English Version | Bahasa Indonesia
Daftar | Masuk Jumat, 24 November 2017

Pasar Klithikan Kuncen

Pasar Klithikan Kuncen

Rating : 2.9 ( 16 pemilih )

PASAR KLITHIKAN KUNCEN

Alamat : Jl. HOS Cokroaminoto 34 Kuncen, Wirobrajan, Yogyakarta

Koordinat GPS : -7° 47' 43.75", +110° 21' 10.98"

Share




A. Selayang Pandang

Anda tentu akrab dengan pasar barang bekas. Pasar semacam ini hampir selalu ada di setiap kota di Indonesia, tak terkecuali kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pasar ini ada karena ternyata banyak orang yang gemar memburu barang-barang bekas yang dianggap ?antik?. Motivasi dari kegemaran hunting di pasar ini karena mereka hobi mengoleksi barang-barang langka dan kuno atau sekadar ingin mempercantik ruangan dengan hiasan benda antik.

Di Yogyakarta, hasrat orang-orang yang hobi dengan barang bekas, kuno, serta antik tersebut diwakili oleh keberadaan Pasar Klithikan di daerah Pakuncen (biasa disebut Kuncen), Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasar Klithikan Pakuncen (PKP) merupakan pasar yang didesain dan dikelola secara khusus oleh Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai tempat para penjaja beragam barang bekas dan antik. Pasar ini direka untuk menjual-belikan barang-barang bekas. Di tempat ini, siapapun bisa menjadi penjual sekaligus pembeli. Para pedagang yang kini berada di Pasar Klithikan Pakuncen tersebut mulanya berada di sepanjang Jalan Mangkubumi (selatan Tugu pal putih), Jalan Asem Gede, Alun-alun Selatan, dan sebagian di sekitar Taman Budaya Yogyakarta.

Bila menilik dari sejarahnya, tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali pedagang barang-barang bekas ini ada, namun banyak yang menduga bahwa pasar ini muncul di sekitar 1960-an tatkala ekonomi Indonesia terpuruk. Walau telah pulih dari keterpurukan ekonomi, keberadaan pasar ini terlanjur menjadi tradisi bagi warga Jogja, sehingga ia bertahan dalam bentuknya yang ?asli? hingga menjelang tahun 2000. Wujud asli Pasar Klithikan adalah pasar yang dahulu terkenal dengan nama pasar senthir, atau pasar yang baru buka setelah jam 8 malam dan berakhir menjelang tengah malam. Disebut pasar senthir karena para penjual berada di halaman toko-toko yang telah tutup dan biasanya gelap. Mereka menggelar barang dagangannya dengan lapak beralas kain, terpal plastik, atau tikar seadanya dengan senthir atau lampu teplok (lampu minyak) sebagai penerang.

Kala itu, dengan penerangan dan penyajian ala kadarnya, ditambah karakter pengunjung Pasar Senthir yang senang mencari barang idaman dengan cara kasak-kusuk, maka pasar ini pun disebut Pasar Klithikan. Ada dua pendapat mengenai makna nama ?klithikan? ini. Pertama, Prawiroatmojo (dalam Taniardi, 2009) mengatakan bahwa asal muasal nama ?klithik? (Jawa) berarti suara ?klithik? yang timbul dari uang logam (koin) atau benda-benda yang terbuat dari logam berukuran kecil yang jatuh. Kedua, Partaatmadja (dalam Taniardi, 2009) memaknai ?klithik? dari asal kata ?klithih? (Jawa), yakni mencari sesuatu hingga ke mana-mana.

Dalam perkembangannya, Pasar Klithikan yang telah menjadi tradisi dan dianggap sebagai salah satu potensi wisata di Yogyakarta, ini ditetapkan sebagai salah satu aktivitas warisan budaya yang pantas dijaga keutuhannya. Untuk itu pihak Balai Arkeologi Yogyakarta bersama Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya merumuskan model pelestarian dengan jalan menerapkan sistem manajemen pelestarian warisan cagar budaya dari UNESCO (Taniardi, 2009). Akhirnya, demi lestarinya pasar barang bekas beserta aktivitasnya ini, pada 11 November 2007 para pedagang barang bekas yang tersebar di berbagai tempat di Yogyakarta direlokasi ke Pasar Klithikan Pakuncen.

B. Keistimewaan

Layaknya sebuah pasar, Pasar Klithikan Pakuncen (PKP) selalu dipenuhi pengunjung. Berdesak-desakan orang berlalu-lalang dan suara riuh-rendah orang tawar-menawar dalam bahasa Jawa logat Jogja adalah pemandangan lumrah yang dapat Anda jumpai di sana. Tak jarang, tawar-menawar bisa berlangsung lama dan membuat peminat barang harus bolak-balik untuk meluluhkan hati penjaja agar rela melepas barang yang diinginkan dengan harga tertentu.

Sebuah obrolan menarik tentang barang tertentu yang diinginkan seorang pembeli dengan salah satu penjual tak jarang disahuti oleh para pembeli lain, sehingga terjadi semacam arisan di tengah-tengah pasar . Suara gelak tawa dan umpatan-umpatan kecil menjadi sesuatu yang turut menghidupkan suasana Pasar Klithikan. Namun, justru suasana seperti inilah yang menjadi ciri khas pasar barang bekas yang juga tempat wisata belanja ini.

Bangunan Pasar Klithikan Pakuncen ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama dibagi dalam zoning (kapling) A1, B1, B2, C1, C2, dan D1. Lantai ini merupakan pusat dari PKP sendiri, dan tiap kapling punya karakteristik barang dagangan yang berbeda-beda. Di lantai ini, wisatawan dapat memburu barang-barang mulai dari onderdil motor atau mobil bekas, sepeda onthel, barang-barang kuno, hingga pakaian (baju, celana, tas, topi, ikat pinggang, dan sepatu). Sementara, pada lantai dua atau zoning A2 merupakan kawasan penjual dengan barang dagangan khusus alat-alat elektronik, seperti telepon seluler bekas, radio lawas, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa hanya di blok pakaian yang menyajikan barang-barang baru. Selebihnya, semua kapling menawarkan barang-barang second-hand.

Sejauh pengamatan Taniardi (2009), kemenarikan dari Pasar Klithikan Pakuncen (PKP) ini ialah tatkala kita dapat menjumpai barang-barang kuno yang sudah jarang ditemui di sekitar kita. Misalnya saja aneka uang kuno, lampu-lampu kuno, seterika arang, dan pernak-pernik langka lainnya. Bahkan, pernah ada yang menemukan satu set papan catur dengan bidak kayu berukirkan wayang Jawa dengan harga lebih dari satu juta rupiah. Biasanya, semakin tua, unik serta sulit dicari, suatu barang akan semakin memiliki harga jual yang tinggi. Barang dagangan yang lebih dari sekedar bekas itulah yang menjadi daya tarik pasar ini, sehingga selalu ramai dikunjungi. Walaupun tidak selalu ada barang yang dicari, alias pengunjung perlu mengandalkan keberuntungan dan sedikit kejelian dalam berburu barang bekas dan langka, pengalaman di Pasar Klithikan layak dicoba.

C. Lokasi

Pasar Klithikan Kuncen terletak di Jalan H.O.S Cokroaminoto, Kecamatan Kuncen, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

D. Akses

Bila Anda berada di pusat kota, Malioboro atau Keraton Yogyakarta, maka naiklah bus kota Jalur 12. Bus jalur ini akan membawa Anda ke Jalan H.O.S Cokroaminoto, lokasi Pasar Klithikan dengan tarif Rp2.500,- (Juli, 2009). Untuk kendaraan umum lainnya, Anda bisa menggunakan becak, andong wisata, maupun taksi. Dari pusat kota Yogyakarta ini, hanya memerlukan 10 menit perjalanan.

E. Harga Tiket

Berkunjung ke Pasar Klithikan ini, Anda tidak dipungut biaya apapun. Kecuali, bila Anda yang membawa kendaraan pribadi akan dikenakan retribusi untuk parkir sebesar Rp 1.000,- untuk sepeda motor dan Rp 1.500,- untuk mobil.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Salah satu fasilitas bagi pengunjung yang ditawarkan dalam Pasar Klithikan ini adalah pos informasi pasar. Dengan adanya pos ini, maka Anda tidak akan menemui kesulitan ketika menelusuri barang yang ingin Anda cari, paling tidak lokasi para pedagangnya.

Tak hanya mendapat informasi, jika Anda membelanjakan uang dalam jumlah tertentu, maka Anda dapat menukarkan bukti pembayaran dengan kupon undian di pos itu. Pengelola Pasar Klithikan memang kerap menyelenggarakan door prize yang diundi dalam periode tertentu. Sebagai ruang publik, pasar ini dilengkapi dengan kamar kecil (toilet) yang bersih, tempat parkir yang memadai, mushola, serta kafetaria.


Teks: Khidir Marsanto P.
Foto: Koleksi JogjaTrip.com
(Data primer dan berbagai sumber)


Dibaca : 23076 kali.


Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola obyek wisata setempat.





Obyek lainnya

OBYEK WISATA

  • Pengunjung Online

           Online: 712
     Hari ini: 561
     Kemarin : 9.713
     Minggu lalu : 68.041
     Bulan lalu : 320.012
     Total : 11.682.865
    Sejak 20 Mei 2010