English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Jumat, 15 Desember 2017

Belalang Goreng

Belalang Goreng

Rating : 3.5 ( 8 pemilih )

BELALANG GORENG

Alamat : Wonosari, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.956217,110.614071

Share




A. Selayang Pandang

Ketika mendengar kata Gunungkidul maka ingatan kita pasti akan tertuju pada sebuah daerah kabupetan di selatan Kota Yogyakarta yang gersang, tandus, dan sering kekurangan air. Memang tak dapat dipungkiri, wilayah Gunungkidul sebagian besar terdiri dari perbukitan karst sehingga permukaan tanah tidak kuat menampung air. Ketika musim kemarau tiba, daerah ini terkesan bagaikan gurun. Panas, gersang, pepohonan jati yang banyak tumbuh di ladang meranggas, dan tanah merekah di mana-mana. Namun, di balik semua itu, wilayah ini menyimpan sumber pangan yang mengandung protein tinggi, yaitu belalang kayu.

Bagi sebagian orang, belalang atau dalam bahasa Jawa disebut walang dianggap sebagai serangga untuk pakan burung atau hama yang sering merugikan petani. Tetapi di Gunungkidul, belalang kayu (Valanga nigricornis) ini menjadi primadona bagi warganya, baik sebagai penikmat maupun para pencari rejeki. Selain kaya gizi, belalang kayu merupakan sumber pendapatan yang dapat menambah pemasukan. Menurut penuturan seorang pemburu belalang Gunungkidul, Wardiono, ia lebih memilih bekerja sebagai pemburu belalang daripada menjadi buruh bangunan karena penghasilannya tidak jauh beda. Dalam sehari ia dapat meraup keuntungan berkisar antara 30 - 40 ribu rupiah.

Pada musim penghujan, belalang kayu ini banyak ditemui di pohon ketela, dan jagung. Cara menangkapnya cukup mudah yaitu dilakukan pada malam hari dengan menggunakan tangan langsung dengan bantuan alat penerang. Cara ini biasa disebut dengan istilah nyuluh. Namun, pada musim kemarau, masyarakat harus menangkapnya di siang hari dengan menggunakan galah yang diberi jaring atau lem tikus dengan campuran kapas karena belalang tersebut hinggap dan mencari makan di pucuk-pucuk daun jati dan akasia yang tumbuh di sekitar lahan pertanian.

Pada sore hari belalang hasil tangkapan warga banyak dijajakan di sejumlah ruas jalan di Gunungkidul, seperti jurusan Gading-Wonosari, Wonosari-Ponjong, Wonosari-Semanu, dan Paliyan-Trowono. Tentu saja belalang yang dijajakan di sini masih mentah dan masih hidup. Namun, bagi para pengunjung yang ingin menikmati langsung makanan khas Gunung Kidul ini tidak perlu khawatir karena sudah banyak rumah-rumah makan yang menyediakan menu belalang goreng yang sudah diolah dengan bumbu khusus sehingga rasanya menjadi lezat dan gurih. Cara pengolahannya cukup sederhana, yaitu belalang dibersihkan dari sayap, suthang (kaki bagian belakang), dan kotorannya. Setelah itu, belalang dicuci hingga bersih dan kemudian direndam selama 15 menit dengan bumbu-bumbu khusus. Setelah itu, barulah belalang bisa digoreng.

Belalang goreng ini ternyata tidak hanya digemari oleh masyarakat Gunungkidul, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah seperti Magelang, Semarang, dan Solo yang pernah berkunjung ke Gunungkidul. Tingginya minat masyarakat mengonsumsi belalang goreng juga terlihat dari banyaknya pesanan dari luar pulau Jawa seperti dari daerah Pulau Sumatera. Pesanan yang datang pun tidak tanggung-tanggung karena bisa mencapai beribu-beribu ekor. Belalang goreng juga sering dijadikan oleh-oleh masyarakat perantau Gunungkidul saat kembali ke daerah perantauan. Sebut saja Manthos, seorang penyanyi campursari terkenal asal Gunungkidul, yang setiap ke Jakarta pasti membawa oleh-oleh belalang goreng untuk tetangga, handai taulan, dan sahabat-sahabatnya. Alhasil, kuliner khas Gunung Kidul ini semakin terkenal dan penggemarnya pun semakin bertambah hingga ke berbagai daerah.

B. Keistimewaan

Belalang goreng yang merupakan makanan khas Gunung Kidul ini memiliki rasa yang berbeda tipis dengan udang goreng. Belalang goreng dengan racikan bumbu berupa tumbar, bawang putih, bawang merah, garam, dan gula merah dapat menghadirkan sensasi rasa gurih dan lezat. Selain itu, belalang goreng juga bertekstur renyah. Rasa gurih dan renyah belalang goreng diperoleh dari cara memasaknya yang terlebih dahulu digodhok atau direbus bersama bumbu-bumbunya lalu digoreng sampai kriuk-kriuk. Pengunjung yang ingin rasa pedas, bisa menambah pesanan berupa sambal belalang goreng. Belalang goreng biasanya disajikan bersama nasi putih atau sego abang (nasi merah) yang masih hangat.

Keistimewaan lain belalang goreng terletak pada kandungan gizinya. Menurut seorang dosen dari Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Isntitut Pertanian Bogor (IPB) Bogor Sutrisno Koswara, belalang kayu memiliki kadar protein antara 40 – 60%. Sedangkan menurut Kusmaryani (2005), kandungan protein pada belalang kayu mencapai 62,2% tiap 100 gramnya. Angka ini cukup tinggi dibandingkan dengan angka protein yang terkandung pada makanan protein lainnya seperti udang segar (21%), daging sapi (18,8%), daging ayam (18,2%), telur ayam (12,8%), dan susu sapi segar (3,2%). Kadar protein tersebut menjadikan belalang kayu aman untuk dikonsumsi karena tidak menimbulkan efek yang beracun atau berbahaya. Namun, bagi pengunjung yang alergi terhadap protein perlu berhati-hati untuk menyantap belalang goreng ini karena dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit.

C. Lokasi

Bagi Anda yang ingin mencicipi belalang goreng ini tidaklah begitu sulit karena sejumlah warung makan di daerah Gunung Kidul telah menyediakan menu khas daerah ini. Salah satu warung makan yang cukup terkenal dengan menu belalang gorengnya terletak di Jalan K.H. Agus Salim, Wonosari, Gunung Kidul. Anda juga dapat menemukan menu belalang goreng ini di warung-warung makan Pasar Munggi, Semanu. Tidak hanya itu, belalang goreng dalam bentuk kemasan plastik atau toples juga telah tersedia di pusat penjualan oleh-oleh, pasar-pasar tradisional, dan supermarket-supermarket di Gunung Kidul. Salah satu di antaranya adalah supermarket yang terletak sekitar 20 meter sebelah selatan Bandar Udara TNI Gading.

D. Harga

Harga satu porsi belalang goreng di warung-warung makan dijual seharga Rp. 7.000,00. Sementara itu, belalang yang masih mentah yang biasa dijajakan di pinggir-pinggir jalan ditawarkan sekitar Rp. 30.000,00 – Rp. 40.000,00 satu rentengnya, tergantung jumlah belalang setiap rentengnya. Jika dalam satu rentengnya lebih kurang 100 ekor belalang dijual seharga Rp. 30.000,00 dan jika satu rentengnya berjumlah sekitar 150 ekor belalang dijual seharga Rp. 40.000,00. Untuk belalang goreng dalam kemasan plastik dengan isi sekitar 10 ekor dijual seharga Rp. 5.000,00 sedangkan yang dikemas dalam toples dengan isi sekitar 30 ekor dijual seharga Rp. 25.000,00.

Teks: Samsuni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 15000 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya