak dengan berbagai rangkaian kegiatan olah raga dan pertunjukan seni budaya. Kegiatan di siang hari biasanya diisi dengan pertandingan sepak bola dan voli. Khusus untuk pertandingan voli, terkadang dilaksanakan pada sore hari. Dalam kegiatan olah raga ini, pihak penyelenggara Rasulan mengundang warga dari dusun lain untuk mengadakan pertandingan persahabatan. Sementara itu, kegiatan di malam hari biasanya diisi pertunjukan seni budaya seperti kethoprak, wayang kulit, campur sari, atau tayuban. Pada hari puncak acara, biasanya juga diadakan pertunjukkan seni seperti reog, jathilan, dan kirab mengelilingi dusun.

Hingga kini, masyarakat Gunungkidul setiap tahun melaksanakan tradisi Rasulan ini dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Bahkan, oleh pemerintah daerah setempat, tradisi ini telah dikemas menjadi salah satu even budaya dan media pengembangan wisata di kawasan Gunungkidul. Dengan berbagai rangkaian kegiatan yang mengiringinya, even Rasulan ini tidak saja menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga mampu memukau para wisatawan luar daerah dan mancanegara. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang untuk menyaksikan atraksi kesenian lokal yang ditampilkan dalam even ini.

B. Keistimewaan

Banyak nilai positif yang diperoleh dari pelaksanaan tradisi Rasulan ini. Khusus bagi masyarakat Gunungkidul, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang harus dilestarikan. Selain sebagai sarana untuk memupuk semangat kekeluargaan, tradisi ini juga menjadi salah satu wadah untuk melestarikan kesenian daerah Gunungkidul. Sementara itu, bagi masyarakat luar, terutama wisatawan asing, selain menyajikan tontonan yang menarik, even budaya ini menjadi salah satu sarana untuk mengetahui dan mengenal kesenian dan kebudayaan masyarakat Gunungkidul.

Pada malam puncak acara Rasulan, para pengunjung dapat menyaksikan beragam pertunjukan kesenian. Keesokan harinya, para pengunjung dapat menyaksikan acara karnaval atau kirab mengelilingi dusun. Dalam kegiatan ini, para peserta mengenakan kostum-kostum dan aksesoris tradisional yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Gunungkidul, seperti kelompok tani mengenakan caping sambil membawa cangkul, kelompok guru mengenakan seragam guru sambil menenteng buku, siswa-siswi sekolah mengenakan seragam sekolah, dan kelompok seni mengenakan pakaian identitasnya masing-masing. Kirab ini semakin semarak dengan adanya sekelompok pemuda yang mengenakan seragam sepak bola dan seragam tentara sambil membawa meriam-meriaman dari bambu, dan sebagainya.

Selain mengenakan beragam aksesoris, para peserta kirab juga membawa segala gunungan atau tumpengan dari segala macam hasil panen seperti pisang, jagung, padi, kacang-kacangan, kedelai, degan (kelapa muda), ingkung (ayam panggang), jadah, singkong, dan sebagainya. Tumpengan tersebut diarak dari Balai Dusun ke tempat persemayaman dhanyang yang diiringi oleh tari ritual jathilan atau tayuban. Setelah upacara persembahan dan doa bersama di sekitar tempat persemayaman dhanyang, kegiatan perebutan tumpengan oleh masyarakat dan wisatawan merupakan suatu tontonan yang menarik. Setelah acara tersebut, pertunjukkan tarian jathilan atau tayuban kembali dilanjtukan untuk menghibur para warga maupun pengunjung yang hadir.

C. Lokasi

Rasulan dilaksanakan hampir di setiap dusun maupun desa yang ada di Kapubaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia. Waktu pelaksanaannya berbeda-beda, bergantung pada kesepakatan masyarakat warga setiap dusun. Namun, tradisi Rasulan biasanya dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli setiap tahunnya.

D. Akses

Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu wilayah kabupetan yang terletak di sebelah selatan DIY. Akses menuju ke kabupaten ini cukup mudah, karena dapat ditempuh dengan menggunakan roda empat maupun roda dua, baik kendaraan umum maupun pribadi.

E. Tiket

Pengunjung yang ingin menyaksikan tradisi Rasulan ini tidak dipungut biaya sepeserpun.

F. Akomodasi dan Fasilitas

Berhubung karena lokasi pelaksanaan Rasulan kebanyakan dilaksanakan di dusun-dusun atau di desa-desa, maka pengunjung yang membutuhkan akomodasi berupa tempat menginap dapat mencari penginapan di kota-kota kecamatan terdekat atau Kota Wonosari. Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan pribadi, di kota-kota kecamatan atau kota kabupaten tersedia ojek motor yang siap mengantar Anda menuju ke lokasi pelaksanaan Rasulan.


Teks: Samsuni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 8242 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Gambiran No. 85 Yogyakarta 55161 - Indonesia.
Telp. 0274 8373005/ 0274 414233
Email : maharatu@maharatu.com - maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya