English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 22 Januari 2018

Kampung Seni Nitiprayan

Photo by Dokumentasi Kenduri Seni Desa 2004

Rating : 3.9 ( 8 pemilih )

KAMPUNG SENI NITIPRAYAN

Alamat : Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul

Koordinat GPS : -7 47' 56.76", +110 20' 28.55"

Share




A. Selayang Pandang

“Kampung Seni” Nitiprayan tumbuh subur di tengah-tengah tradisi berkesenian yang sangat kental di Yogyakarta. Kampung ini bisa dikatakan sebagai kampungnya para seniman. Anggapan ini tak berlebihan mengingat ada anekdot yang berlaku di Yogyakarta bahwa seseorang belum dikatakan seniman jika belum pernah tinggal di Kampung Nitiprayan.

Menurut seorang pengamat budaya Jawa, Raden Pangeran Adipati (RPA) Suryanto Sastroatmojo, asal-usul kampung Nitiprayan diduga berasal dari nama Ngabehi Nitipraya, seorang abdi dalem Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan sekaligus pimpinan sebuah pasukan kecil yang kemudian dipercaya sebagai “lurah" di daerah yang kini dikenal dengan Nitiprayan. Jabatan ini disandang oleh Ngabehi Nitipraya pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII yang memerintah pada tahun 1877 - 1921.

Pada awalnya, kampung Nitiprayan tak ubahnya seperti kampung-kampung di wilayah Bantul, Yogyakarta. Hanya satu pembeda yang dimiliki oleh kampung Nitiprayan, yaitu banyaknya seniman yang tinggal di kampung ini. Perubahan itu terjadi ketika seorang perupa bernama Ong Hari Wahyu, yang telah tinggal di kampung Nitiprayan sejak tahun 1979, mempunyai gagasan untuk membuat kampung Nitiprayan sebagai “panggung seni”. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang akrab disapa Ong ini, mencoba membuat sebuah terobosan baru dengan mempolarisasikan sebuah kampung yang sarat nuansa seni, mulai dari penduduk, lingkungan sekitar, sampai kegiatan keseharian.

Ong menilai bahwa kampung Nitiprayan memang cocok dijadikan sebagai “panggung seni” karena sejak zaman dulu kampung ini memang telah dikenal sebagai permukiman para seniman di Yogyakarta, baik yang indekost, mencari rumah, bahkan memperistri penduduk setempat. Beberapa seniman yang pernah bermukim di kampung ini antara lain seniman kethoprak seperti Karto Togen, Ngadimin Hadi Prabowo alias Darso, juga Atmo Sanyoto atau yang lebih dikenal sebagai Atmo Sipun (semua telah almarhum), almarhum pelawak Pak Bendhot Srimulat, beberapa perupa seperti Dadang Christanto, Entang Wiharso, Made Sukadana, Faisal, Budi Ubrux, Djoko Pekik, Made Sukadana, Kuss Indarto, Putu Sutawijaya, Ong Hari Wahyu, Hedi Hariyanto, Teguh Wiyatno, Gusti Ngurah Udiantara, Yogie Setyawan, praktisi multimedia Bambang J.P., teaterawan Heru Kesawamurti, Whani Darmawan, koreografer Lies Apriani, komunitas Rumah Panggung, aktivis LSM Toto Rahardjo, dan sederet nama lainnya.

Nuansa seni yang telah terlanjur melekat di kampung Nitiprayan coba diangkat oleh Ong dan kawan-kawan untuk membuat semacam “panggung seni”. Langkah awal yang dilakukan Ong dan beberapa seniman lainnya adalah mengajak para penduduk asli dan pendatang untuk membuat beberapa wadah kesenian, di antaranya Terbangklung (Terbang dan Angklung) dan karawitan.

Berkat kerja keras inilah, gagasan Ong untuk membuat “panggung seni” dengan media kampung akhirnya terealisasi. Kampung yang semula biasa saja kemudian disulap menjadi “museum seni” dengan dukungan para penduduk sekitarnya. Meminjan bahasa Kuss Indarto, seorang kurator seni rupa dan pemerhati sosial budaya, Ong dan kawan-kawan mencoba mengubah kampung Nitriprayan menjadi “panggung, galeri sekaligus laboratorium kreatif”. Jadilah nama “Kampung Seni” Nitriprayan sebagai sebuah “panggung seni” yang khas di Kabupaten Bantul.

Perjalanan untuk mengubah kampung Nitiprayan menjadi sebuah “kampung seni” ternyata membutuhkan kerjasama yang apik antar elemen pendukungnya. Elemen-elemen pendukung tersebut adalah sarana dan prasarana, penduduk kampung, dan kegiatan kebudayaan. Lewat proses yang tak sebentar, akhirnya kerja keras tersebut membuahkan hasil dengan berdirinya berbagai macam galeri seni, agenda seni yang terstruktur dan berkeseninambungan, hingga didirikannya Sanggar Anak Alam (SALAM).

Semangat kemandirian dalam mendirikan sebuah “kampung seni” terlihat sangat menonjol di Nitiprayan. Para seniman ini senantiasa mengajarkan kepada para penduduk sekitar untuk memanfaatkan barang-barang yang ada sebagai medium seni. Barang-barang tersebut misalnya daun atau barang bekas. Hal ini membentuk jiwa kemandirian dalam berkesenian yang mengikis sifat konsumtif.

Lewat barang-barang bekas inilah berbagai benda seni kemudian terwujud. Sebut saja pembuatan drumband dari kaleng maupun ember bekas. Sedangkan panggung untuk menggelar perhelatan seni juga menggunakan media seadanya seperti halaman, jalan, bahkan di persawahan.

Lewat kemandirian inilah “Kampung Seni” Nitiprayan justru mempunyai nilai khas tersendiri. Hal ini terbukti ketika menggelar acara Bambu Art tahun 2000-an yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Duta Besar Kanada. Para tamu penting ini tak disambut dengan karpet merah, kursi yang berukir ataupun minuman dalam botol. Mereka disambut dengan pakaian seadanya, makanan kampung seperti umbi-umbian atau kacang. Minuman pun hanya disajikan dalam bungkus plastik. Bahkan Dubes Kanada ini mengaku kaget, lantas melepas baju dan hanya memakai kaos dan ikut terjun ke sawah.

Perhelatan yang melibatkan penduduk Nitiprayan dan kampung tetangga yaitu Jomegatan juga kembali tergelar pada tahun 2003. Perhelatan yang digelar pada tanggal 18 September 2003 tersebut diberi tajuk “Kenduri Rakyat Minta Hujan”. Acara yang melibatkan ratusan warga setempat itu dibuka secara resmi oleh Bupati Bantul Idham Samawi dan dihadiri oleh lurah se-Bantul dan ribuan masyarakat dari luar kampung Nitiprayan-Jomegatan. Acara itu berlangsung selama tiga hari dengan menampilkan beragam jenis seni pertunjukan. Acara “Kenduri Rakyat” ini akhirnya diagendakan menjadi acara tahunan yang dihelat setiap bulan September atau Oktober.

B. Keistimewaan

Meskipun berada tak jauh dari jantung Kota Yogyakarta (hanya berjarak sekitar 3 km arah barat daya Keraton Yogyakarta), “Kampung Seni” Nitripayan masih mempertahankan nilai-nilai tradisional meskipun semakin dihimpit oleh suasana modernitas dan nuansa kota besar. Nilai-nilai tradisional yang masih kental adalah rumah-rumah tradisional Jawa, terutama berjenis limasan yang bersahaja dengan berbagai variasinya, gotong-royong, dan unggah-ungguh/ tepo seliro (sopan-santun atau budaya saling menghormati), dan etika bertetangga.

Kebudayaan gotong-royong dan unggah-ungguh/ tepo seliro (sopan-santun atau budaya saling menghormati) yang semakin hari mulai semakin luntur seiring dengan perkembangan Kota Yogyakarta menuju kota besar masih terpelihara dengan kental di kampung ini. Nilai inilah, yang pelan tapi pasti, kini mulai langka ditemukan di Yogyakarta.

Kentalnya budaya unggah-ungguh/ tepo seliro ini sepertinya masih terus terpelihara meskipun banyak warga pendatang yang tinggal di “Kampung Seni” Nitiprayan. Kebudayaan asli yang berupa adat kesopanan masih bisa bersaing bahkan mendistorsikan kebudayaan yang dibawa pendatang. Kebudayaan asli ini justru bisa mempengaruhi kebudayaan pendatang yang berujung dengan semakin eksis dan terpeliharanya budaya unggah-ungguh/ tepo seliro. Inilah nilai multikulturalisme yang dapat berpadu dengan apik di sebuah kampung yang lekat dengan julukan “kampung seni”.

Lewat semangat unggah-ungguh/ tepo seliro inilah beberapa kebiasaan yang dekat dengannya juga turut serta terbawa. Sebut saja budaya gotong-royong yang tetap bisa eksis dan dipertahankan oleh para penduduk di kampung ini.

Anggapan “kampung seni” bukan semata sebagai suatu jargon tetapi merupakan bukti nyata yang absah. Selain karena Nitriprayan terkenal dengan permukiman para seniman, julukan tersebut juga datang karena penduduk kampung Nitiprayan yang semula adalah penduduk biasa, diubah 180 derajat menjadi sebuah komunitas seniman. Segala lapisan masyarakat, baik penduduk asli maupun pendatang yang semula buta akan seni kini menjadi pelaku dan penggiat seni di Bantul, Yogyakarta. Beragam acara seperti festival seni dan gelaran kebudayaan kerapkali diadakan di kampung ini.

“Kampung seni” Nitiprayan tidak hanya menyuguhkan para seniman yang memang benar-benar mengabdikan diri di jalur seni, melainkan juga menampilkan kreatifitas berkesenian dari para penduduk biasa yang sebelumnya sangat buta akan seni. Mereka inilah yang kemudian diarahkan dan dibimbing oleh para seniman untuk masuk menjadi bagian dari sebuah masyarakat seni. Hal inilah yang menjadi nilai khas tersendiri di “kampung Seni” Nitiprayan, yaitu para penduduk yang ikut terlibat dalam dunia seni, meskipun mereka pada dasarnya bukan seniman.

Hasilnya adalah sebuah suguhan berkesenian secara “jujur” dari penduduk. Dengan memanfaatkan peralatan di sekitar permukiman, mereka ini mengekspresikan jiwa seni yang mereka punya.

C. Lokasi

“Kampung Seni” Nitiprayan terletak di Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul atau sekitar 3 Km di sebelah barat daya Kraton Yogyakarta.

D. Akses

Lokasi “Kampung Seni” Nitiprayan bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun dua. Jika menggunakan sarana bis kota, “Kampung Seni” Nitiprayan bisa diakses dengan naik bus kota jalur 9 atau 11 dari terminal bus Giwangan Yogyakarta, dengan tujuan Jalan Bugisan, kemudian turun di SMKI Yogyakarta. “Kampung Seni” Nitiprayan terletak di sebelah barat SMKI Yogyakarta.

E. Harga Tiket

Pengunjung yang akan singgah di “Kampung Seni” Nitiprayan tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Berbagai galeri seni dari para seniman di Bantul, Yogyakarta banyak terdapat di kampung ini. Selain itu tersedia pula ruangan yang memberikan fasilitas berkesenian bagi para seniman maupun aktivitas harian warga Nitiprayan. Sebut saja Jogja Art Relief dan Sangkring Art Space.

Selain menyediakan ruang untuk kegiatan seni, di “Kampung Seni” Nitiprayan juga dibangun Sanggar Anak Alam (SALAM). SALAM didirikan dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan belajar bagi masyarakat luas dari semua kalangan dan rentang usia, dengan proses interaksi yang terbuka, dibangun atas dasar kebutuhan dan kesepakatan bersama serta mengutamakan lokalitas dan persahabatan dengan lingkungan, dengan harapan dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.


Teks : Tunggul Tauladan.
Foto: Koleksi Jogjatripcom
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 9856 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 3.139
     Hari ini: 11.936
     Kemarin : 16.733
     Minggu lalu : 88.374
     Bulan lalu : 337.716
     Total : 12.375.223
    Sejak 20 Mei 2010