English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 23 September 2017

Pura Pakualaman

Gerbang Puro Pakualaman - (Photo by Aam Amitto Tistomo)

Rating : 2.9 ( 18 pemilih )

PURA PAKUALAMAN

Alamat : Pakualaman, Yogyakarta

Koordinat GPS : -7.795357,110.376177

Share




A. Selayang Pandang

Keberadaan Pura Pakulaman sebagai Istana Kadipaten tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejarah pendirian Pura Pakualaman di Yogyakarta berawal ketika Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda tahun 1808—1811 M. Untuk mempertegas kekuasaannya, Daendels kemudian mengangkat wakilnya di Kesultanan Yogyakarta. Namun, Sultan Hamengku Buwono (HB) II menentang pengangkatan tersebut. Akibatnya, pada tahun 1810 M, Daendels menurunkan Sultan HB II dan mengangkat putra mahkota sebagai raja baru bergelar Sultan HB III. Meskipun telah diturunkan dari tahta, Sultan HB II masih diperkenankan oleh Belanda tinggal di keraton dengan sebutan Sultan Sepuh. Sementara Sultan HB III yang menggantikan tahtanya disebut Sultan Raja.

Menurut sejarah, sejak penandatanganan Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 M, kekuasaan Jawa jatuh dari tangan Belanda ke tangan Inggris. Mendengar berita kekalahan Belanda, Sultan HB II (Sultan Sepuh) segera mengambil alih kembali tampuk kekuasaan dan mengembalikan posisi Sultan HB III (Sultan Raja) ke kedudukan semula sebagai putra mahkota. Pada saat itu, Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles, mengizinkan Sultan HB II untuk menduduki lagi tahta Keraton Yogyakarta. Syaratnya, pihak keraton harus mengakui Pemerintahan Inggris di Yogyakarta, membubarkan prajurit keraton, dan sebagian besar penghasilan keraton diambil alih oleh Inggris. Persyaratan yang disampaikan melalui perantara Pangeran Notokusumo, adik Sultan HB II, itu ditolak oleh Sultan HB II. Akibatnya, pada 28 Juni 1812 Keraton Yogyakarta diserbu oleh tentara Inggris dan berhasil dikuasai. Sultan HB II kemudian diasingkan ke Ambon.

Beberapa saat setelah penyerbuan, Raffles mengangkat putra mahkota sebagai sultan dengan gelar Sultan HB III. Keesokan harinya, pada 29 Juni 1812 M, Raffles menobatkan Pangeran Notokusumo sebagai Pangeran Merdika di lingkungan Keraton Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Paku Alam (PA) I atas jasa-jasanya terhadap Inggris. Kemudian, berdasarkan kontrak politik pada 17 Maret 1813 Pemerintah Inggris membantu Kanjeng PA I membangun istana yang bersifat otonom dengan nama Pura Pakualaman yang terletak di sebelah timur Keraton Yogyakarta. Selain memberi tanah di sekitar pura dan 4.000 cacah di daerah Pajang dan Bagelan, sebelah barat Kota Yogyakarta (terletak antara Sungai Progo dan Sungai Bogowonto), Pemerintah Inggris juga memberi bantuan keuangan setiap bulan untuk keperluan prajurit Pura Pakualaman.

Arsitektur bangunan Pura Pakualaman dibuat oleh KGPAA Paku Alam I yang memang ahli di bidang arsitektur, budaya, dan sastra. Posisinya yang menghadap ke selatan melambangkan penghormatan terhadap Keraton Yogyakarta. Saat ini, istana yang didirikan pada awal abad ke-19 ini menjadi kediaman Sri Paduka Paku Alam IX, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang merupakan dwi tunggal Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

B. Keistimewaan

Selain Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman merupakan salah satu pusaka budaya di Kota Yogyakarta. Bangunan Istana Pakualaman berada dalam satu kompleks seluas 5,4 hektar dan dikelilingi pagar tembok tinggi. Sebagaimana istana lainnya, Pura Pakualaman juga dilengkapi dengan alun-alun, masjid, kantor administrasi, pasar, istal (kandang kuda), dan kandang menjangan (rusa).

Sebelum memasuki Istana Pakualaman, pengunjung akan melewati Alun-alun Sewandana yang banyak ditanami pohon beringin. Gerbang Alun-alun disebut Wiworo Kusumo Winayang Reko yang berarti keselamatan, keadilan, dan kebebasan. Setelah melewati Alun-alun, pengunjung akan mendapati fasad regol (pintu moral) yang disebut Regol Danawara dengan prasasti bertanggal 7-8-1884 yang menandakan masa regol tersebut dibangun.

Di bagian dalam Pura Pakualaman terdapat taman dan sebuah pendapa bernama Bangsal Utomo Sewotomo yang terbuka untuk kunjungan masyarakat umum. Di teras pendapa terpajang seperangkat gamelan bernama Kyai Kebogiro yang dimainkan setiap hari Minggu Pon (penanggalan Jawa). Di dalam pendapa terdapat Dalem Ageng Proboyekso yang memuat kamar tidur, kamar pusaka, Bangsal Sewarengga, Gedung Maerakaca, Bangsal Parangkarsa, dan Gedung Purwaretna. Bangunan-bangunan tersebut sebagian berfungsi sebagai ruang tamu, tempat upacara, dan tempat bercengkrama sehari-hari Sri Paku Alam beserta keluarganya.

Selain pendapa, di dalam kompleks Pura Pakualaman juga terdapat perpustakaan dan museum yang dapat dikunjungi pada hari-hari tertentu. Kedua tempat ini khusus memamerkan koleksi peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Pura Pakualaman. Perpustakaan yang letaknya di sepanjang lorong sisi barat pendapa, menyimpan puluhan koleksi naskah, baik berupa babad (cerita sejarah) maupun karya sastra yang ditulis sejak masa Paku Alam I hingga Paku Alam VIII, termasuk Serat Dharma Wirayat karya Sri Paku Alam III yang sangat populer.

Museum Pakualaman terdiri dari tiga ruangan yang masing-masing berukuran 8 x 14 meter persegi dan terletak di depan pendapa sayap timur. Pada ruangan pertama terdapat daftar silsilah atau struktur keluarga, yang menerangkan bahwa KGPA Paku Alam I merupakan putra Sultan Hamengku Buwono I dan juga keturunan Raja Brawijaya V (Raja Kerajaan Majapahit). Selain daftar silsilah keluarga, di ruang ini juga menampilkan foto-foto Sri Paku Alam II hingga Sri Paku Alam VIII dalam ukuran besar. Dokumen perjanjian politik antara Inggris dan Belanda yang menandai berdirinya Pemerintahan Pakualaman juga tersimpan di ruangan ini. Atribut-atribut kerajaan juga dipajang di sini, seperti Payung Bhavad, Payung Tunggul Naga, Payung Tlacap yang menyimbolkan kebesaran sang raja, rebab Kyai Tandhasih pemberian Sri Mangkunegoro VII yang menyimbolkan awal dan akhir kehidupan, dua set kursi raja dan satu meja bundar, serta satu set Cepuri (tempat daun sirih) yang digunakan untuk penerimaan tamu.

Dalam ruangan kedua terdapat sejumlah koleksi senjata kuno, perangkat busana Raja-raja Pakualaman dan permaisuri, serta busana prajurit. Ada juga satu set tombak dan perisai yang biasa digunakan dalam tarian Bondo Yudho. Konon, tarian yang diciptakan pada masa Paku Alam V tersebut merupakan bentuk latihan perang terselubung agar tidak diketahui Pemerintah Belanda.

Wisatawan juga dapat menyaksikan koleksi kereta kuda yang ditempatkan khusus di dalam ruangan ketiga. Di dalam ruangan ini terdapat kereta bernama Kiai Manik Koemolo yang dihadiahkan Raffles kepada Paku Alam I pada tahun 1814 M. Kereta yang merupakan koleksi tertua di museum ini berukuran cukup besar, tingginya 2,3 meter, dengan panjang 3,7 meter. Kiai Manik Koemolo hanya berkapasitas dua orang, yaitu untuk Paku Alam yang bertahta dengan permaisurinya. Hingga kini, kereta tersebut tetap digunakan setiap kali ada upacara penobatan Paku Alam yang baru. Selain itu, juga ada kereta bernama Kyai Roro Kumenyar pemberian Sri Paku Buwono X. Di bagian belakang istana, wisatawan dapat menyaksikan Kantor Tentara Pakualaman dan Pohon Gandaria yang digunakan sebagai tempat meditasi sang raja.

C. Lokasi

Pura Pakualaman berlokasi di Jl. Sultan Agung, Kecamatan Pakualaman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia 55122.

D. Akses

Berkunjung ke Pura Pakualaman tidak terlalu sulit karena letaknya berada sekitar 2 km arah timur Keraton Yogyakarta dan Kawasan Malioboro. Di samping itu, pura ini juga relatif dekat dari Bandara Adisutjipto (sekitar 7 km), dari Terminal Giwangan (sekitar 5 km), dari Stasiun Lempuyangan (sekitar 3 km), dan dari Stasiun Tugu (sekitar 2 km).

Wisatawan yang berangkat dari Bandara Adisutjipto dapat menggunakan Bus Trans-Jogja (trayek 1A atau 1B) melewati Kusumanegara dan Jalan Sultan Agung. Setelah sekitar 25 menit dan membayar ongkos sekitar Rp 3.000, wisatawan dapat turun di Halte Bus Trans-Jogja depan Pura Pakualaman, kemudian jalan kaki sekitar 50 meter menuju Pura Pakualaman. Sedangkan pewisata yang berangkat dari Terminal Giwangan dapat menggunakan bus kota jalur 4 atau jalur 12 melewati Jalan Sultan Agung, kemudian turun di depan Pura Pakualaman dengan membayar ongkos sekitar Rp 2.000 (Oktober 2008).

Selain itu, jika berangkat dari Stasiun Lempuyangan, wisatawan dapat menggunakan becak atau andong menuju Pura Pakualaman dengan membayar ongkos sekitar Rp 15.000 atau menggunakan taksi dengan membayar ongkos kurang lebih sebesar Rp 20.000. Sementara pewisata yang berangkat dari Stasiun Tugu dapat menggunakan becak atau andong menuju Pura Pakualaman dengan membayar ongkos kurang lebih sebesar Rp 10.000.

E. Harga Tiket

Para pelancong yang berkunjung ke Pura Pakualaman tidak dikenai biaya sepeser pun. Istana kedua di Yogyakarta ini buka setiap hari, Senin hingga Minggu pada pukul 08.00 sampai pukul 17.00 WIB. Sedangkan untuk Museum Pakualaman buka pada hari-hari tertentu, yakni Minggu, Selasa, dan Kamis, pukul 09.00 sampai pukul 13.30 WIB.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di dalam komplek Pura Pakualaman terdapat sebuah Masjid Besar Pakualaman yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Paku Alam II. Selain itu, juga ada Stasiun Radio Star FM dan kantor-kantor unit usaha yang dijalankan oleh keluarga besar Paku Alam.


Teks: Tasyriq Hifzhillah
Foto: Koleksi Jogjatrip.com

(Data Primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 12889 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 739
     Hari ini: 2.178
     Kemarin : 9.633
     Minggu lalu : 84.721
     Bulan lalu : 379.267
     Total : 11.023.950
    Sejak 20 Mei 2010