English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Senin, 20 November 2017

Museum Affandi

Salah Satu Sudut Museum Affandi

Rating : 2.5 ( 4 pemilih )

MUSEUM AFFANDI

Alamat : jL. Laksda Adi Sucipto No. 167, Depok, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7° 46' 58.44", +110° 23' 46.09"

Share




A. Selayang Pandang

Salah satu obyek wisata minat khusus yang banyak dikunjungi wisatawan ketika melancong ke Yogyakarta adalah Museum Affandi. Museum ini mengingatkan kita bagaimana kegigihan seorang maestro lukis Indonesia bernama Affandi dalam mengembangkan dan mengangkat derajat seni lukis di Indonesia. Pelukis kesayangan presiden pertama RI, Soekarno, ini sering melakukan pameran lukisan ke berbagai penjuru dunia. Bersamaan dengan itu, lewat karya-karyanya Affandi menerima berbagai penghargaan di Asia dan Eropa, di antaranya Hadiah Perdamaian The Dag Hammarskjoeld Prize dari Italia pada tahun 1977, Bintang Maha Jasa Utama dari Pemerintah RI pada tahun 1978, dan gelar Doctor Honoris Causa dari National University of Singapure pada tahun 1977.

Dibangun secara estetis sebagai etalase untuk lukisan-lukisan Affandi, museum ini terselip di antara rerimbunan pohon kamboja, beratap menyerupai daun pisang, membujur di sisi barat Sungai Gajah Wong, dan berhadapan dengan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Empat galeri museum ini pun tak kalah unik, yakni beratap lengkung seperti daun pisang. Warnanya yang didominasi hijau dan kuning memperkuat kesan artistik bangunan museum yang didominasi bahan kayu itu.

Ihwal atap museum berbentuk daun pisang itu pun punya kisah sendiri. Konon, Affandi pernah kehujanan ketika sedang melukis di sebuah tempat. Karena tidak membawa payung atau alat lain untuk berlindung, ia memotong daun pisang dan pelepahnya untuk pelindung hujan ketika melukis. Tak dinyana, hasil lukisannya dianggap publik sebagai salah satu karya terbaiknya. Saat itulah Affandi bernazar, jika suatu saat membangun rumah, maka atapnya akan dibentuk seperti daun pisang.

Arsitektur museum ini secara keseluruhan mengingatkan sosok Affandi sebagai pelukis yang sederhana dan bersahaja. Alkisah, semasa hidup Affandi sering mengenakan sarung dan kaus putih yang kadang sudah sobek di sana-sini sembari menghisap pipa rokok kesayangannya. Tak jarang dengan pakaian seadanya tersebut, Affandi berjalan kaki menemui penjual warung kaki lima dan nongkrong bersama, sehingga tidak ada yang menduga bahwa Affandi adalah sosok pelukis kenamaan yang mempunyai reputasi tingkat dunia.

Affandi lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1907, tanpa seorang pun, tak terkecuali Affandi, yang mengetahui dengan pasti tanggal dan bulan kelahirannya. Pada umur 26 tahun, tepatnya pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Sepanjang hayatnya sebagai pelukis, Affandi melukis hampir semua subyek perupaan kehidupan manusia, binatang, dan alam, yang tertangkap matanya. Tapi subyek perupaan yang paling memikat perhatiannya, dan karena itu berulang kali muncul dalam lukisannya, adalah matahari dan potret dirinya. Dengan begitu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa lukisan potret diri (self potrait) Affandi merupakan semacam biografi visual yang memungkinkan sang pelukis mengungkapkan pemahamannya tentang dirinya sendiri. Karena itu, lukisan potret diri Affandi tidak hanya merefleksikan perkembangan dirinya, tapi juga mencerminkan seluruh perkembangan seni lukisnya. Maka menjadi bisa dimengerti jika Affandi tak kunjung bosan melukis potret dirinya, dari debutnya pada 1930-an sampai ajal menjemputnya pada 23 Mei 1990, yang memungkinkan kita mempertautkan diri dengan keberadaannya di masa lalu dan kini.

Cikal bakal museum ini adalah Galeri I seluas 314,6 meter persegi, di atas tanah 3.500 meter persegi. Bentuk bangunan dirancang sendiri oleh sang maestro dengan biaya dari hasil penjualan lukisan-lukisannya. Pembangunan Galeri I diselesaikan pada tahun 1962 dan digunakan sebagai ruang pamer karya lukis Affandi sendiri. Galeri ini diresmikan pada tahun 1974 oleh Prof. Ida Bagus Mantra yang saat itu menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Umum.

Pada tahun 1987, Presiden Soeharto berkunjung ke museum ini dan mewakili Pemerintah RI memberikan bantuan pembangunan Galeri II seluas 351,5 meter persegi. Galeri yang diresmikan pada 9 Juni 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan, ini digunakan sebagai ruang pamer lukisan karya-karya Kartika Affandi, putri Affandi, dan karya-karya pelukis kenamaan lainnya. Sedangkan Galeri III dibangun oleh Yayasan Affandi pada tahun 1999 dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Mei 2000. Galeri III didirikan untuk memenuhi permintaan terakhir Affandi sebelum meninggal yang ingin memiliki ruang penyimpanan (storage) seluruh karya-karyanya dan karya-karya pelukis kondang lain yang menjadi koleksinya. Pada tahun 2002, Galeri IV dibangun guna memamerkan lukisan-lukisan keluarga Affandi, termasuk Didit, cucu Affandi.

Meski berawal dari museum pribadi, namun dalam perkembangannya oleh Yayasan Affandi selaku pengelola, museum yang pada tahun 1988 pernah dikunjungi mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohammad ini dibuka untuk umum sebagai warisan budaya. Di samping itu, sebagai bentuk perhatian terhadap dunia pendidikan dan pariwisata, sejak tahun 1985 museum ini masuk ke dalam organisasi Barahmus (Badan Musyawarah Museum) Daerah Istimewa Yogyakarta dan pada tahun 1997 museum ini terdaftar sebagai anggota BMMI (Badan Musyawarah Museum Indonesia).

B. Keistimewaan

Mengunjungi museum Affandi, segera terpampang keindahan yang tak terkatakan. Perasaan bahagia bercampur ketakjuban adalah sensasi yang mungkin muncul ketika wisatawan menikmati koleksi lukisan museum ini. Saat ini, Museum Affandi memajang rapi sekitar 1.000-an lebih karya lukis, 300-an di antaranya adalah karya Affandi sendiri. Museum ini memiliki empat galeri, yakni Galeri I, Galeri II, Galeri III, dan Galeri IV. Masing-masing galeri memiliki arsitektur yang mirip, tapi dari segi isi dan penataan mempunyai ciri khas dan karakteristik yang berbeda-beda. Pelancong pun akan merasakan kemiripan sekaligus perbedaannya ketika memasuki masing-masing galeri tersebut.

  • Galeri I

Begitu memasuki Museum Affandi, pengunjung akan langsung mendapati Galeri I. Di dalam galeri yang berpintu asimetris ini wisatawan dapat menikmati berbagai macam lukisan Affandi berupa sketsa, lukisan cat air, pastel, dan cat minyak di atas kanvas. Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri ini adalah karya restrospektif yang mempunyai nilai kesejarahan, mulai dari awal karirnya hingga selesai. Di sini pengunjung dapat menikmati koleksi tertua yang dibuat tahun 1936 dan koleksi unggulan berjudul “Belajar Anatomi Duduk Telanjang (Potret Affandi)” dibuat tahun 1948 dan “Potret Diri Menghisap Pipa” dibuat tahun 1977.

Beberapa benda yang berhubungan dengan perjalanan hidup Affandi pun dipajang di galeri ini, seperti sepeda ontel bermerk The Raleigh (buatan 1975), mobil sedan kuno berbentuk ikan cucut merk Mitsubishi Gallant (buatan 1975), sandal jepit, kuas, ember, kain, sarung bermotif kotak-kotak, kliping berita koran, dan foto-foto kenangan Affandi, serta pipa cangklong kesayangannya. Selain itu, beberapa piagam penghargaan yang pernah diterima Affandi semasa hidupnya dan koleksi perangko PT. POS Indonesia seri gambar Affandi tahun 1997 juga turut dipamerkan.

Di galeri ini pula, pewisata dapat melihat karya Affandi berupa patung perunggu berobyek wajahnya sendiri. Ada 3 patung perunggu karya Affandi yang ditampilkan, masing-masing berjudul “Affandi dan Kartika” (terbuat dari semen, tahun 1943), “Potret Diri I” (tanah liat, 1954), dan “Potret Diri II” (tanah liat lapis semen, 1954). Ketiga patung ini merupakan karya Affandi yang tersisa dari sekian banyak patung gubahannya yang rusak, tidak selesai, dan atau hilang. Tak berlebihan jika mengatakan bahwa, menyusuri Galeri I ini serasa memasuki kehidupan Affandi puluhan tahun lampau.

  • Galeri II

Galeri yang berlokasi hanya lima meter dari Galeri I ini, sedianya diperuntukkan memamerkan lukisan-lukisan karya Kartika Affandi. Namun, dalam perkembangannya, galeri ini pun digunakan sebagai ruang pamer koleksi lukisan museum dari beberapa pelukis kondang, seperti Basuki Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli, Fajar Sidik, S. Sujoyono, Barli, Wahdi S., Bagong Kussudiarjo, Mochtar Apin, dan lain-lain. Galeri ini mempunyai 2 lantai. Lantai pertama berisi lukisan-lukisan bersifat abstrak, sedangkan lantai kedua didominasi lukisan bercorak realis.

  • Galeri III

Galeri tiga lantai ini memiliki arsitektur yang sama dengan Galeri I dan Galeri II, yaitu berbentuk kurva melingkar dengan atap berbentuk daun pisang. Lantai pertama Galeri III ini dipergunakan sebagai ruang pamer karya lukis keluarganya, seperti lukisan-lukisan terbaru karya Kartika Affandi, putri Affandi. Lukisan-lukisan itu antara lain berjudul “Apa yang Harus Kuperbuat” (Januari 1999), “Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi” (Februari 1999), “Tidak Adil” (Juni 1999), “Kembali Pada Realita Kehidupan”, Semuanya Kuserahkan Kepada-Nya” (Juli 99), dan lain-lain. Dipamerkan pula lukisan Rukmini Yusuf dan Juki Affandi, dan lukisan sulaman dari kain wol karya Maryati, istri Affandi. Lantai kedua galeri ini digunakan sebagai ruang perawatan lukisan, sedangkan di lantai dasar difungsikan untuk ruang penyimpanan koleksi.

  • Galeri IV

Galeri IV ini adalah ruang pamer berbagai lukisan karya Didit, cucu Affandi. Sebenarnya galeri ini menarik karena langit-langitnya menggunakan anyaman bambu (gedhek). Namun, ruangannya terlalu sempit, gelap, dan lembab, sehingga terkesan pengap.

C. Lokasi

Museum Affandi berlokasi di Jalan Laksda Adi Sucipto No. 167, Depok, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. Di sebelah selatan museum ini terdapat kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Di sebelah utara terdapat kampus Institut Pertanian, Universitas Sanata Dharma, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Gadjah Mada. Di sebelah timurnya terbentang Sungai Gajah Wong, sedangkan di sebelah baratnya terdapat V-Art Gallery.

D. Akses

Akses menuju Museum Affandi relatif mudah dari Bandara Adi Sucipto yang berjarak sekitar 4 km, dari Terminal Giwangan sekitar 8 km, dari Stasiun Tugu sekitar 5 km, dan dari Stasiun Lempuyangan sekitar 2 km. Bagi turis domestik atau mancanegara yang berangkat dari Bandara Adi Sucipto dapat menggunakan bus Trans-Jogja menuju Kota Yogyakarta. Setelah sekitar 15 menit dan membayar ongkos sekitar Rp 3.000 (Agustus 2008), wisatawan dapat turun di depan Museum Affandi. Sedangkan wisatawan yang berangkat dari Terminal Giwangan dapat menggunakan bus kota jalur 7 atau jalur 10, kemudian turun di depan Museum Affandi dengan membayar ongkos Rp 2.500 Bagi wisatawan yang berangkat dari Stasiun Tugu dapat menggunakan taksi menuju museum ini dengan membayar ongkos sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Sedangkan wisatawan yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan dapat menggunakan becak atau andong menuju museum ini dengan membayar ongkos sekitar Rp 10.000.

E. Harga Tiket

Pewisata yang berkunjung ke museum ini dikenai biaya berbeda-beda. Untuk wisatawan domestik dikenai biaya sebesar Rp 20.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenai biaya sebesar Rp 25.000. Bagi pewisata yang ingin memotret koleksi museum ini dikenai biaya tambahan sebesar Rp 10.000 dan pewisata yang ingin mengambil gambar menggunakan Video Shooting dikenai biaya tambahan sebesar Rp 20.000.

Museum ini buka pada hari Senin hingga Minggu, sedangkan pada hari besar tutup, kecuali sebelumnya sudah melakukan reservasi ke pengelola. Untuk hari Senin hingga Sabtu, museum buka pada pukul 09.00 sampai pukul 16.00 WIB. Sedangkan untuk hari Minggu, museum buka pada pukul 09.00 sampai pukul 13.00 WIB.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Museum Affandi bukan hanya sebuah museum yang menyajikan lukisan-lukisan monumental karya sang maestro, melainkan juga merupakan sebuah tempat di mana banyak kegiatan dihidupkan. Hal ini terlihat dari banyaknya jadwal kegiatan yang tersusun rapi untuk dilaksanakan secara profesional. Pewisata dapat mengunjungi kantor museum jika ingin mengetahui agenda kegiatan yang terjadwal di papan tulis. Kegiatan-kegiatan tersebut banyak yang berkaitan dengan aktivitas seni lukis maupun pameran. Berikut adalah daftar kegiatan yang secara rutin berlangsung di museum ini: Pameran Lukisan Tonny Holsbergen (setiap bulan Februari), Haul Almarhum Affandi (setiap tanggal 23 Mei), Pameran Sorrandu (Setiap bulan Juni hingga Juli), Pameran Tunggal Kartika Affandi (setiap bulan November).

Fasilitas pendukung lainnya yang terdapat di museum ini adalah perpustakaan, mushola, toilet, kolam renang, menara pandang, rumah panggung, gerobak, galeri pertunjukkan (indoor dan outdoor), pemandu (guide), ruang pertemuan, ruang pertunjukkan, toko suvenir, Kafe Loteng, dan Sanggar Gajah Wong.

Bagi yang penasaran ingin menonton ciri khas Affandi melukis, pengunjung dapat meminta (request) ke pengelola museum supaya memutar video/CD yang menayangkan bagaimana cara Affandi melukis dengan menggunakan media serta alat yang berbeda-beda. Selain itu, jika pengunjung mengidolakan Affandi dan menganggapnya sebagai figur yang paling berpengaruh, mungkin menjadi sebuah keharusan untuk berziarah ke makam Affandi di halaman belakang museum, bersebelahan dengan makam istrinya, Maryati, yang lebih dahulu meninggal dunia.


Teks: Tasyriq Hifzhillah
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 14284 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 1.316
     Hari ini: 2.068
     Kemarin : 16.844
     Minggu lalu : 82.866
     Bulan lalu : 320.012
     Total : 11.640.850
    Sejak 20 Mei 2010