English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 16 Oktober 2017

Kampung Pecinan Ketandan

Kampung Pecinan Ketandan - Photo by Fajar Kliwon

Rating : 1.7 ( 3 pemilih )

KAMPUNG PECINAN KETANDAN

Alamat : sebelah Tenggara perempatan Jalan Malioboro - Jalan Jend A. Yani - Jalan Pajeksan - Jalan Suryatmajan Yogyakarta

Koordinat GPS : -7 47' 47.95", +110 21' 56.79"

Share




A. Selayang Pandang

Seperti kota-kota besar lain di dunia, Kota Yogyakarta memiliki china town. Di Yogyakarta, perkampungan yang sebagian warganya adalah keturunan etnis Tionghoa ini disebut Kampung Pecinan Ketandan. Meski demikian ada juga penduduk pribumi, bahkan luar Yogyakarta yang berada di sana sejak jaman dulu. Di kawasan Kampung Ketandan ini banyak terdapat rumah bertingkat dengan arsitektur Tionghoa, walaupun sudah mulai tergerus modernisasi .

Kampung Ketandan yang dibatasi oleh Jalan Ahmad Yani, Jalan Suryatmajan, Jalan Suryotomo dan Jalan Los Pasar Beringharjo ini, merupakan pusat permukiman orang pecinan pada jaman Belanda. Menurut sejarah, Kampung Ketandan muncul akhir abad 19 hingga awal abad 20 sebagai permukiman Tionghoa. Pada masa itu, Pemerintah Belanda sedang menerapkan aturan yang membatasi pergerakan (passentelsel) serta membatasi wilayah tinggal mereka (wijkertelsel). Dengan izin Sri Sultan Hamengku Buwono II, warga Tionghoa tersebut akhirnya dapat menetap di tanah yang terletak di utara Pasar Beringharjo, dengan harapan aktivitas pasar terdorong oleh perdagangan mereka.

Arsitektur bangunan di kawasan ini memang didominasi dengan nuansa tempo dulu. Rumah-rumah di kawasan ini kebanyakan dibangun memanjang ke belakang, dan digunakan sebagai toko oleh para pemiliknya yang kemudian disebut sebagai rumah toko atau ruko. Para penghuninya kebanyakan bermatapencaharian sebagai pedagang. Banyak dari mereka yang berdagang emas dan permata, tetapi jauh sebelum itu para warganya juga membuka toko kelontong, toko jamu juga berbagai toko penyedia kebutuhan pokok. Menjelang tahun 1950-an, hampir 90 persen penduduknya mulai beralih usaha ke toko emas.

Masyarakat Tionghoa Yogyakarta sudah sejak 200 tahun yang lalu, menempati kawasan Malioboro. Mereka tinggal, seperti di kampung Ketandan, Beskalan dan Pajeksan. Kawasan Ketandan yang dibangun bersamaan dengan Pura Pakualaman itu kini telah semakin ramai dengan berbagai aktifitas di sekitarnya. Predikatnya sebagai salah satu kawasan penting yang memiliki banyak peninggalan sejarah bercirikan Tionghoa, semakin tidak terdengar lagi karena perkembangan bidang niaga di sekitarnya, seperti di kawasan Malioboro, jauh lebih berkembang. Oleh karena itu, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan. Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri kemudian menetapkan Kampung Ketandan sebagai kawasan Pecinan yang akan dikembangkan terus menerus. Bangunan-bangunan di kawasan ini akan dibuat berarsitekstur Tionghoa, sementara bangunan yang masih berasitektur Tionghoa akan tetap dipertahankan.

B. Keistimewaan

Ketandan juga merupakan saksi sejarah akulturasi antara budaya Tionghoa, keraton dan masyarakat Yogyakarta. Di kawasan inilah banyak masyarakat Tionghoa tinggal dan membangun kehidupan, sehingga akhirnya masyarakat umum mengakui Ketandan sebagai kawasan Pecinan kota Jogja.

Perubahan Kampung Ketandan terlihat dari perubahan fisik, ekonomi, dan sosial. Bila dilihat dari perubahan fisik Kampung Ketandan dikarena tuntuntan perkembangan zaman daerah sekitarnya yang terus terdorong oleh arus modrenisasi, bentuk bangunan dengan arsitektural modern mudah ditemukan karena tuntutan eksistensi masing-masing pemilik bangunan, maupun karena memang bangunan berarsiteksyur Tionghoa sudah rapuh, sehingga perlu direnovasi. Namun sayang, tidak semua renovasi tersebut mempertahankan arsitekstur khas Tionghoa.

Bangunan-bangunan di Kampung Ketandan yang asli, memiliki atap yang berbentuk gunungan, namun seiring perkembangan, atap-atap tersebut direnovasi menjadi berbentuk lancip. Dari perubahan bentuk atap tersebut, akan tercermin akulturasi budaya Cina dengan kebudayaan Jawa menambah keunikan tersendiri, dan menambah keragaman kebudayaan di kota Yogyakarta yang memang terkenal dengan kota dengan budaya.

Arsitektur bangunan berbentuk ruko (rumah toko atau shop house) sering menjadi ciri rumah di kampung pecinan, karena orang cina rata-rata berkerja sebagai pedagang yang melibatkan rumah pribadi sebagai tempat usaha, sehingga rumah bagi mereka mempunyai dua fungsi sebagai tempat usaha dan bertempat tinggal. Untuk memenuhi kedua fungsi tersebut biasanya rumah-rumah di daerah kampung pecinan terdiri dari dua lantai atau lebih.

Pada umumnya bagian lantai dasar digunakan sebagai toko, sedangkan pada lantai di atasnya digunakan untuk tempat tinggal. Salah satu ciri khas rumah Cina adalah jangkar yang ada di dinding.

Sejak tahun 2006, seiring dengan era Reformasi di Indonesia, setiap menyambut Tahun Baru Imlek, di Kampung Ketandan diadakan Pekan Budaya Tionghoa. Daerah ketandan dihias dengan ornamen-ornamen dan Gapura berarsitektur Tionghoa. Festival yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta ini, digelar sebagai upaya untuk mempertahankan identitas Kampung Ketandan Pecinan.

C. Lokasi

Kampung Ketandan adalah sebuah kawasan pecinan yang terletak di Kawasan Malioboro, pusat kota Yogyakarta. Lebih tepatnya berada di sisi timur Malioboro. Kampung Ketandan tepat berada di sebelah Tenggara perempatan Jalan Malioboro - Jalan Jend A. Yani - Jalan Pajeksan - Jalan Suryatmajan Yogyakarta.

D. Akses

Akses menuju kawasan Kampung Pecinan Ketandanm sangatlah mudah karena sarana dan prasarana yang ada sangat memadai dan terjangkau. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda bisa masuk ke Jalan Ketandan ke arah Timur dari Jalan Malioboro. Jika menggunakan angkutan umum, Anda akan diantar hingga pintu masuk Jalan Ketandan.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang ingin mendatangi Kampung Pecinan Ketandan tidak dikenai biaya apapun. Kapan saja pengunjung bisa datang ke tempat ini, selain Anda bisa berbelanja emas, Anda pun bisa sekadar melihat-lihat arsitektur bangunan kuno Tionghoa.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di Kampung Pecinan Ketandan ini terdapat ornamen-ornamen kuno pada bangunan yang bertingkat. Ciri khas bangunan cina pun bisa dilihat seperti aksesoris yang terpasang di hampir setiap pintu rumah. Selain itu di kawasan Ketandan ini juga banyak terdapat toko-toko emas yang merupakan usaha utama para warga Tionghoa yang sudah ada sejak lama.

Di Kampung Ketandan ini, juga terdapat becak yang siap mengantar Anda jalan-jalan melihat-lihat suasana Kampung Ketandan dan Malioboro.


Teks : Andreas Eko Wahyu S
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 10266 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.390
     Hari ini: 7.545
     Kemarin : 9.201
     Minggu lalu : 70.465
     Bulan lalu : 338.123
     Total : 11.242.144
    Sejak 20 Mei 2010