English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 24 Agustus 2017

Sate Klatak

Sate Klatak

Rating : 2.2 ( 10 pemilih )

SATE KLATAK

Alamat : Pleret, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.863382,110.407763

Share




A. Selayang Pandang

Keberagaman kuliner di Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya untuk dieksplorasi. Di tengah gempuran penganan impor yang terus merajalela, nyatanya hidangan khas dalam negeri tetap eksis dan memiliki tempat khusus di lidah pecinta kuliner nusantara. Salah satu dari khazanah kuliner yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah Sate. Sate pun masih dibagi-bagi lagi sesuai dengan cirikhasnya masing-masing, seperti Sate Kambing, Sate Ayam, Sate Padang, Sate Kepiting, Sate Ambal dan Sate Madura.

Dari jenis-jenis sate yang telah disebutkan di atas, ada lagi sate yang cukup unik dan hanya ada di Yogyakarta, yakni Sate Klatak. Berbeda dengan sate-sate lainnya yang biasa dimasak menggunakan bumbu yang beragam, Sate Klatak hanya dibumbui dengan garam dan dipanggang menggunakan jerusi besi. Meskipun terkesan sederhana, namun justru kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik sate tersebut. Sate Klatak ini bahkan mampu menjadi salah satu ikon wisata kuliner Yogyakarta.

Pada mulanya, warung Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran, Bantul, merupakan milik Mbah Ambyah. Saat itu warga Jejeran banyak yang memelihara kambing, sehingga tercetuslah ide dari Mbah Ambyah untuk membuat sate berbahan dasar kambing. Beliau pun memulai usahanya di bawah pohon melinjo pada tahun 1946. Setelah Mbah Ambyah meninggal, warung ini kemudian diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya.

Melihat peminat Sate Klatak yang mulai bertambah banyak, warga di sekitar Jejeran pun mulai membuka usaha yang sama, mendirikan warung Sate Klatak. Mereka tidak hanya berjualan di sekitar Pasar Jejeran, melainkan membuka warung di sepanjang Jalan Imogiri Barat. Bahkan, banyak di antara mereka yang membuat restoran dan digarap secara professional.

Sejarah mengenai penamaan Sate Klatak sendiri cukup beragam dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti mana yang benar. Ada yang mengatakan bahwa kata klatak berasal dari bunyi daging yang dipanggang. Namun, ada pula yang berujar bahwa kata klatak berasal dari bunyi buah melinjo yang jatuh di sekitar Warung Mbah Ambyah.

Saat ini, tempat yang semula adalah warung milik Mbah Ambyah telah berubah menjadi Pasar Jejeran. Generasi penerus usaha keluarga milik Mbah Ambyah tersebut tetap melanjutkan berjualan Sate Klatak di Pasar Jejeran.

B. Keistimewaan

Ketika sate-sate lainnya mengandalkan bumbu yang beragam sebagai daya tarik utamanya, maka Sate Klatak tetap bertahan hanya menggunakan garam sebagai bumbu utamanya. Namun, justru disitulah letak keunikan rasa yang membuat Sate Klatak terus dikenang oleh para penikmatnya. Bagi Anda yang baru pertama kali membeli Sate Klatak mungkin akan sedikit tertegun saat mengetahui jumlah tusukan yang ada dalam satu porsi Sate Klatak, karena satu porsi sate hanya terdiri dari dua tusuk saja. Namun, meski sate ini hanya terdiri dari dua tusuk, irisan daging yang digunakan untuk membuat sate ini terbilang cukup besar dibandingkan dengan irisan daging pada sate-sate biasa.

Tusuk yang digunakan untuk menusuk sate ini pun terbilang unik. Jika sate-sate lain ditusuk menggunakan tusuk yang terbuat dari bambu, maka tusuk Sate Klatak terbuat dari jeruji besi. Tusuk dari jeruji besi ini digunakan karena sifat besi yang merupakan penghantar panas yang baik. Sehingga irisan daging sate yang berukuran besar bisa matang dengan sempurna di bagian dalamnya. Untuk menghindari adanya karat dalam tusuk jeruji besi, penjual sate biasanya menggosok jeruji dengan pasir setelah dipakai.

Anda yang ingin melihat proses pembakaran Sate Klatak dapat duduk di lincak (kursi kecil panjang dari bambu) yang disediakan oleh penjual sate. Namun, apabila Anda ingin duduk lesehan, penjual telah menyediakan tikar. Sambil menunggu sate matang, Anda dapat bercakap-cakap dengan penjual sate atau dengan rekan-rekan Anda.

Sate Klatak yang sudah matang biasa disajikan dengan irisan tomat, mentimun, dan kol. Selain itu ada juga kuah kari yang menjadi pendamping untuk menikmati Sate Klatak. Jika Anda masih ragu dengan rasa sate yang hanya dibumbui garam, Anda dapat minta kepada penjual untuk menyediakan bumbu kecap. Menikmati seporsi Sate Klatak, dan segelas teh gula batu pada malam hari akan menjadi paduan yang sangat pas.

Lantaran keunikan bentuk, tempat, dan juga rasanya, Sate Klatak sering menjadi tempat singgah para seniman Yogyakarta untuk menghabiskan sisa malam. Salah satu seniman yang sering berkunjung adalah Butet Kertaradjasa. Selain seniman lokal, artis ibukota pun ada yang menyukai Sate Klatak, semisal Dian Sastro dan Rieke Dyah Pitaloka.

C. Lokasi

Untuk dapat menikmati Sate Klatak dari tempat asalnya, Anda dapat berkunjung ke Pasar Jejeran, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta. Akses menuju tempat itu terbilang mudah. Dari Terminal Giwangan, Anda bisa langsung menuju ke arah Selatan menyusuri Jalan Imogiri Timur. Penjual Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran biasanya mulai berdagang pada pukul 18.30 WIb hingga larut malam. Hal ini dikarenakan tempat mereka berjualan Sate Klatak , di siang harinya digunakan oleh pedagang pasar untuk berjualan. Sehingga untuk mulai menggelar dagangan Sate Klataknya, mereka harus menunggu pedagang Pasar Jejeran pulang terlebih dulu.

Jika Anda tidak sabar menunggu malam, Anda dapat mampir ke warung Sate Klatak yang ada di sepanjang Jalan Imogiri Timur. Di tempat itu banyak penjual sate yang membuka warungnya sejak pagi hingga malam. Selain itu, Anda juga bisa menikmatinya di warung Sate Klatak yang ada di daerah Purawisata, Yogyakarta.

D. Harga

Dibandingkan dengan harga sate lainnya, harga Sate Klatak yang ada di Pasar Jejeran tergolong cukup tinggi. Satu porsi yang hanya terdiri dari dua tusuk sate, penikmat harus membayar Rp 10.000,00, satu setengah porsi Rp 15.000,00 dan untuk porsi jumbo seharga Rp 20.000,00. Menurut salah seorang penjual Sate Klatak, tingginya harga sate ini dikarenakan irisan dagingnya yang besar-besar dan menggunakan daging kambing terbaik.


Teks: Elisabeth Murni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 17432 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya