English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Kamis, 21 Juni 2018

Lampah Bisu Mubeng Beteng

Photo by Ricky Ditriyan

Rating : 1 ( 1 pemilih )

LAMPAH BISU MUBENG BETENG

Alamat :

Koordinat GPS :

Share




A. Selayang Pandang

Yogyakarta, kota istimewa dengan sejuta pesona. Di kota ini, budaya lokal dan budaya global berbaur menjadi satu dan menciptakan harmoni tersendiri. Di Yogyakarta, semua mendapat tempat dan porsi yang sama untuk terus hidup dan berkembang. Salah satu dari sekian banyak tradisi yang masih berkembang di Yogyakarta adalah Ritual Lampah Bisu Mubeng Beteng. Ritual ini rutin dilaksanakan setiap malam 1 sura (kalender Jawa), sebagai ajang untuk refleksi diri di depan Sang Pencipta.

Ritual Lampah Bisu Mubeng Benteng ini bukan tradisi yang diciptakan oleh keraton, melainkan memang sudah tradisi asli masyarakat Jawa yang berkembang sejak abad ke-6 Sebelum muncul kerajaan Mataram – Hindu. Tradisi ini dikenal dengan nama muser atau munjer yang berarti mengelilingi pusat. Pusat yang dimaksudkan adalah pusat wilayah desa, ketika perdesaan berkembang menjadi kerajaan muser pun berubah menjadi tradisi mengelilingi wilayah pusat kerajaan.

Tradisi mubeng benteng kemudian dilanjutkan pada masa Kerajaan Mataram (Kotagede). Kala itu prajurit ditugaskan untuk berjaga dan mengelilingi benteng guna menjaga keraton dari serangan musuh. Kemudian setelah kerajaan membangun parit di sekeliling benteng, tugas keliling dialihkan kepada abdi dalem keraton. Dalam menjalankan tugasnya, para abdi dalem ini diam membisu sambil membaca doa-doa di dalam hati agar diberi keselamatan. Hal inilah yang kemudian dilakukan hingga saat ini. Setiap malam 1 Sura, abdi dalem keraton dan ribuan warga turut serta berjalan mengelilingi benteng keraton Yogyakarta tanpa mengucapkan sepatah katapun sebagai bentuk laku tirakat.

B. Keistimewaan

Ritual Lampah Bisu Mubeng Beteng merupakan acara yang terbuka bagi siapa saja. Anda tak perlu mendaftar, tak perlu menggunakan pakaian pranakan lengkap seperti abdi dalem, dan tak perlu melakukan pantangan ini dan itu. Jika tertarik untuk bergabung, Anda cukup datang ke Pelataran Keben Keraton pada malam 1 Sura yang merupakan tahun baru dalam kalender Jawa dan silahkan mengikuti rombongan abdi dalem yang akan melakukan Lampah Bisu Mubeng Beteng.

Lampah Bisu akan dimulai pada pukul 00.01 WIB, selepas bunyi lonceng Kyai Brajanala yang terletak di Regol Keben berdenting sebanyak 12 kali sebagai tanda pergantian hari. Meski prosesi jalan kaki mengelilingi beteng baru dimulai dini hari, biasanya sejak pukul 20.00 WIB masyarakat sudah berduyun-duyun memadari pelataran Keben. Kemudian pada pukul 22.00 WIB akan ada semacam prosesi dan persiapan yang dilakukan oleh abdi dalem guna mempersiapkan jalannya acara.

Setelah lonceng berbunyi, abdi dalem akan memulai jalan kaki keluar dari Regol Keben, menuju rute yang telah ditentukan yakni mengitari benteng. Biasanya abdi dalem akan membawa bendera dan panji-panji Keraton Yogyakarta, teplok (lampu) dan kemenyan. Mereka akan berada di barisan terdepan, kemudian baru diikuti oleh masyarakat. Selama berjalan kaki mengitari benteng keraton sejauh kurang lebih 5 km, peserta tidak boleh berbicara, makan, maupun merokok. Mereka harus berjalan sambil berdiam diri, merefleksikan apa yang telah dilakukan pada satu tahun ke belakang dan berdoa untuk memohon kebaikan di tahun-tahun mendatang.

Prosesi budaya ini biasanya akan berakhir di Alun-alun Utara, kemudian kembali lagi ke Regol Keben. Setelah itu masyarakat dapat kembali pulang ke rumahnya masing-masing secara tertib. Meski hanya berupa jalan kaki di malam hari mengitari beteng, acara ini biasanya menyedot perhatian banyak warga, baik warga yang tertarik ingin bergabung maupun warga yang penasaran hanya ingin sekadar menyaksikan ritual ini. Meski acara ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman dahulu, masyarakat masih tetap antusias untuk mengikuti ritual ini setiap tahunnya.

C. Lokasi

Peserta Lampah Bisu akan memulai berjalan kaki dari Keben Keraton Yogyakarta, kemudian akan mengitari beteng keraton. Adapun rute yang ditempuh adalah sebagai berikut: Keben – Jalan Rotowijayan – Jalan Kauman – Jalan Agus Salim – Jalan Wahid Hasyim – Suryowijayan – Pojok Beteng Kulon – Jalan Letjen MT Haryono – Jalan Mayjen Sutoyo – Pojok Beteng Wetan – Jalan Brigjen Katamso – Jalan Ibu Ruswo – Alun-alun Utara.

D. Akses

Jalan tempat dilangsungkannya Lampah Bisu Mubeng Beteng terletak di pusat Kota Yogyakarta sehingga mudah dijangkau. Hanya saja, berhubung ritual ini dilaksanakan dini hari maka sudah tidak ada angkutan umum yang beroperasi, yang ada tinggal taksi maupun becak. Bagi wisatawan yang menginap di seputaran Malioboro dapat berjalan kaki menuju Alun-alun Utara untuk menyaksikan upacara ini.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang ingin melihat jalannya prosesi Lampah Bisu Mubeng Beteng tidak akan dikenai biaya apapun, kecuali biaya parkir bagi wisatawan yang membawa kendaraan.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Wisatawan yang ingin menyaksikan ritual adat ini tak perlu memusingkan masalah penginapan, sebab di sekitar lingkungan Kraton dan sepanjang jalan yang menjadi rute Lampah Bisu Mubeng Beteng terdapat banyak penginapan baik hotel berbintang maupun losmen. Jika sesuai mengikuti prosesi ini Anda merasa lapar, maka Anda dapat mampir ke warung-warung tenda maupun angkringan dan warung gudeg di seputaran keraton yang buka hingga dini hari.


Teks: Elisabeth Murni
Foto: Koleksi Jogjatrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 5891 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 3.071
     Hari ini: 15.907
     Kemarin : 17.338
     Minggu lalu : 103.084
     Bulan lalu : 212.641
     Total : 14.194.020
    Sejak 20 Mei 2010