English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Jumat, 15 Desember 2017

Hutan Wanagama

Hutan Wanagama - Photo by Fajar Kliwon

Rating : 2.9 ( 7 pemilih )

HUTAN WANAGAMA

Alamat : Kecamatan Patuk/Playen, Kabupaten Gunungkidul

Koordinat GPS : -7 50' 53.00", +110 29' 0.18"

Share




A. Selayang Pandang

Hutan Wanagama merupakan sebuah kawasan hutan lindung seluas 600 hektar di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Tujuan utama dibangunnya kawasan Wanagama adalah untuk mencari model cara menanggulangi kekritisan tanah di Gunungkidul. Di samping itu, hutan ini juga difungsikan sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang gersang dan tandus. Nama Wanagama berasal dari dua kata, yakni wana yang berarti alas atau hutan, dan gama yang merupakan kependekkan dari Gadjah Mada. Hutan yang ikut serta berperan menghijaukan Gunungkidul ini, mulai dirintis pada tahun 1964 oleh Prof. Oemi Hani’in Suseno, salah satu akademisi kampus UGM. Dengan bermodal uang pribadi, guru besar peraih anugerah Kalpataru tersebut, menanami berbagai pohon di Wanagama yang pada saat itu hanya seluas 10 hektar. Mulanya, bersama seorang warga setempat, Wagiran, Prof. Oemi menanam dan merawat beberapa Pohon Murbei (Morus alba). Tanaman ini dipilih karena daunnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ulat sutera dan tidak mudah rontok.

Kemudian secara bertahap masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program itu. Mereka diberi pekerjaan untuk memetik daun murbei yang kemudian dibeli oleh pihak pengelola hutan seharga 1 ringgit (Rp 2,50) per kg. Daun tersebut digunakan sebagai pakan budidaya ulat sutera. Dari hasil penjualan kepompong itulah, modal pengembangan diperoleh. Usaha tersebut membuahkan hasil dan mendapat perhatian dari Direktorat Kehutanan, sebagai pemilik lahan. Lahan penghijauan pun diperluas menjadi 79,9 hektar. Dari waktu ke waktu, target lahan penghijauan terus diperluas dan kini luasnya mencapai 600 hektar yang terbagi dalam 9 petak.

Selain penanaman Pohon Murbei, upaya penghijauan juga dilakukan dengan teori pembelukaran. Prof. Oemi dan tim juga melakukan upaya penanaman jenis tanaman pionir sebanyak mungkin, yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro. Tanaman pionir yang didominasi jenis legum tersebut dipahami memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Di samping itu, kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.

Selain itu, ada sekitar 30 jenis burung yang menghuni Wanagama. Burung-burung ini menjadi perhatian tersendiri ketika menjadi mediator bagi penyebaran tunas-tunas cendana. Selain Pohon Murbei, Pohon Cendana juga dipilih dalam program penghijauan Wanagama. Namun, berhubung kondisi tanah di Kabupaten Gunungkidul kurang mendukung, pohon-pohon cendana yang ditanam banyak yang mati. Menurut penuturan pengelola, yang tersisa waktu itu hanya sekitar 10 pohon. Beberapa tahun kemudian, Prof. Oemi dikejutkan dengan munculnya tunas-tunas cendana baru yang tersebar tak merata. Ketika diteliti, semua itu hasil kerja burung-burung yang memakan biji-biji cendana dan membuangnya sembarangan ketika buang kotoran.

Hutan Wanagama, sebuah kawasan yang merupakan cerminan kepedulian kepada alam, potensi wisata, dan penunjang ekonomi masyarakat sekitar. Penghijauan dengan konsep pembelukaran di Hutan Wanagama ini telah diadopsi dan menjadi rujukan penghijauan bagi daerah tandus lainnya. Fakultas Kehutanan UGM sebagai pengelola Hutan Wanagama, saat ini sedang menata ulang kawasan hutan seluas 600 hektar ini agar lebih menarik sebagai obyek wisata.

B. Keistimewaan

Memasuki kawasan Hutan Wanagama kita seperti sedang berada di miniatur hutan yang berisikan banyak tanaman dari berbagai daerah. Terdapat barisan jenis pepohonan yang akan menemani perjalanan menyusuri hijaunya Wanagama. Dimulai oleh Pohon Akasia, pohon penghasil bubur kayu yang menjadi primadona banyak perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) di Indonesia. Dilanjutkan dengan Pohon Kayu Putih, tanaman yang terkenal dengan minyak atsiri yang berkhasiat untuk menghangatkan badan. Selain itu ada juga barisan Pohon Pinus (Pinus Merkusii). Deretan pohon yang banyak ditemukan di Sumatera bagian tengah ini cukup meneduhkan kala matahari bersinar dengan teriknya.

Wanagama masih memiliki banyak pepohonan, misalnya Pohon Eboni (Diospyros Celebica) dari Sulawesi, Pohon Cendana (Santalum Album), dan Pohon Murbei (Morus Alba). Sebelum memasuki kawasan Wanagama, pengunjung sudah disambut oleh suburnya ladang penduduk sekitar (Desa Kemuning, Ngleri, maupun Banaran).

Memasuki pintu gerbang kawasan Wanagama, nampak kawasan peternakan Ulat Sutera di kiri jalan. Dalam sebuah bangunan yang baru selesai direnovasi, terdapat ratusan ulat sutera dengan beberapa kepompongnya yang putih seperti kapas. Selain itu terdapat pula beragam jenis binatang unggas, kera, serta binatang reptilia. Lengkapnya, Hutan Wanagama juga telah menjadi habitat bagi lebih dari 40 jenis fauna dan tidak kurang dari 1.000 flora.

Hutan Wanagama ini, memiliki satu pohon yang membuat tempat wisata ini mendunia. Tanaman itu adalah Pohon Jati (Tectona Grandis) yang ditanam Pangeran Charles saat berkunjung ke Wanagama pada tahun 1989. Konon, terdapat hubungan unik antara pohon yang terkenal dengan sebutan Jati Londo ini dengan pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana. Saat bertinggi 1 m, pohon ini mengering berbarengan dengan pengumuman perpisahan pasangan Kerajaan Inggris tersebut. Entah apakah si Pohon Jati ikut berduka atas perceraian penanamnya.

Selain Jati Londo, Pangeran Charles juga meninggalkan rute yang menjadi favorit para pengunjung Wanagama. Rute tersebut berawal dari Wisma Cendana dan berakhir di Bukit Hell. Jalan menuju bukit itu hanya sepanjang 50 meter yang di kanan-kirinya terdapat banyak Pohon Cendana. Jati adalah salah satu jenis pohon yang paling banyak terdapat di Wanagama. Tanaman ini terkenal karena keawetan dan kekuatannya.

Suasana malam di hutan ini juga tak kalah menarik. Ketika malam mulai menggayut di sela pepohonan, kesunyian Wanagama dipecahkan oleh paduan suara jangkrik dan serangga lainnya. Meski begitu, tak sedikit pun terasa keangkerannya. Air dan listrik juga tersedia dalam jumlah yang mencukupi. Bagi yang senang tinggal menyatu dengan alam, terdapat pula bumi perkemahan.

Sebagai kawasan yang bisa dikembangkan jadi obyek wisata ekologi, Wanagama juga bisa menjadi sarana belajar untuk mengenal pepohonan. Keistimewaan tersebut tentu saja dapat dijadikan pelengkap mata rantai bagi wisatawan di Kabupaten Gunungkidul. Sebab, Hutan Wanagama dekat dengan objek wisata andalan Gunungkidul lainnya seperti Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Kukup, Gua Bribin, Wot Lemah, serta Gua Lawa.

C. Lokasi

Lokasi Hutan Wanagama terletak di empat desa di Kecamatan Patuk dan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Bila diukur dari pusat Kota Yogyakarta, Hutan Wanagama berjarak sekitar 35 km ke arah selatan.

D. Akses

Untuk mencapai Hutan Wanagama, wisatawan dapat menggunakan kendaraan umum dari terminal bus Giwangan Yogyakarta dengan mengambil jurusan Wonosari. Dengan trayek ini, pengunjung turun di Desa Gading. Pada pertigaan Desa Gading, ambil arah kanan untuk menuju ke Wanagama. Perjalanan dari Gading ke Hutan Wanagama, dilakukan dengan berjalan kaki (kecuali membawa kendaraan sendiri) karena kendaraan umum yang menuju ke lokasi ini belum ada. Bila pengunjung ingin mencoba, di pertigaan Gading tersedia ojek yang siap mengantar sampai tujuan.

E. Harga Tiket

Memasuki kawasan Hutan Wanagama ini, pengunjung dikenai tiket masuk sebesar Rp 2.000,00 dan apabila pengunjung ingin mengambil foto dikenai biaya tambahan sebesar Rp 1.000,00. (Juni 2010).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di dalam kawasan Hutan Wanagama dibangun sebuah aula atau pendopo yang sering digunakan untuk berbagai acara. Terdapat juga tempat perkemahan dengan sarana pendukung yang cukup lengkap seperti air bersih untuk MCK, listrik, dan keamanan yang terjamin.

Sementar itu, di Desa Gading ini, juga terdapat Hutan Pendidikan Wanagama I seluas 80 hektar yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan UGM. Para remaja dan mereka yang berminat mendalami masalah kehutanan akan memperoleh manfaat yang besar bilamana berwidyawisata (study-tour) ke Hutan Pendidikan ini. Di lokasi ini tersedia pula areal untuk berkemah dengan kapasitas 200 orang.


Teks: Adi Tri Pramono
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 14701 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya