English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Agustus 2017

Oseng-oseng Mercon

Oseng-oseng Mercon - Photo by Aris Arif Mundayat

Rating : 3 ( 2 pemilih )

OSENG-OSENG MERCON

Alamat : Jalan KH Dahlan Yogyakarta

Koordinat GPS : -7.801374,110.363243

Share




A. Selayang Pandang

Selama ini banyak orang beranggapan khasanah kuliner di Yogyakarta identik dengan citarasa yang manis dan gurih. Sebut saja misalnya gudeg, bakpia, yangko, dan geplak. Namun, anggapan ini akan segera pupus jika Anda mencoba salah satu masakan khas kota pelajar ini yang dikenal dengan nama Oseng-oseng Mercon. Sesuai dengan namanya, mercon yang berarti petasan, siapapun yang menikmati masakan ini dijamin akan merasakan sensasi rasa pedas seperti mercon yang meledak di lidah. Sensasi ini bukanlah perumpamaan yang berlebihan, mengingat salah satu bahan utama pembuatan Oseng-oseng Mercon adalah cabai rawit.

Proses penemuan resep Oseng-oseng Mercon sendiri berawal dari coba-coba yang dilakukan oleh orangtua Bu Narti. Pada saat Idul Adha, keluarga Narti menerima banyak daging kurban. Selain daging sapi, mereka juga memperoleh kulit, kikil, dan gajih yang oleh masyarakat Yogyakarta dikenal dengan nama koyoran. Merasa bingung dengan daging yang lumayan banyak, akhirnya tercetuslah ide untuk memasak bagian-bagian tersebut dengan menggunakan cabai rawit.

Saat Bu Narti membuka warung makan, Oseng-oseng Mercon menjadi menu utama yang ditawarkan kepada pengunjung. Tak disangka, rupanya pembeli justru menyukai menu yang sangat pedas ini. Oseng-oseng Mercon akhirnya menjadi menu yang popular di kalangan masyarakat yang berkantong cekak. Tentu saja hal ini dikarenakan sifat Oseng-oseng Mercon yang nglawuhi, karena sedikit Oseng-Oseng Mercon sudah cukup menjadi teman makan satu porsi besar nasi.

Nama Oseng-oseng Mercon sendiri merupakan pemberian budayawan Emha Ainun Najib. Dulu, para seniman dan budayawan yang sering makan di warung Bu Narti ini sering berkelakar bahwa oseng-oseng yang dimasak Bu Narti rasa pedasnya seperti mercon. Akhirnya nama itu pun digunakan hingga saat ini. Selain Oseng-oseng Mercon, banyak pula yang menyebutnya sebagai Oseng-Oseng Bledek (halilintar). Selain Bu Narti, saat ini sudah banyak warung tenda maupun warung makan yang juga menjadikan Oseng-oseng Mercon sebagai menu andalan mereka.

B. Keistimewaan

Sepintas lihat, tampilan Oseng-Oseng Mercon tidaklah menarik bahkan mungkin terkesan sedikit aneh. Struktur bentuknya seperti lendir bergumpal dengan irisan cabai di sana-sini. Jika didiamkan sebentar saja, maka masakan ini akan ngendal atau mengeluarkan lemak beku. Tapi Anda jangan buru-buru menyingkirkan masakan ini dari hadapan Anda. Cobalah sesuap dengan nasi putih hangat, dijamin Anda akan meneruskan makan Anda hingga suapan terakhir. Perpaduan rasa pedas dan nikmat akan segera menghilangkan semua ingatan tentang bentuknya yang aneh.

Menurut para penikmat Oseng-oseng Mercon, justru rasa pedas itulah yang membuat ketagihan. Ibarat makan sambal, sudah tahu pedas masih tetap mencobanya. Bahkan, meski berujar sudah kapok dengan menu yang membakar lidah ini, mereka justru sering mencobanya lagi dan lagi hingga menjadi penikmat masakan ini.

Selain bahan utama yang berupa kikil, gajih, daging sapi, dan cabai rawit, bumbu yang digunakan untuk memasak Oseng-oseng Mercon sama dengan bumbu yang digunakan untuk memasak tumis. Yang membedakan adalah proses mengolahnya. Biasanya, pengolahan bumbu masakan tumis dilakukan dengan digangsa (disangan/menggunakan sedikit minyak), namun saat memasak Oseng-oseng Mercon semua bumbunya digoreng dalam minyak. Selain itu, masakan ini juga tidak dibumbui dengan kecap dan merica. Hal itu bertujuan supaya rasa pedas yang berasal dari cabai tetap terjaga. Sebab, jika oseng-oseng dibumbui merica maka rasa pedas cabainya akan berubah.

Dalam meracik bahan yang digunakan untuk membuat Oseng-oseng Mercon, biasanya digunakan perbandingan 10:2. Untuk 10 kg daging, akan digunakan 2 kg cabai rawit. Dengan formula ini, rasa pedas yang dihasilkan akan berimbang. Bagi Anda yang tidak suka pedas atau sering mengalami sedikit masalah dengan pencernaan akibat rasa pedas, ada baiknya meminta penjual Oseng-oseng Mercon untuk mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Namun, bagi Anda penikmat masakan pedas, Oseng-oseng Mercon merupakan salah satu menu yang wajib Anda coba.

C. Lokasi

Saat ini, ada banyak penjual Oseng-oseng Mercon yang tersebar di berbagai penjuru Kota Yogyakarta. Ada yang menjualnya di warung tenda di pinggir jalan hingga rumah makan. Namun, Oseng-oseng Mercon yang paling terkenal di Jogja adalah Oseng-Oseng Mercon Bu Narti yang terletak di Jl. KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lesehan Oseng-oseng Mercon Bu Narti merupakan warung Oseng-oseng Mercon yang pertama kali ada di Yogyakarta dan beroperasi sejak tahun 1997.

D. Harga

Satu porsi Oseng-oseng Mercon dibandrol dengan harga Rp 6.000,00 hingga Rp 8.000,00. Harga ini sudah termasuk nasi putih. Harga yang cukup murah bukan? Segeralah bergegas.


Teks: Elisabeth Murni
Foto:
Koleksi Joghjatripcom
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 13777 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya