English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Selasa, 19 Juni 2018

Tiwul

Tiwul - Photo by Fajar Kliwon

Rating : 1.7 ( 6 pemilih )

TIWUL

Alamat : Playen, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.937516,110.556736

Share




A. Selayang Pandang

Singkong atau biasa disebut dengan ketela pohon atau ubi kayu bagi sebagian masyarakat Indonesia biasa dijadikan makanan alternatif menunggu masa panen padi tiba. Namun bagi masyarakat Gunungkidul, sejak dahulu singkong telah menjadi makanan pokok yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Dengan melalui beberapa proses, singkong diolah menjadi tiwul sebagai makanan pangganti dari nasi. Tiwul memiliki rasa mirip dengan nasi. Hanya saja teksturnya lebih kecil daripada nasi dan berbentuk bulat-bulat kecil.

Cara mengolah singkong menjadi tiwul cukup sederhana. Pertama-tama, kulit ketela pohon dikupas, kemudian dijemur sampai kering sehingga menjadilah apa yang disebut gaplek. Pada zaman dahulu, gaplek tersebut ditumbuk dengan menggunakan lumpang batu hingga menjadi tepung. Pada saat ini, kebanyakan gaplek dibuat menjadi tepung dengan mesin penggilingan khusus. Tepung singkong tersebut lalu diberi sedikit air, kemudian diaduk di atas tampah hingga membentuk butiran-butiran kecil sebesar kacang hijau. Butiran-butiran kecil itu kemudian dikukus selama 20 sampai 30 menit sehingga jadilah tiwul yang siap disantap. Untuk memperoleh rasa yang lebih gurih, tiwul dikukus dengan menggunakan kayu bakar. Makanan tradisional dari singkong ini paling nikmat disantap jika masih hangat bersama dengan ikan asin dan sambal bawang.

Dewasa ini, pola konsumsi masyarakat Gunungkidul sudah beralih dari tiwul ke nasi. Perubahan pola konsumsi ini dipengaruhi oleh terjadinya urbanisasi penduduk dari desa ke kota, terutama generasi muda. Dengan adanya urbanisasi, kebiasaan masyarakat mengonsumsi tiwul lambat laun mulai berubah karena terpengaruh oleh budaya masyarakat kota yang mengonsumsi nasi. Kebiasaan mengonsumsi nasi ini berlanjut sampai ketika mereka pulang ke kampung asalnya di Gunungkidul. Selain itu, perubahan pola konsumsi ini juga tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah daerah setempat dalam mengembangkan sistem menanam padi tadah hujan sehingga masyarakat yang sudah terbius oleh nasi semakin berminat untuk menanam padi di ladang mereka.

Meskipun pola konsumsi masyarakat Gunungkidul telah berubah, namun hal tersebut tidak membuat tiwul ditinggalkan begitu saja. Tiwul yang dulu sebagai pengganti nasi, kini telah disulap menjadi penganan camilan dengan menambahkan serutan kelapa dan gula merah sehingga terasa manis dan gurih. Makanan yang selama ini dicap sebagai makanan orang desa, sekarang menjelma menjadi oleh-oleh yang banyak digemari oleh wisatawan dari luar daerah Gunungkidul.

B. Keistimewaan

Nilai istimewa pada tiwul dapat Anda temukan pada rasanya yang manis dan gurih. Selain itu, di dalam tiwul Anda juga dapat merasakan aroma gula merah yang berpadu dengan kelapa parut. Teksturnya yang mentul-mentul (bulat-bulat kecil) dan sedikit kenyal membuat makanan khas Gunungkidul ini enak dikunyah, apalagi jika masih hangat.

Seiring dengan semakin banyaknya permintaan konsumen, kini tiwul telah dimodifikasi menjadi tiwul instan yang lebih praktis, higienis, dan tahan lama tanpa bahan pengawet dan pewarna. Dengan kemasan plastik yang lebih rapi, tiwul menjadi makanan berkelas tinggi. Cara memasaknya pun sangat mudah, yaitu cukup dengan dikukus, dan bahkan ada yang tinggal diseduh air panas lalu didiamkan dalam waktu beberapa menit sudah bisa langsung disantap. Hal ini akan lebih memudahkan bagi penikmatnya karena dapat dikonsumsi kapan dan di mana saja.

Para peneliti pangan juga berhasil menciptakan tiwul instan yang dicampur dengan tepung kacang hijau, tepung kedelai, dan tepung kentang. Bahkan, tiwul instan yang dikemas dalam plastik ini telah diberi tambahan vitamin A, zat besi, dan yodium agar para penikmatnya tidak kekurangan gizi. Rasanya pun cukup bervariasi, ada rasa cokelat, manis, tawar, rasa nasi goreng, dan ada juga berkuah dengan rasa lodeh, kare ayam, dan asam manis. Beragam rasa ini ditawarkan tentu saja untuk memenuhi selera para penikmatnya.

Banyak nilai positif yang dapat Anda peroleh dari mengonsumsi tiwul. Walaupun kadar kalorinya lebih rendah daripada beras, tiwul masih memiliki keunggulan kandungan gizi yang lebih tinggi seperti mengandung lemak, kalsium, zat besi, serta vitamin A dan C. Selain itu, nasi tiwul juga dipercaya dapat mencegah penyakit maag.

C. Lokasi

Tiwul dalam bentuk kemasan sangat mudah diperoleh di sentra penjualan oleh-oleh yang terdapat di Gunungkidul. Salah satunya di kedai yang terletak di Jalan Pramuka No. 36 Wonosari. Di kedai ini tersedia tiwul dengan kemasan besek (kardus dari anyaman bambu) dan juga tiwul dalam bentuk tumpeng. Selain itu, Anda juga dapat menemukan tiwul di pasar-pasar tradisional yang ada di Gunungkidul seperti di pasar Wonosari, pasar Semanu, dan pasar Playen. Tiwul yang dijajakan di pasar-pasar tradisional tersebut dibungkus dengan daun pisang.

D. Harga

Harga tiwul cukup bervariasi, bergantung pada bentuk kemasannya. Tiwul dalam bentuk kemasan besek dijual seharga Rp.5.000 - Rp.15.000, sedangkan untuk tumpeng tiwul dijual dengan harga Rp.45.000. Khusus untuk tiwul instan dengan kemasan plastik dijual seharga Rp.5000/pak, sedangkan tiwul yang dijual di pasar-pasar tradisional dijual sekitar Rp.1000 - Rp.2.000/bungkus.


Teks: Samsuni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 14792 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.520
     Hari ini: 6.332
     Kemarin : 10.753
     Minggu lalu : 103.084
     Bulan lalu : 212.641
     Total : 14.167.107
    Sejak 20 Mei 2010