English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 20 November 2017

Keraton Kasultanan Yogyakarta

Kraton Kasultanan Yogyakarta - (Photo by Aris Arif Mundayat)

Rating : 3.2 ( 41 pemilih )

KERATON KASULTANAN YOGYAKARTA

Alamat : Yogyakarta

Koordinat GPS : -7.784472,110.361671

Share




A. Selayang Pandang

Asal mula Kasultanan Yogyakarta dimulai pada pada tahun 1558 M. Pada tahun itu, Ki Ageng Pamanahan dihadiahi sebuah wilayah di Mataram oleh Sultan Pajang atas jasanya membantu Kerajaan Pajang dalam mengalahkan Arya Penangsang. Ki Ageng Pamanahan adalah putra Ki Ageng Ngenis atau cucu Ki Ageng Selo, seorang tokoh ulama besar dari Selo, Kabupaten Grobogan. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pamanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede. Selama mendiami wilayah pemberian Sultan Pajang, Ki Ageng Pamanahan tetap setia pada Sultan Pajang. Ki Ageng Pamanahan meninggal pada tahun 1584 dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Kotagede.

Sepeninggal Ki Ageng Pamanahan, Sultan Pajang kemudian mengangkat Sutawijaya, putra Ki Ageng Pamanahan sebagai penguasa baru di Mataram. Sutawijaya juga disebut Ngabei Loring Pasar karena rumahnya terletak di sebelah utara pasar. Berbeda dengan ayahnya, Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang. Ia ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan ingin menjadi raja di seluruh Pulau Jawa. Melihat sikap Sutawijaya tersebut, Kerajaan Pajang berusaha merebut kembali kekuasaan Kerajaan Pajang di Mataram. Penyerangan terhadap Mataram dilakukan pada tahun 1587. Namun, dalam penyerangan ini pasukan Pajang justru porak-poranda diterjang badai letusan Gunung Merapi sedangkan Sutawijaya dan pasukannya selamat.

Pada tahun 1588, Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan dengan bergelar Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama atau Panembahan Senopati. Panembahan Senopati memiliki arti panglima perang dan ulama pengatur kehidupan beragama. Sebagai penguat legitimasi kekuasaannya, Panembahan Senopati menetapkan bahwa Mataram mewarisi tradisi Kerajaan Pajang yang berarti Mataram berkewajiban melanjutkan tradisi penguasaan atas seluruh wilayah Pulau Jawa. Pada tahun 1601 Panembahan Senapati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Seda ing Krapyak. Pada tahun 1613, Mas Jolang wafat kemudian digantikan oleh Pangeran Arya Martapura. Tetapi karena sering sakit kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman yang juga dikenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma atau Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pada masa Sultan Agung Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pada kehidupan politik, militer, kesenian, kesusastraan, dan keagamaan. Ilmu pengetahuan seperti hukum, filsafat, dan astronomi juga dipelajari. Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Amangkurat I. Setelah wafatnya Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami kemerosotan yang luar biasa. Akar dari kemerosotan itu pada dasarnya terletak pada pertentangan dan perpecahan dalam keluarga Kerajaan Mataram sendiri yang dimanfaatkan oleh VOC. Puncak dari perpecahan itu terjadi pada tanggal 13 Februari 1755 dengan ditandai penandatanganan Perjanjian Gianti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Dalam perjanjian Gianti tersebut, dinyatakan bahwa Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senapati Ingalaga Abdul Rakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Sejak itu Pangeran Mangkubumi resmi menjadi sultan pertama di Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Para Sultan yang pernah memerintah di keraton Yogyakarta yaitu:

1. Sri Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792)
2. Sri Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810)
3. Sri Sultan Hamengku Buwana III (1810-1813)
4. Sri Sultan Hamengku Buwana IV (1814-1822)
5. Sri Sultan Hamengku Buwana V (1822-1855)
6. Sri Sultan Hamengku Buwana VI (1855-1877)
7. Sri Sultan Hamengku Buwana VII (1877-1921)
8. Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939)
9. Sri Sultan Hamengku Buwana IX (1939-1988)
10. Sri Sultan Hamengku Buwana X (1988-sekarang)

Di dalam Keraton terdapat berbagai bangunan dengan nama dan fungsinya masing-masing, pusaka-pusaka kerajaan, perpustakaan yang menyimpan naskah-naskah kuno, dan museum foto yang menyimpan puluhan foto raja-raja Yogyakarta, keluarga dan kerabatnya. Berbagai upacara tradisional masih dilaksanakan secara rutin di Keraton Yogyakarta, antara lain jamasan (memandikan) pusaka dan kereta kerajaan dan Grebeg Maulud. Sultan dan keluarganya tinggal di bagian dalam yang disebut Keraton Kilen.

B. Keistimewaan

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu istana kerajaan yang masih berfungsi sepenuhnya di antara sekian banyak kerajaan di Indonesia. Sebagai provinsi yang memiliki keistimewaan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Keraton Yogyakarta.

Secara Umum Keraton Yogyakarta adalah bagian dari mata Rantai kesinambungan pembangunan keraton-keraton di Jawa sehingga terdapat satu keterkaitan tipologi yang mengaitkan Keraton Yogyakarta dengan tata fisik keraton khas Jawa sebelumnya. Bahkan, pada skala yang lebih makro terdapat kaitan tipologi dengan istana-istana di Asia Tenggara dari kurun waktu sebelumnya.

Kesamaan tipologi ini terjadi karena latar belakang persepsi kosmologi yang sama, yakni mewarisi tradisi Hindu tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuh lapis daratan dan samudera. Pada Benua terdapat gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam. Untuk menjaga keselarasan jagad, maka lingkungan binaan pun disusun secara konsentrik. Dengan konsep replika jagad inilah, Keraton Kasultanan Yogyakarta dibangun.

Dalam tatanan ini, kedudukan titik pusat sangatlah dominan, yakni sebagai penjaga kestabilan keseluruhan tatanan. Pada skala negara tatanan terwujud dalam kota yang berpusat pada Kuthagara yang dikelilingi Negara Agung, Mancanegara dan Pesisiran pada lingkaran terluar. Dengan luas 1,3 km persegi, keraton dibagi menjadi tujuh bagian, sesuai dengan anggapan yang diwarisi dari agama Hindu, bahwa angka tujuh merupakan angka yang sempurna. Hal ini sesuai dengan prinsip kosmologi Jawa yaitu bahwa dunia terbagi dalam tiga lapisan, yaitu dunia atas, tempat bersemayamnya para dewa (supreme Being), dunia tengah tempat manusia, dan dunia bawah yang mewakili kekuatan-kekuatan jahat di alam. Dari susunan ini, dunia atas dan bawah terbagi dalam tiga bagian, sehingga lapisan dunia ini pun menjadi tujuh lapis. Ketujuh bagian (seven steps to heaven) Keraton Yogyakarta tersebut adalah:

1. Lingkungan I : Alun-alun Utara sampai Siti Hinggil Utara
2. Lingkungan II : Keben atau Kemandungan Utara
3. Lingkungan III : Sri Manganti
4. Lingkungan IV : Pusat Kraton
5. Lingkungan V : Kemagangan
6. Lingkungan VI : Kemandungan Kidul
7.
Lingkungan VII : Alun-alun Selatan sampai Sitihinggil Selatan

Pada keraton-keraton dinasti Mataram, keberadaan pusat ini terwujud dalam Bangsal Purbayeksa/Prabusuyasa. Bangsal ini merupakan persemayaman pusaka kerajaan dan tempat tinggal resmi Raja. Bangsal ini dilingkupi oleh pelataran Kedathon yang selanjutnya dilingkupi oleh pelataran Kemagangan, Kemandhungan dan Alun-alun pada lingkup terluar

Sebagaimana tersebut di atas, untuk menjaga keselarasan jagad, maka lingkungan binaan keraton disusun secara konsentrik. Lingkungan tersebut merupakan tata ruang keraton yang disusun dengan pola konsentrik, yakni terdiri dari beberapa lapisan:

  1. Lapis Terluar. Dalam lapisn ini terdapat Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan dengan segala atributnya yang terdiri dari :Alun-alun Utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pagelaran dan Pasar yang membentuk Catur Gatara Tunggal. Sedangkan Alun-alun Selatan terdiri dari Kandang Gajah Kepatihan sebagai prasarana Birokrasi dan Benteng sebagai prasarana Militer.
  2. Lapis kedua yang terdiri dari: Siti Hinggil—suatu halaman yang ditinggikan pelataran ini berada baik pada sisi utara dan selatan, Siti Hinggil Utara—terdapat bangsal Witana dan bangsal Manguntur Tangkil—tempat Sultan mengadakan upacara kenegaraan, Siti Hinggil Selatan yang digunakan untuk kepentingan sultan yang lebih privat seperti menyaksikan latihan keprajuritan hingga adu macan dengan manusia (rampogan) atau banteng. Bangian terakhir lapisan ini adalah Supit Urang / Pamengkang adalah jalan yang melingkari Siti Hinggil.
  3. Lapis ke Tiga Keraton Yogyakarta terdiri dari Pelataran Kemadhungan Utara dan Pelataran Kemandhungan Selatan. Pelataran Kemadhungan merupakan ruang transisi menuju pusat. Pada pelataran Kemadhungan Utara terdapat bangsal Pancaniti dan begitu pula di pelataran Kemandhungan Selatan, juga terdapat bangsal Kemandhungan.
  4. Lapis Ke Empat terdiri dari Pelataran Sri Manganti dengan bangsal Sri Manganti yang merupakan ruang tunggu untuk menghadap raja. Di lapisan ini juga terdapat Bangsal Trajumas yang berada di sisi utara Pelataran Kemagangan dan Bangsal Kemagangan berada di sisi selatan. Bangsal ini digunakan sebagai ruang transisi akhir sebelum ke pusat Istana
  5. Lapisan terakhir adalah Pusat Konsentrik. Di lapisan ini terdapay Pelataran Kedhaton. Di dalam Pusat konstelasi tata ruang di keraton ini terdapat susunan tata bangunan Jawa pada umumnya yang terdiri dari Tratag, Pendhopo, Peringgitan, Dalem.

Setiap pelataran tersebut dilingkupi oleh benteng yang membentuk enclosure yang cukup kuat dan antar pelataran dihubungkan oleh gerbang, sehingga ada 9 (sembilan gerbang pada 9 (sembilan) pelataran. Kesembilan gerbang tersebut adalah:

1. Gerbang Pangurakan
2. Gerbang Brajanala
3. Gerbang Srimanganti
4. Gerbang Danapratapa
5. Gerbang Kemagangan
6. Gerbang Gadung Mlathi
7. Gerbang Kemandhungan
8. Gerbang Gadhing
9
Gerbang Tarub Agung

Simbolisasi angka sembilan (9) dilihat dari jumlah pelataran dan jumlah gerbang, memiliki arti simbolik kesempuranan sebagai alegori dari sembilan lubang yang ada pada manusia. Pembangunan Keraton ini juga memiliki sumbu imajiner utara-selatan sebagai sumbu primer dan sumbu barat-timur sebagai sumbu sekunder

Dalam kehidupan keraton. Sultan adalah figur sentral, wakil Tuhan di Bumi, pemegang kuasa militer dan keagamaan (Senapati Ingaaga Nagabdul Rahman Sayidina Panatagama Kalifatullah) sehingga Sultan dianggap sakral, begitu pula semua kegiatan resmi Sultan. Oleh karena itu, setiap ruang di keraton juga memiliki tata ruang dan tingkat kesakralan tersendiri.

Selain itu, kesakralan ruang-ruang juga dapat mengindikasikan frekuensi serta intensitas kegiatan sultan pada area tersebut. Di Alun-alun, Pagelaran, dan Siti Hinggil, Sultan hadir hanya 3 kali satu tahun yaitu pada saat Pisowanan Ageng Grebeg Mulud, Sawal dan Besar, serta kesempatan yang sangat insidental dan sangat khusus, seperti pada saat Penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota/Pangeran Adipati Anom.

Di Kemandhungan kegiatan Sultan lebih intensif, Pada Pelataran ini terdapat Bangsal Pancaniti yang secara harfiah berarti (memeriksa lima). Di sini, Sultan melakukan pengadilan (khusus perkara yang ditangani Raja). Selain Sultan, bangsal ini juga digunakan oleh sebagian Abdi Dalem menunggu untuk menghadap Raja. Pelataran Srimanganti adalah tingkatan berikutnya. Pada area ini Sultan sering menerima tamu yang tidak terlalu formal dan semi formal. Di bangsal ini, Sultan Hamengkubuwana II menulis dan membacakan, buku kramat, Serat Suryaraja di hadapan para punggawa.Pelataran Kedaton merupakan pelataran yang paling dalam dan sakral. Di pusatnya terdapat rumah segala pusaka milik Karaton, Prabayeksa dan bangsal Kencana tempat Sultan bertahta memerintah sepanjang tahun. Ditempat ini Sultan menerima tamu paling penting setara Residen dan Gubernur.

C. Lokasi

Keraton Yogyakarta berada di pusat kota Yogyakarta, dengan halaman depan adalah Alun-alun Utara dan halaman belakang adalah Alun-alun Selatan.

D. Akses

Lokasi Keraton Yogyakarta yang terletak di pusat Kota Yogyakarta, menjadikan akses menuju keraton ini sangat mudah dicapai. Selain dapat menggunakan kendaraan pribadi, Keraton juga bisa diakses sebagian besar angkutan umum yang melintas di Kota Yogyakarta.

E. Harga Tiket

Tiket masuk ke bagian depan Keraton, yaitu Pagelaran, Siti Hinggil, dan sekitarnya adalah Rp. 5.000,00 sedangkan tiket masuk untuk bagian dalam Keraton melalui Keben adalah sebesar Rp. 7.000,00.

F. Akomodasi dan Fasilitas

Tempat parkir kendaraan terdapat di sekitar Pagelaran, sekitar Keben, dan Alun-alun Utara. Banyak terdapat kios penjual cinderamata di sekitar Keraton.


Teks:
Adi Tri Pramono
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 28948 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.261
     Hari ini: 2.104
     Kemarin : 16.844
     Minggu lalu : 82.866
     Bulan lalu : 320.012
     Total : 11.640.886
    Sejak 20 Mei 2010