English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 20 November 2017

Museum Kereta Kraton Ngayogyakarta

Museum Kareta Karaton Ngayogyakarta (Photo by Tuti. S)

Rating : 2.9 ( 13 pemilih )

MUSEUM KERETA KRATON NGAYOGYAKARTA

Alamat : Keraton Yogyakarta

Koordinat GPS : -7.804796,110.362941

Share




A. Selayang Pandang

Di sekitar area Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat sebuah museum khusus yang tidak ditemui di tempat lain. Museum itu adalah Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Kereta yang menjadi koleksi museum ini bukan ketera api ataupun uap, melainkan kereta kuda milik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Kereta-kereta tersebut dulunya merupakan kendaraan utama Kasultanan Yogyakarta yang digunakan baik untuk kepentingan Keraton maupun pribadi.

Keberadaan Museum Kereta sudah dirintis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Kereta koleksi museum ini telah berusia puluhan bahkan ada yang mencapai usia ratusan tahun. Beberapa masih digunakan dalam upacara-upacara kebesaran Keraton. Adapun kereta yang tidak pernah digunakan lagi dikarenakan pertimbangan faktor usia dan sejarah yang pernah dilalui kereta-kereta tua tersebut.

Penamaan masing-masing kereta kuda dilakukan menurut dengan kepercayaan orang-orang Jawa akan adanya roh atau kekuatan pada tiap benda. Lebih dari itu, penamaan dilakukan karena kereta-kereta tersebut telah banyak berjasa dan telah dianggap sebagai pusaka keraton. Kereta-kereta milik keraton tersebut masing-masing diberi nama dan memiliki kegunaan khusus.

Mengunjungi museum Kereta Keraton Yogyakarta berarti menengok sejarah perjalanan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Kereta-kereta atau yang dalam museum disebut “Kareta” tersebut menjadi artefak dari berbagai peristiwa penting Keraton Yogykarta maupun keadaan teknologi yang dipakai oleh Keraton pada saat itu. Selain itu, kareta-kareta tersebut juga menunjukkan kerjasama diplomatik Keraton dengan dunia luar.

B. Keistimewaan

Berdasarkan bentuknya, kereta-kereta milik Keraton dibagi menjadi 3 jenis. Yang pertama adalah kereta atap terbuka dan beroda dua. Contoh dari kereta jenis ini adalah Kereta Kapolitan. Jenis kedua adalah kereta atap terbuka dan beroda empat, misalnya Kyai Jongwiyat dan semua kereta yang menggunakan nama Landower. Jenis terakhir adalah kereta atap tertutup dan beroda empat, misalnya Nyai Jimat, Kyai Garudayaksa, dan Kyai Wimanaputra.

Bentuk kereta juga membedakan fungsi dan penggunanya. Kereta jenis pertama digunakan oleh Sultan untuk kendaraan rekreasi. Jenis kedua digunakan oleh beberapa kelompok terpandang seperti para pengawal sultan, rombongan penari keraton, dan para komandan prajurit keraton. Yang ketiga adalah kereta khusus sultan dan keluarganya. Kyai Ratapralaya yang dibuat di kampung Rotowijayan adalah kereta jenazah khusus bagi Sultan yang sudah mangkat. Dalam sejarahnya, kereta ini baru digunakan dua kali.

Sebagai pusaka Keraton, kereta-kereta tesebut juga mendapat penghormatan berupa acara Jamasan. Jamasan adalah kegiatan memandikan, memberi “makan” dengan makanan berupa sesaji, dan mendoakan semua benda pusaka. Jamasan pusaka Keraton selalu jatuh pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama tiap bulan Suro (bulan pertama dalam kalender Jawa). Upacara jamasan pusaka Keraton Yogyakarta berlangsung di dua tempat, yaitu di Gedong Pusaka dan di Museum Kereta Keraton Yogyayakarta.

Pelaksanaan Jamasan pusaka di Museum kereta hanya khusus untuk kereta pusaka. Upacara Jamasan kereta pusaka dipimpin oleh sesepuh abdi dalem keraton yang bertugas menjaga museum tersebut. Kereta yang wajib dijamasi tiap tahun adalah kereta Nyai Jimat. Kereta Nyai Jimat merupakan kereta kebesaran Sultan HB I sampai dengan Sultan HB IV dianggap sebagai sesepuh kereta-kereta yang lain. Kereta buatan Belanda tahun 1750-an ini merupakan pemberian Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Secara ringkas, bila disusun berdasar tahun pembuatan atau pembeliannya, kareta-kareta tersebut dirinci sebagai berikut.

  1. Kareta Kanjeng Nyai Jimad. Kerata ini merupakan pusaka Kraton, dibuat oleh Belanda pada tahun 1750. Kereta ini adalah hadiah dari Spanyol yang pada saat itu sudah memiliki hubungan dagang dengan pihak kerajaan. Kereta ini digunakan sebagai alat transportasi sehari-hari oleh Sri Sultan HB I-III. Kereta ini ditarik oleh delapan ekor kuda. Kondisi seluruhnya masih asli. Pegas kereta ini terbuat dari kulit kerbau. Setiap tahun, pada bulan Suro (Muharram), dilakukan upacara pemandian untuk kereta ini .
  2. Kareta Mondro Juwolo. Kereta ini adalah kereta yang dipakai oleh Pangeran Dipenogoro. Catnya sudah diperbarui pada saat diadakannya Festival Kraton Nusantara. Kereta ini dibuat oleh Belanda tahun 1800 dan ditarik oleh enam ekor kuda.
  3. Kareta Kyai Manik Retno. Kereta ini dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan HB IV, tahun 1815. Kereta ini dibuat oleh Belanda. Kereta ini digunakan oleh sultan bersama dengan permaisuri. Kereta untuk pesiar ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  4. Kareta Kyai Jolodoro. Kereta ini dibuat Belanda pada tahun 1815 dan merupakan peninggalan Sri Sultan HB IV. Kereta Jolodoro adalah kareta pesiar (dari kata “Jolo” yang berarti menjaring, dan “Doro” yang berarti gadis). Pengendali atau sais berdiri di belakang. Kereta ini ditarik empat ekor kuda.
  5. Kareta Kyai Wimono Putro. Kereta ini dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VI, tepatnya tahun 1860. Digunakan pada saat upacara pengangkatan putra mahkota. Kereta ini kondisinya masih asli (warna kayu). Kereta ini ditarik oleh enam ekor kuda.
  6. Kareta Garudo Yeksa. Kereta ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1861, yaitu pada masa Sri Sultan HB VI. Kereta ini digunakan untuk penobatan seorang sultan. Kereta ini ditarik delapan ekor kuda yang sama warna dan jenis kelaminnya. Kereta ini juga disebut Kareta Kencana (kareta emas). Semua yang ada di kereta ini masih asli termasuk simbol/lambang burung garuda yang terbuat dari emas 18 karat seberat 20 kg. Lapisan emas tersebut jika digosok atau dibersihkan akan terkikis. Oleh karena itu kereta ini hanya dibersihkan menjelang saat akan digunakan saja. Konon sekitar 6-7gram emas akan hilang setiap kali digosok/dibersihkan. Mahkotanya terbuat dari kuningan dan puncaknya berbentuk seperti Tugu Monas. Konon, Soekarno memang menggunakan bentuk mahkota ini untuk membuat desain Tugu Monas. Desain kereta datang dari Sri Sultan HB I. Uniknya, apabila pintu kereta dibuka, maka akan ada tangga turun dengan sendirinya seperti yang sering dijumpai pada pintu-pintu pesawat terbang. Pengendali kuda hanya satu orang. Kereta ini masih dipakai sampai sekarang.
  7. Kareta Kyai Harsunaba. Kereta ini merupakan sarana transportasi sehari-hari dari masa Sri Sultan HBVI-VIII. Kereta ini dibeli pada tahun 1870 dan ditarik oleh empat ekor kuda.
  8. Kareta Kyai Jongwiyat. Kereta ini dibuat di Den Haag, Belanda, pada tahun 1880. Kereta ini adalah peninggalan Sri Sultan HB VII dan digunakan untuk manggala yudha atau dalam peperangan, misalnya untuk memeriksa barisan prajurit dan sebagainya. Sri Sultan HB VII adalah sultan yang paling banyak melakukan peperangan dengan Belanda. Kareta ini ditarik oleh enam ekor kuda. Pada saat Sri Sultan HB X menikahkan putrinya, kareta ini kembali digunakan. Beberapa bagian dari kareta ini sudah mengalami renovasi, misalnya warna cat yang sudah diganti menjadi kuning.
  9. Kareta Roto Biru buatan Belanda pada tahun 1901, tepatnya pada masa Sri Sultan HB VIII. Kereta ini dinamakan Roto Biru karena didominasi oleh warna biru cerah yang melapisi kereta sampai ke bagian roda-nya. Dipergunakan untuk manggala yudha bagi panglima perang. Pada saat HB X menikahkan putrinya, kareta ini digunakan untuk mengangkut besan mertua. Kareta ini ditarik oleh 4 ekor kuda.
  10. Kareta Kus Sepuluh. Kereta ini adalah kereta buatan Belanda pada tahun 1901, yaitu pada masa Sri Sultan HB VIII. Aslinya adalah kereta Landower dan bisa dipergunakan untuk pengantin. Cat aslinya yang berwarna hijau sudah diganti menjadi kuning dan dipercayai mengandung makna politis (warna salah satu parpol) pada saat dilakukan pengecatan ulang. Walaupun bisa digunakan sebagai kereta pengantin, namun pada acara pernikahan putri Sri Sultan HB X yang baru lalu kareta ini tidak dipakai oleh mempelai.
  11. Kareta Kus Gading. Kereta ini dibeli pada masa Sri Sultan HBVIII. Kereta ini buatan Belanda pada tahun 1901 dan ditarik oleh empat ekor kuda.
  12. Kyai Rejo Pawoko. Kereta ini dibuat pada tahun 1901 pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII dan diperuntukkan sebagai sarana transportasi bagi adik-adik Sultan. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda. Konon kereta ini dibeli bersamaan dengan lahirnya Bung Karno, yakni pada tahun 1901.
  13. Kareta Landower. Kareta ini dibuat oleh Belanda pada jaman pemerintahan Sri Sultan HB VIII pada tahun 1901. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  14. Kareta Landower Wisman. Kereta ini dibeli dari Belanda pada tahun 1901, yakni pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII. Kereta ini pernah direnovasi pada tahun 2003. Kereta ini digunakan sebagai sarana transportasi pada saat sultan melakukan penyuluhan pertanian. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  15. Kareta Landower. Kereta ini dibeli pada masa Sri Sultan HB VIII pada tahun 1901. Kereta ini buatan Belanda. Dahulu kereta ini sempat dipamerkan di Hotel Ambarukmo. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  16. Kareta Premili. Kareta ini dirakit di Semarang pada tahun 1925 dengan suku cadang yang didatangkan langsung dari Belanda. Kereta ini digunakan untuk menjemput penari-penari Kraton. Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda ini, pada salah satu bagian rodanya tertulis “G.Barendsi”.
  17. Kareta Kyai Kutha Kaharjo. Kereta ini Dibeli pada jaman pemerintahan Sri Sultan HB IX, dan dibuat di Berlin pada tahun 1927. Digunakan untuk mengiringi acara-acara yang diselenggarakan oleh Kraton, kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  18. Kareta Roto Praloyo. Kereta ini merupakan kareta jenazah yang dibeli pada masa Sri Sultan HB VIII pada tahun 1938. Kereta inilah yang membawa jenazah Sultan hamengkubuwono IX dari Keraton menuju Imogiri. Kereta ini ditarik oleh 8 ekor kuda.
  19. Kareta Kyai Jetayu. Kereta ini dibeli pada masa Sri Sultan HB VIII pada tahun 1931. Kereta yang diperuntukkan sebagai alat transportasi bagi putri-putri Sultan yang masih remaja ini, ditarik oleh empat ekor kuda dengan pengendali yang langsung berada di atas kuda.
  20. Kareta Kapulitin. Merupakan kareta untuk pacuan kuda/bendi. Kereta dibeli pada jaman pemerintahan Sri Sultan HB VII yang memang menggemari olah raga berkuda. Kareta ini hanya ditarik oleh seekor kuda saja.
  21. Kareta Kyai Puspoko Manik. Kareta ini dibuat di Amsterdam, Belanda. Kereta ini digunakan sebagai sarana pengiring acara-acara Kraton termasuk untuk pengiring pengantin. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.
  22. Kareta Landower Surabaya. Kareta ini sudah dipesan dari masa Sri Sultan HB VII namun baru bisa dipakai pada saat masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII. Kereta ini buatan Swiss dan digunakan sebagai sarana transportasi penyuluhan pertanian di Surabaya.
  23. Kyai Noto Puro. Kereta ini dibuat di Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII. Kereta ini digunakan untuk aktivitas dalam peperangan. Saat ini bentuk fisiknya sudah mengalami renovasi. Kereta ini ditarik oleh empat ekor kuda.

Kareta-kareta tersebut setiap tahun dibersihkan melalui ritual yang disebut Jamasan. Yang menarik, tiap kali dilaksanakan Jamasan, Kereta Nyai Jimat harus selalu ditemani oleh sebuah kereta lain. Kereta yang menemani dipilih secara bergantian tiap tahunnya. Dalam acara Jamasan itu, semua yang terlibat dalam upacara harus laki-laki dan mengenakan pakaian adat Yogyakarta lengkap dengan surjan dan blangkon. Karena unik dan hanya terjadi setahun sekali, upacara tradisional ini tentu bisa menjadi atraksi tersendiri bagi para turis.

Selain prosesi upacara, ada satu hal lagi yang unik dan menarik. Selama prosesi jamasan itu, banyak penonton yang umumnya kaum tua berdesakan di sekitar kereta pusaka. Mereka menunggu dengan sabar untuk memperoleh air bekas mencuci kereta, yang dalam bahasa setempat sering diistilahkan sebagai “ngalap berkah”. Hingga sekarang, masih banyak warga yang percaya bahwa air bekas cucian kereta berkhasiat memberikan kesuburan bagi sawah, panjang umur, serta kesehatan. Bahkan tak sedikit yang membasuh wajah dengan air bekas cucian kereta yang mereka kumpulkan dari got di sekitar tempat upacara.

C. Lokasi

Museum Kereta terletak dalam lingkungan Keraton Yogyakarta, yakni di sebelah barat daya Alun-alun Utara atau tepatnya di Jalan Rotowijayan. Museum ini secara administratif terletak di wilayah Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta, Provinsi D.I Yogyakarta

D. Akses

Akses ke museum ini cukup mudah karena berdekatan dengan keraton Yogykarta. Wisatawan hanya perlu berjalan kaki berapa meter saja menuju Museum Kereta Keraton.

E. Harga Tiket

Pada tahun 2008, harga tiket masuk Museum Kereta keraton adalah sebesar Rp. 2000,- dan turis untuk mengambil gambar Rp. 1.000,-

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Akomodasi yang disediakan oleh museum ini antara lain keberadaan pemandu wisata yang akan menjelaskan dengan baik semua nama, asal-usul, tahun pembuatan dan pemakai masing-masing kereta.


Teks: Adi Tri Pramono
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 18190 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.314
     Hari ini: 2.084
     Kemarin : 16.844
     Minggu lalu : 82.866
     Bulan lalu : 320.012
     Total : 11.640.866
    Sejak 20 Mei 2010