English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 2 Agustus 2014

Makam Raja-raja Mataram di Imogiri

Makam Raja-raja  Mataram di Imogiri Yogyakarta  (Photo by Crew Jogjatrip.com)

Rating : 2.3 ( 24 pemilih )

MAKAM RAJA-RAJA MATARAM DI IMOGIRI

Alamat : Girirejo, Imogiri, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.927527,110.392764

Share



A. Selayang Pandang

Terletak di lereng perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Makam Imogiri seolah menegaskan status sosial dan politik orang-orang yang dikuburkan di tempat ini. Ya, bukit dengan + 409 tangga ini memang dikhususkan untuk makam raja dan kerabat Kerajaan Mataram Islam serta keturunannya. Bagi masyarakat Jawa, gunung atau bukit menyimbolkan status yang tinggi sekaligus merupakan upaya mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Dipilihnya bukit yang juga dinamai Pajimatan Girirejo ini memiliki cerita tersendiri. Menurut cerita masyarakat setempat, ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma sedang mencari tanah sebagai pemakaman khusus sultan dan keluarga sultan, beliau melemparkan segenggam pasir dari tanah Arab. Pasir tersebut mendarat di perbukitan Imogiri, sehingga tempat itulah yang dipilih oleh Sultan Agung. Pada tahun 1632 M, kompleks Makam Imogiri itu mulai dibangun oleh Sultan Agung dengan menunjuk seorang arsitek bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo. Tigabelas tahun kemudian, di makam ini pulalah Sultan Agung dimakamkan setelah wafat pada tahun 1645 M.

Sultan Agung sendiri dikenal sebagai penguasa terbesar pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ia adalah raja ketiga setelah Penembahan Senopati dan Penembahan Seda Krapyak. Sultan Agung memiliki nama besar karena mampu menguasai hampir seluruh tanah Jawa dan juga berani menyerang markas VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629 M, meskipun selalu gagal. Kegagalan penyerbuan ini juga menyimpan cerita misterius tentang seorang pengkhianat yang juga dikuburkan di Makam Imogiri. Dia adalah Tumenggung Endranata, salah seorang punggawa Mataram yang telah membocorkan rencana serangan Sultan Agung kepada pihak Belanda.

Akibat ulah pengkhianat itu, lumbung-lumbung padi sebagai persiapan logistik dalam perjalanan menuju Batavia dibakar oleh pasukan Belanda, sehingga pasukan Sultan Agung dapat dengan mudah dipukul mundur. Mengetahui salah satu pengikutnya berkhianat, Sultan Agung kemudian mengambil tindakan tegas dengan menghukum mati Tumenggung Endranata. Kepala sang Tumenggung lalu dipenggal, dan tubuh tanpa kepala itu kemudian ditanam di salah satu tangga di bawah pintu gerbang makam. Para peziarah akan menemukan sebuah anak tangga yang terbuat dari batu memanjang yang merupakan makam pengkhianat tersebut. Anak tangga dari batu itu berlekuk lantaran banyak orang yang telah menginjaknya. Monumen ini tentu sebuah peringatan bagi pengikut Sultan Agung supaya pengkhianatan tidak terulang lagi.

B. Keistimewaan

Mengunjungi Makam Imogiri, wisatawan dapat merasakan langsung atmosfir magis dari tempat yang dikeramatkan oleh sebagian besar masyarakat Jawa ini. Aroma kembang dan dupa menyeruak di sekitar makam, karena hampir setiap hari para abdi dalem keraton meletakkan sesajen khusus di makam raja-raja. Bahkan, menurut keterangan salah seorang juru kunci, makam Sultan Agung hingga kini selalu harum semerbak karena beliau dianggap telah mencapai tingkatan waliyullah (kekasih Allah).

Selain makam Sultan Agung, di tempat ini juga dimakamkan 23 raja keturunan Sultan Agung, termasuk dari dinasti Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta. Makam raja-raja ini terbagi ke dalam delapan kelompok, yaitu: Kasultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II); Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III); Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); Kapingsangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).

Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Yogyakarta. Pemisahan makam raja-raja keturunan Sultan Agung merupakan imbas dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) terhadap kakaknya, Paku Buwono II. Akibat perang tersebut, muncul Perjanjian Giyanti (tahun 1755 M) yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Karena makam ini dikeramatkan, maka tidak sembarang orang boleh memasuki kompleks makam. Ada beberapa persyaratan khusus yang harus dipenuhi peziarah, antara lain dilarang mengenakan alas kaki, mengenakan perhiasan (terutama emas), membawa kamera, serta harus berpakaian khas Jawa (peranakan). Untuk peziarah laki-laki mengenakan blankon, beskap, kain, sabuk, timang, dan samir, sementara untuk perempuan memakai kemben dan kain panjang. Selain itu, secara umum di area makam dan hutan di sekitar makam, para pengunjung dilarang berbuat tidak sopan, berburu, memotong pohon, mengambil kayu, serta mencabut atau merusak tanaman yang ada.

Selain berziarah, para pelancong juga dapat menyaksikan empat gentong (padhasan) yang merupakan persembahan kerajaan-kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Gentong-gentong itu diberi nama Nyai Siyem (dari Siam), Kyai Mendung (dari Rum/Turki), Kyai Danumaya (dari Aceh), serta Nyai Danumurti (dari Palembang). Air di dalam gentong tersebut konon memiliki khasiat tertentu, baik untuk kesehatan, penyembuhan, ataupun kesuksesan. Oleh sebab itu, banyak peziarah yang meminum air tersebut atau membawanya pulang.

Apabila berminat mengunjungi makam ini pada malam hari, maka datanglah pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Pada malam-malam tersebut, banyak peziarah yang melakukan ritual doa di sekitar makam, terutama pada saat tengah malam. Para peziarah ini datang dengan berbagai macam tujuan, seperti berdoa untuk kelancaran rezeki, kesuksesan karir, atau menambah ilmu kanuragan.

C. Lokasi

Makam Raja-raja Mataram Imogiri terletak di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia. Makam ini dibuka untuk umum pada hari-hari tertentu, antara lain:

  • Minggu (10.00—13.00 WIB)
  • Senin (10.00—13.00 WIB)
  • Jumat (10.00—13.00 WIB)
  • Tanggal 1 dan 8 Syawal (10.00—13.00 WIB)
  • Tanggal 10 Besar/Dzulhijah (10.00—13.00 WIB)

Pada hari-hari lain, makam ini tetap boleh dikunjungi sebatas di luar gerbang makam raja-raja. Di luar jadwal tersebut, para peziarah tidak diperbolehkan memasuki area makam raja, terkecuali peziarah tersebut telah mengantongi izin dari Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, atau kepala juru kunci.

D. Akses

Untuk menuju kompleks makam ini, pengunjung dapat menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum (bus maupun taksi) menuju arah selatan Kota Yogyakarta. Bila ingin menggunakan bus, wisatawan dapat menumpang bus jurusan Yogyakarta—Panggang atau Yogyakarta—Petoyan dari Terminal Giwangan, Yogyakarta dengan ongkos sekitar Rp 5.000,00. Setelah sekitar 30 menit perjalanan (+ 20 km), wisatawan akan sampai di Terminal Imogiri, Bantul. Dari terminal ini, pengunjung cukup berjalan kaki sekitar 250 meter untuk mencapai anak tangga pertama menuju makam. Atau, jika ingin memanfaatkan jasa ojek, wisatawan cukup membayar antara Rp 3.000,00—Rp 5.000,00 (Oktober 2008).

E. Harga Tiket

Memasuki kompleks Makam Raja-raja Imogiri tidak dikenai tiket khusus. Hanya saja, tiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu (supaya terdaftar) dan memberikan sumbangan seikhlasnya di tempat juru kunci makam. Apabila pengunjung berminat membawa air gentong yang dianggap berkhasiat juga dikenai sumbangan sukarela. Selain itu, di muka masjid, tepatnya di bawah anak tangga pertama menuju makam, juga terdapat kotak infak untuk pemeliharaan masjid.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Para peziarah atau wisatawan yang memerlukan pemandu (guide) wisata dapat menyewa jasanya di Terminal Imogiri atau di sekitar masjid. Pemandu wisata ini akan menceritakan sejarah makam serta riwayat raja-raja yang dimakamkan di tempat ini. Selain pemandu, ada juga tiga buku kecil (berupa foto-kopian) yang memuat riwayat Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Skema Makam Raja-raja Mataram Imogiri, serta riwayat Makam Raja-raja Mataram di Kotagede. Ketiga buku saku ini dijual satu paket dengan harga Rp 3.000 (Oktober 2008).

Bagi yang membutuhkan pakaian Jawa, di tempat juru kunci makam disediakan persewaan baju khusus untuk para pengunjung yang ingin memasuki kompleks makam raja, baik makam Raja-raja Yogyakarta maupun Surakarta. Setiap satu setel pakaian disewakan seharga Rp 5.000. Apabila memerlukan botol minuman kemasan kosong untuk membawa pulang air gentong/tempayan yang dianggap berkhasiat, maka peziarah cukup merogoh kocek Rp 1.000 untuk setiap botol seukuran 1,5 liter (Oktober 2008). Selain itu, kompleks makam ini telah dilengkapi beberapa fasilitas, seperti tempat ibadah (masjid) yang lengkap dengan tempat wudhu dan toiletnya serta pendopo untuk beristirahat.

Di sekitar makam, juga terdapat beberapa warung yang menjual berbagai macam makanan dan minuman seperti wedang uwoh, jadah, tempe dan tahu bacem, serta pisang rebus. Untuk oleh-oleh, disarankan untuk membeli wedang uwoh yang telah diramu dalam kemasan seharga Rp 1.000 per kemasannya (Oktober 2008). Wedang uwoh ini dikenal memiliki khasiat untuk memulihkan stamina, menghangatkan tubuh, serta mengusir masuk angin—cocok untuk diminum setelah cukup capek menaiki dan menuruni tangga makam.


Teks: Lukman Solihin
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 29683 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Gambiran No. 85 Yogyakarta 55161 - Indonesia.
Telp. 0274 8373005/ 0274 414233
Email : maharatu@maharatu.com - maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya