English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Sabtu, 20 Desember 2014

Masjid Gedhe Kauman

Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta

Rating : 2.3 ( 10 pemilih )

MASJID GEDHE KAUMAN

Alamat : Kauman, Gondomanan, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS : -7.802415,110.362297

Share



A. Selayang Pandang

Keberadaan Masjid Gedhe Kauman di lingkungan keraton tak bisa dipisahkan dari kepemimpinan Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I, Susuhunan pertama Keraton Islam Ngayogyakarta Hadiningrat, menjelang akhir abad ke-18 M. Masjid yang juga disebut Masjid Agung ini menjadi penegas bahwa keraton Yogyakarta merupakan kerajaan Islam (kesultanan). Di samping itu, Masjid Gedhe Kauman secara simbolis menunjukkan bahwa keberadaan sang sultan tak hanya berperan sebagai pemimpin bagi masyarakatnya dan panglima perang (senopati ing ngalaga), tetapi juga sebagai salah satu sayidin panatagama khalifatulah (wakil Allah), pemimpin agama Islam di muka bumi. Sebab itu, beliau bergelar “Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah” atau yang disingkat dengan Hamengku Buwono.

Menilik kembali sejarah pembangunannya, masjid seluas 13.000 m2 tersebut didirikan 16 tahun pascaberdirinya Keraton Yogyakarta. Kala itu, atas prakarsa Kiai Pengulu Faqih Ibrahim Dipaningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono I kemudian mengutus Tumenggung Wiryokusumo, seorang arsitek keraton, untuk merancang sebuah masjid. Masjid ini dibangun melalui beberapa tahap, yakni (1) pembangunan bagian utama (inti) masjid, (2) pembangunan serambi masjid, dan selanjutnya (3) penambahan-penambahan bangunan pelengkap lainnya. Karena masjid ini relatif luas dan masih berada di area Kampung Kauman, maka dibuatlah pagar pembatas berupa tembok yang mengelilinginya.

Wujud Masjid Gedhe yang sekarang berbeda dari bentuk aslinya dulu. Perubahan terjadi pada serambi masjid misalnya, di mana kini telah menjadi dua kali lipat lebih luas dan lebih megah dari wujud aslinya. Bahkan, serambi masjid ini masih lebih luas dibandingkan dengan ruang utama masjid. Renovasi pada serambi masjid dilakukan karena gempa yang terjadi pada tahun 1867 yang merubuhkan serambi asli. Selain itu, lantai dasar masjid yang dulunya terbuat dari batu kali, kini telah diganti dengan marmer dari Italia.

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta. Sedari awal, Masjid Agung berfungsi sebagai tempat beribadah, pusat diselenggarakannya upacara keagamaan, pusat syiar agama, dan tempat penegakan tata-hukum keagamaan di keraton. Hingga kini, fungsi-fungsi tersebut masih berlaku di masjid ini, kendati hanya dalam lingkup yang kecil—masyarakat sekitar keraton dan Kauman.

B. Keistimewaan

Masjid Gedhe Kauman memiliki keistimewaan karena berbagai nilai yang dikandungnya, seperti sejarah, sosial, dan spiritual. Masjid ini merupakan saksi bisu peristiwa lahirnya organisasi Muhammadiyah yang dipelopori oleh Kyai Haji Achmad Dahlan di awal abad ke-20. Ketika Nyi Achmad Dahlan—isteri pencetus Muhammadiyah tersebut—tiada, beliau dimakamkan di halaman belakang masjid ini sebagai bentuk penghargaan terhadap K.H. Achmad Dahlan. Kemudian pada aspek sosial-spiritualnya, masjid ini berfungsi sebagai pusat berbagai aktivitas keagamaan. Ketika Ramadhan tiba misalnya, Masjid Gedhe sangat ramai dikunjungi orang-orang yang akan beribadah, seperti untuk salat tarawih dan beriktikaf. Tak hanya itu, ketika menyambut bulan Ramadhan ini, Masjid Gedhe selalu menyiapkan rangkaian acara dan takjilan (buka bersama) yang di tiap harinya dikunjungi hingga 600 orang. Bahkan, terdapat hari khusus yang menyajikan menu spesial, seperti gulai dan sate kambing. Selain itu, masjid ini merupakan lambang akulturasi antara Islam dengan adat-istiadat Jawa di Keraton Mataram, seperti yang dapat disaksikan pada acara Garebeg Maulid yang diadakan oleh Keraton Yogyakarta di setiap tahunnya.

Daya pikat lainnya, di samping nilai historis dan sosial-spiritual, Masjid Gedhe memiliki kekhasan pada desain arsitekturalnya. Seperti halnya masjid-masjid kuna di Jawa, rancang-bangun pada masjid ini menggunakan model atap tumpang tiga dengan mustoko. Mustoko ini menggambarkan daun kluwih dan gadha yang memiliki makna pencapaian kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia, yaitu hakekat, syari‘at, dan ma‘rifat. Selain itu, kemegahan dan keunikan arsitektur budaya Islam Jawa masjid ini tampak pada ornamen-ornamen berlapis emas. Keunikan lain yang terdapat di masjid ini adalah penyusunan batu kali putih sebagai dinding masjid tanpa menggunakan semen atau bahan perekat lain dan penggunaan kayu jati utuh yang telah berusia ratusan tahun sebagai penopang bangunan masjid.

Kompleks Masjid Gedhe sendiri terdiri dari masjid induk dengan satu ruang inti sebagai tempat untuk beribadah sholat yang dilengkapi oleh pangimaman atau mihrab, yaitu tempat imam memimpin sholat. Di samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak. Maksura merupakan tempat pengamanan raja apabila sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe. Di samping kanan mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk seperti singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga berlapis emas.

Masjid Gedhe mempunyai serambi berbentuk persegi empat yang terletak di atas susunan batu setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut dihias dengan motif pinggir awan yang dipahatkan. Ciri rancang-bangun lainnya berupa pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), serta blumbang (kolam) di tiga sisi masjid. Keunikan lain yang dimiliki masjid ini ialah gapura depan dengan bentuk semar tinandu dan sepasang bangunan pagongan (berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten) di halaman depan untuk tempat menaruh gamelan sekaten.

Berkaitan dengan acara sekaten yang berlangsung sekitar satu bulan menjelang peringatan Maulid Nabi, masjid ini menjadi tempat di mana gamelan ditabuh untuk menandai bahwa sekaten telah berada di penghujung perayaan. Inilah nilai kultural yang dikandung oleh Masjid Gedhe Kauman. Pada pagi hari di saat yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi di setiap tahunnya, pelataran Masjid Agung Kauman ini sangat ramai lantaran dipenuhi kerumunan orang yang sedang menunggu empat gunungan yang dikeluarkan Keraton Yogyakarta. Acara ini terkenal dengan sebutan Gerebeg Maulid. Adapun empat gunungan yang diperebutkan di depan Masjid Agung Kauman adalah Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, dan dua gunungan kecil.

Sambil menyelam, minum air. Begitu ungkapan yang pas ketika wisatawan berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman. Karena, di seputaran masjid, wisatawan dapat menemukan obyek-obyek wisata lainnya, seperti Museum Sonobudoyo, Alun-alun Utara Keraton, Museum Kereta Keraton, Jogja Galery, kampung Kauman, dan Keraton Yogyakarta Hadiningrat sendiri. Tidak jauh dari Masjid Agung terdapat berbagai bangunan peninggalan kolonial, seperti Benteng Vredeburg, Istana Negara (Gedung Agung), gedung Bank Indonesia, serta Bank BNI‘46, dan juga rumah-rumah toko milik warga Kauman yang sangat khas.

C. Lokasi

Masjid Gedhe Kauman terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Masjid ini masuk wilayah administrasi Kampung Kauman, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

D. Akses

Masjid Gedhe Kauman dapat dicapai dengan menggunakan beberapa pilihan transportasi, seperti becak, andong, bus, maupun taksi. Bila berada di pusat kota, Kawasan Malioboro misalnya, maka wisatawan dapat menggunakan becak atau andong wisata yang ada di sana. Wisatawan hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 10.000,00 (Oktober 2008) dan memakan waktu 10 menit saja jika naik andong atau becak, karena masjid ini hanya berjarak sekitar 1 km dari Malioboro.

Selain itu, untuk mencapai masjid tertua kedua di Yogyakarta ini, wisatawan dapat pula memilih bus atau taksi sebagai sarana lain. Trayek bus kota yang melalui masjid ini memang tidak ada, namun naiklah bus-bus kota yang melewati Bank Indonesia atau Bank BNI‘46, seperti bus jalur 4, 12, dan 15, dan turunlah di situ. Dari sini, wisatawan hanya perlu berjalan sekitar 100 meter. Menggunakan bus kota itu, wisatawan hanya perlu membayar Rp 2.000 (Oktober 2008). Jika taksi yang dipilih, maka wisatawan dapat turun di depan gapura Masjid Gedhe Kauman. Hanya saja, biaya yang dikeluarkan lebih banyak, yakni berkisar Rp 10.000—Rp 15.000 kalau berangkat dari pusat kota.

E. Harga Tiket

Di sini, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, jika pengunjung ingin berinfak, dapat menyisihkan sedikit uangnya di kotak-kotak yang disediakan di beberapa sudut masjid.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat memilih apakah ingin didampingi seorang pemandu atau tidak. Sang pemandu akan menemani serta menjelaskan secara ringkas berbagai hal tentang Masjid Gedhe Kauman ini. Sang pemandu ini adalah seorang takmir masjid.

Fasilitas dan kemudahan lain ketika berada di Masjid Gedhe Kauman ialah wisatawan tidak akan mengalami kesulitan jika memerlukan sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan perut maupun pelepas dahaga. Di depan masjid, banyak berjejer pedagang kaki lima dan asongan yang menjajakan berbagai makanan dan minuman. Bila ingin mencari masakan khas Jogja, berjalan kakilah ke arah timur ke daerah Wijilan, di daerah tersebut terdapat warung-warung gudheg khas Jogja. Atau, ke arah Pasar Ngasem (arah selatan) di mana pelacong dapat menemukan berbagai menu, seperti soto, bakso, sate, dan sebagainya. Di sebelah selatan masjid, sekitar 100 meter, terdapat sebuah restoran dengan nuansa rumah bangsawan Jawa yang menyajikan berbagai masakan khas Jawa dan Barat. Suasana di rumah makan ini akan terasa lebih romantik pada malam hari.

Di samping itu, karena letaknya di Kampung Kauman, maka wisatawan dapat mencari berbagai macam oleh-oleh dan suvenir berupa pakaian maupun beragam kerajinan yang mereka tampilkan dalam etalase-etalase tokonya.

 

Teks: Khidir Marsanto
Foto: koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)



Dibaca : 9973 kali.

Jika Anda dari luar Yogyakarta, dan ingin mengunjungi tempat ini dengan jasa travel biro,
silakan hubungi:

Maharatu Tour and Travel

Jl. Gambiran No. 85 Yogyakarta 55161 - Indonesia.
Telp. 0274 8373005/ 0274 414233
Email : maharatu@maharatu.com - maharatu257@yahoo.com
Website : www.maharatu.com

Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya